Di sisi lain, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti sejumlah faktor internal yang menjadi momok utama bagi pelemahan rupiah di saat mata uang negara tetangga bergerak menghijau.
Isu pertama yang dicermati adalah masalah defisit anggaran, di mana pengeluaran belanja negara melebihi pendapatan yang diterima sehingga penurunan harga minyak dunia saat ini dinilai belum mampu mengangkat sentimen positif untuk mendongkrak rupiah.
Ibrahim juga menyebutkan pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai kebijakan ekspor komoditas melalui satu pintu lewat Danantara menuai kontra dari berbagai pihak.
"Kemudian yang ketiga, ya tentang kebijakan-kebijakan yang kurang pro ya terhadap pasar. Ya ini yang membuat kemungkinan besar rupiah ini masih akan terus mengalami pelemahan," paparnya.