Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Prabowo Beri BBM Harga Khusus Rp15 Ribu buat Nelayan hingga 200 GT

Prabowo Beri BBM Harga Khusus Rp15 Ribu buat Nelayan hingga 200 GT
Rapat terbatas (ratas) Kabinet di kediaman Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Jawa Barat. (dok. Sekretariat Presiden)
Intinya Sih
  • Presiden Prabowo menyetujui pemberian BBM harga khusus Rp15 ribu per liter bagi nelayan dengan kapal 30–200 GT untuk mendukung aktivitas penangkapan ikan.
  • Pemerintah menanggung selisih harga sekitar Rp3.600 per liter menggunakan dana BPDP, bukan APBN, dengan kuota 400 ribu ton selama enam bulan ke depan.
  • Kementerian ESDM akan menerbitkan surat keputusan agar kebijakan ini segera berlaku dan memastikan distribusi BBM tepat sasaran melalui koordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto menyetujui pemberian bahan bakar minyak (BBM) dengan harga khusus untuk nelayan dengan kapal berukuran mulai dari 30 gross ton (GT) hingga 200 GT.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto usai rapat terbatas di kediaman Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor.

“Karena pengusaha nelayan ini perlu diberikan harga kekhususan, tadi dibahas bahwa harga yang disepakati adalah di harga Rp15 ribu per liter,” kata Airlangga dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.

1. Kategori penerima BBM khusus nelayan diperluas

IMG-20260707-WA0013.jpg
Aktivitas nelayan di Pulau Pasaran, Kota Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Sebelumnya, pemerintah menyediakan BBM jenis solar dengan harga Rp6.800 per liter khusus untuk nelayan dengan kepemilikan kapal di bawah 30 GT.

Dengan keputusan terbaru, maka kategori nelayan penerima BBM dengan harga khusus diperluas.

2. Pemerintah berikan subsidi Rp3.600 per liter dari dana BPDP, bukan APBN

IMG_7935.jpeg
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Dok Kemenko Perekonomian

Sebelumnya harga BBM non-subsidi sempat melonjak hingga Rp21.300 per liter. Airlangga menambahkan, harga BBM non-subsidi berdasarkan harga rata-rata produksi solar di dalam negeri dapat dipatok pada angka Rp18.600 per liter.

Dengan demikian, selisih dukungan sebesar sekitar Rp3.600 per liter akan dibiayai melalui dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), bukan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Oleh karena itu, Pak Menteri ESDM akan membuat, mengeluarkan, regulasi terkait dengan subsidi tersebut, yang besarnya subsidi kira-kira Rp3.600 itu akan dibiayai oleh BPDP,” ucap Airlangga.

Menurut Airlangga, penggunaan dana BPDP dimungkinkan karena saat ini lembaga tersebut memiliki kecukupan dana untuk membiayai dukungan tersebut.

Dia juga menyampaikan kebijakan harga khusus BBM bagi pengusaha nelayan akan diberikan dengan kuota sebesar 400 ribu ton untuk 6 bulan ke depan.

3. Bahlil bakal terbitkan SK

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan kebijakan tersebut merupakan upaya pemerintah memberikan kepastian bagi pelaku usaha di sektor perikanan. Harga Rp15 ribu liter diharapkan dapat membantu operasional nelayan dengan kapal berukuran 30 GT ke atas.

“Ini semua dalam rangka bagaimana memberikan rasa kepastian bagi saudara-saudara kita pelaku usaha di sektor perikanan karena memang kan harganya agak tinggi sekarang. Nah dengan harga Rp15 ribu ini diharapkan dapat membantu proses operasional bagi nilai yang 30 GT ke atas,” ujar Bahlil.

Kementerian ESDM akan segera menindaklanjuti arahan Presiden dengan menerbitkan surat keputusan.

“Kami segera akan membuat surat keputusan dari ESDM untuk ditindaklanjuti,” ujar Bahlil.

Bahlil memastikan implementasi kebijakan tersebut berjalan tepat sasaran. Penentuan titik-titik penyaluran akan dikoordinasikan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan agar tidak terjadi penyalahgunaan.

“Ini nanti agar tidak disalahgunakan, nanti kita akan minta titik-titiknya akan ditentukan oleh, koordinasikan dengan Menteri Perikanan. Supaya apa? Jangan sampai niat baik pemerintah untuk membantu nelayan kemudian salah lagi dipergunakan,” tutur Bahlil.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More