Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Intip Rapor Ekonomi Dunia 2026: China Ungguli AS, Indonesia Melejit

Intip Rapor Ekonomi Dunia 2026: China Ungguli AS, Indonesia Melejit
ilustrasi businessman, ekonomi, dunia, pebisnis (magnific.com/rawpixel.com)
Intinya Sih
  • IMF memproyeksikan pada 2026, Amerika Serikat tetap jadi ekonomi terbesar dunia berdasarkan PDB nominal, sementara China menempati posisi kedua dengan selisih yang masih cukup besar.
  • Jika dihitung menggunakan PPP, China unggul sebagai ekonomi terbesar dunia dengan nilai 44,3 triliun dolar AS, disusul Amerika Serikat dan India di posisi berikutnya.
  • Indonesia mencatat lonjakan signifikan ke peringkat ketujuh dunia berdasarkan PPP, menunjukkan kekuatan daya beli domestik dan potensi pasar yang makin menarik bagi investor global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kalau mendengar negara dengan ekonomi terbesar di dunia, mungkin kamu langsung membayangkan Amerika Serikat (AS) sebagai juaranya. Anggapan itu memang benar jika ukuran yang dipakai adalah Produk Domestik Bruto (PDB) nominal atau nominal GDP. Namun, hasilnya bisa sangat berbeda ketika ekonomi diukur menggunakan Purchasing Power Parity (PPP) atau paritas daya beli yang mempertimbangkan perbedaan harga barang dan jasa di setiap negara.

Proyeksi terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) untuk 2026 menunjukkan China masih menjadi ekonomi terbesar dunia berdasarkan ukuran PPP. Menariknya lagi, Indonesia menjadi salah satu negara dengan lonjakan peringkat paling besar sehingga berhasil menarik perhatian dunia.

Yuk, simak bagaimana perubahan ini bisa memberikan gambaran baru tentang kekuatan ekonomi Indonesia di mata dunia.

Table of Content

1. Amerika Serikat masih memimpin jika memakai PDB nominal

1. Amerika Serikat masih memimpin jika memakai PDB nominal

Intip Rapor Ekonomi Dunia 2026: China Ungguli AS, Indonesia Melejit
ilustrasi negara Amerika Serikat (pexels.com/Pixabay)

PDB nominal merupakan ukuran yang paling sering digunakan untuk membandingkan besarnya ekonomi suatu negara. Perhitungan ini memakai nilai tukar mata uang yang berlaku di pasar internasional sehingga sering dijadikan acuan dalam perdagangan global, investasi, hingga ukuran pengaruh ekonomi suatu negara di dunia. Oleh karena itu, indikator ini kerap menjadi patokan utama saat membandingkan kekuatan ekonomi antarnegara di tingkat global.

Berdasarkan proyeksi IMF, Amerika Serikat masih menjadi ekonomi terbesar pada 2026 dengan PDB nominal mencapai 32,4 triliun dolar AS atau sekitar Rp525,9 kuadriliun (asumsi kurs Rp16.233 per dolar AS). China berada di posisi kedua dengan 20,9 triliun dolar AS atau sekitar Rp339,3 kuadriliun, sedangkan Jerman menempati posisi ketiga dengan 5,5 triliun dolar AS atau sekitar Rp89,3 kuadriliun. Jepang, Inggris, India, Prancis, Italia, Rusia, dan Brasil melengkapi daftar 10 besar ekonomi dunia berdasarkan ukuran ini.

Meski masih memimpin, jarak antara Amerika Serikat dan China terus menjadi perhatian banyak pengamat ekonomi. Pertumbuhan industri, ekspor, serta investasi besar-besaran selama puluhan tahun membuat China berhasil mengejar ketertinggalannya. Bahkan, negara tersebut telah melampaui Jerman pada 2007 dan Jepang pada 2010 berdasarkan ukuran PDB nominal.

2. China menjadi nomor satu jika dihitung berdasarkan PPP

Intip Rapor Ekonomi Dunia 2026: China Ungguli AS, Indonesia Melejit
ilustrasi China atau Tiongkok (pixabay.com/glaborde7)

Hasilnya berubah ketika ekonomi diukur menggunakan PPP. Metode ini gak hanya melihat nilai tukar mata uang, tapi juga memperhitungkan harga barang dan biaya hidup di setiap negara. Dengan begitu, ukuran ekonomi menjadi lebih mencerminkan kemampuan produksi dan daya beli masyarakat di dalam negeri.

Menurut proyeksi IMF, ekonomi China berdasarkan PPP mencapai 44,3 triliun dolar AS atau sekitar Rp718,1 kuadriliun. Nilai tersebut jauh melampaui Amerika Serikat yang berada di angka 32,4 triliun dolar AS atau sekitar Rp525,9 kuadriliun. India juga tampil sangat impresif dengan nilai 18,9 triliun dolar AS atau sekitar Rp306,8 kuadriliun, sehingga menempati posisi ketiga dunia.

Perbedaan ini terjadi karena biaya hidup di China maupun India relatif lebih rendah dibandingkan banyak negara maju. Dengan jumlah uang yang sama, masyarakat bisa memperoleh lebih banyak barang dan jasa. Itulah sebabnya ukuran PPP sering dianggap lebih mampu menggambarkan kekuatan ekonomi domestik dibandingkan PDB nominal.

3. Indonesia menjadi salah satu bintang terbesar dalam daftar

Intip Rapor Ekonomi Dunia 2026: China Ungguli AS, Indonesia Melejit
ilustrasi bendera Indonesia (pexels.com/bima)

Indonesia mencatatkan pencapaian yang sangat menarik dalam laporan IMF. Berdasarkan PDB nominal, Indonesia berada di posisi ke-17 dunia dengan nilai ekonomi sekitar 1,5 triliun dolar AS atau sekitar Rp24,3 kuadriliun. Posisi tersebut memang masih berada di bawah Korea Selatan, Spanyol, hingga Australia.

Namun, saat memakai ukuran PPP, Indonesia langsung melesat ke posisi ketujuh dunia dengan nilai ekonomi mencapai 5,4 triliun dolar AS atau sekitar Rp87,7 kuadriliun. Artinya, Indonesia naik hingga 10 peringkat, menjadikannya negara dengan lonjakan posisi terbesar dalam daftar ekonomi dunia pada 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan skala aktivitas ekonomi Indonesia jauh lebih besar ketika memperhitungkan daya beli masyarakat dan tingkat harga di dalam negeri.

Lompatan ini menunjukkan aktivitas ekonomi domestik Indonesia sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan yang terlihat dari nilai tukar internasional saja. Biaya hidup yang relatif lebih rendah membuat nilai produksi dan konsumsi di dalam negeri menjadi lebih tinggi ketika dihitung menggunakan pendekatan PPP. Kondisi tersebut juga memperlihatkan besarnya potensi pasar Indonesia di mata pelaku bisnis dan investor global.

4. Rusia ikut melonjak, sementara beberapa negara maju turun posisi

Intip Rapor Ekonomi Dunia 2026: China Ungguli AS, Indonesia Melejit
ilustrasi negara Rusia (unsplash.com/Random Institute)

Indonesia bukan satu-satunya negara yang menikmati kenaikan peringkat dalam daftar PPP. Rusia juga mengalami perubahan yang cukup besar. Jika berdasarkan PDB nominal Rusia berada di posisi kesembilan dengan nilai sekitar 2,7 triliun dolar AS atau sekitar Rp43,8 kuadriliun, maka berdasarkan PPP negara tersebut naik ke posisi keempat dengan nilai 7,5 triliun dolar AS atau sekitar Rp121,7 kuadriliun.

Sebaliknya, beberapa negara maju justru mengalami penurunan posisi. Jerman turun dari peringkat ketiga menjadi keenam, Inggris bergeser dari posisi kelima menjadi ke-10, sedangkan Kanada turun ke posisi 16. Penurunan tersebut bukan berarti ekonomi mereka melemah, melainkan karena harga barang dan jasa di negara-negara itu jauh lebih tinggi sehingga nilai PPP gak meningkat sebesar negara berkembang.

Selain itu, daftar PPP juga menghadirkan wajah baru. Mesir, Nigeria, dan Taiwan berhasil masuk ke dalam 20 besar ekonomi dunia berdasarkan ukuran ini. Kehadiran mereka menunjukkan biaya hidup dan kapasitas produksi domestik memiliki pengaruh besar terhadap posisi suatu negara dalam peringkat ekonomi global.

5. Kenapa kamu perlu memahami dua ukuran ekonomi ini?

Intip Rapor Ekonomi Dunia 2026: China Ungguli AS, Indonesia Melejit
ilustrasi Jakarta, Indonesia (unsplash.com/Syahril Fadillah)

Sekilas, PDB nominal dan PPP mungkin terlihat seperti dua cara menghitung yang menghasilkan angka berbeda. Padahal, keduanya memiliki fungsi masing-masing dan saling melengkapi. PDB nominal lebih tepat digunakan untuk membandingkan ukuran ekonomi dalam perdagangan internasional, investasi, serta pengaruh suatu negara terhadap sistem keuangan global.

Di sisi lain, PPP lebih berguna untuk melihat besarnya aktivitas ekonomi di dalam negeri dan membandingkan standar hidup masyarakat antarnegara. Karena memperhitungkan harga barang dan jasa lokal, ukuran ini mampu menunjukkan seberapa besar nilai produksi yang benar-benar bisa dinikmati masyarakat di masing-masing negara. Itulah sebabnya PPP sering digunakan untuk membandingkan tingkat kesejahteraan dan kapasitas ekonomi suatu negara secara lebih realistis.

Dengan melihat kedua indikator secara bersamaan, kamu akan mendapatkan gambaran ekonomi dunia yang lebih utuh. Amerika Serikat memang masih memimpin dalam ukuran nominal, tapi China unggul berdasarkan daya beli. Sementara itu, Indonesia membuktikan bahwa kekuatan ekonomi domestiknya sangat besar sehingga mampu bersaing dengan negara-negara ekonomi terbesar di dunia.

Proyeksi IMF untuk 2026 memperlihatkan posisi ekonomi suatu negara bisa berubah tergantung cara pengukurannya. Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dunia berdasarkan PDB nominal, sedangkan China mempertahankan posisi teratas jika dihitung menggunakan PPP. Di sisi lain, Indonesia mencatatkan pencapaian yang membanggakan karena berhasil melonjak dari peringkat ke-17 menjadi ketujuh berdasarkan ukuran PPP.

Hal ini menunjukkan potensi ekonomi Indonesia jauh lebih besar dibandingkan yang terlihat dari nilai tukar mata uang semata. Memahami perbedaan kedua indikator tersebut akan membantumu melihat perkembangan ekonomi global secara lebih menyeluruh dan gak hanya terpaku pada satu angka saja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More