Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
S&P Global dan Moody's Kasih Peringkat buat Danantara, Apa Maknanya?
Wisma Danantara Indonesia (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • S&P Global memberi peringkat BBB/A-2 dengan outlook stabil, sementara Moody’s beri Baa2 dengan outlook negatif untuk Danantara Investment Management.
  • Hans Kwee menilai rating tersebut tetap menunjukkan kemampuan Danantara memenuhi kewajiban finansial, meski ada sorotan pada tata kelola dan konsistensi kebijakan pemerintah.
  • Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat dengan pertumbuhan sekitar 5,6 persen dan inflasi terkendali, namun perlu penguatan komunikasi kebijakan serta strategi investasi yang lebih jelas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
4 Juni 2026

S&P Global dan Moody's untuk pertama kalinya memberikan peringkat kepada Danantara Investment Management. S&P Global memberi peringkat jangka panjang 'BBB' dan jangka pendek 'A-2' dengan outlook stabil, sementara Moody's memberi peringkat ‘Baa2’ dengan outlook negatif. Hans Kwee menilai rating tersebut masih tergolong investment grade dan mencerminkan kemampuan DIM memenuhi kewajiban finansialnya.

kini

Hans menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan sekitar 5,6 persen dan inflasi terkendali. Ia menyarankan pemerintah memperkuat komunikasi kebijakan serta menjaga pengelolaan APBN agar kepercayaan investor tetap terjaga dan peluang perbaikan outlook terbuka di masa mendatang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    S&P Global dan Moody’s memberikan peringkat kredit pertama bagi Danantara Investment Management, masing-masing dengan kategori investment grade namun berbeda outlook, yakni stabil dari S&P dan negatif dari Moody’s.
  • Who?
    Peringkat diberikan oleh lembaga pemeringkat internasional S&P Global dan Moody’s kepada Danantara Investment Management. Penilaian turut dijelaskan oleh praktisi pasar modal Hans Kwee.
  • Where?
    Penilaian ini diumumkan di Jakarta, Indonesia, sebagai bagian dari laporan mengenai kondisi keuangan dan prospek investasi Danantara.
  • When?
    Pernyataan mengenai hasil pemeringkatan disampaikan pada Kamis, 4 Juni 2026.
  • Why?
    Pemberian peringkat dilakukan untuk menilai kemampuan Danantara memenuhi kewajiban finansialnya serta mencerminkan pandangan lembaga terhadap tata kelola dan kepastian kebijakan pemerintah yang terkait erat dengan perusahaan tersebut.
  • How?
    S&P Global menetapkan peringkat jangka panjang ‘BBB’ dan jangka pendek ‘A-2’ dengan outlook stabil, sementara Moody’s memberi peringkat ‘Baa2’ dengan outlook negatif berdasarkan evaluasi faktor ekonomi dan tata kelola.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
S&P Global dan Moody’s kasih nilai buat perusahaan Danantara. Nilainya bagus tapi satu bilang hati-hati sedikit. Ada orang namanya Pak Hans bilang Danantara masih bisa bayar uang yang harus dibayar. Katanya ekonomi Indonesia masih kuat, tumbuhnya bagus, harga barang gak naik tinggi, cuma aturan dan rencana pemerintah perlu lebih jelas supaya orang tetap percaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pemberian peringkat pertama dari S&P Global dan Moody’s kepada Danantara Investment Management menunjukkan pengakuan atas kapasitas finansial perusahaan yang masih tergolong investment grade. Meski terdapat catatan mengenai tata kelola dan kebijakan, pandangan analis menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, dengan pertumbuhan stabil dan inflasi terkendali yang mendukung kepercayaan pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - S&P Global dan Moody's untuk pertama kalinya memberikan peringkat kepada Danantara Investment Management (DIM).

Holding Investasi Danantara itu mengantongi peringkat kredit jangka panjang 'BBB' dan jangka pendek 'A-2' dengan outlook stabil dari S&P Global, serta peringkat ‘Baa2’ dengan outlook negatif oleh Moody's.

Praktisi pasar modal sekaligus Co-founder PasarDana, Hans Kwee, mengatakan, rating dari dua lembaga pemeringkat global tersebut masih berada dalam kategori investment grade sehingga tidak serta merta mencerminkan memburuknya kondisi ekonomi Indonesia.

1. Danantara Investment Management dinilai dinilai bisa penuhi kewajiban finansial

Wisma Danantara Indonesia (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Hans menilai, peringkat tersebut menunjukkan Moody's dan S&P Global tetap melihat DIM memiliki kapasitas dalam memenuhi kewajiban finansialnya.

Hans mengatakan, outlook negatif yang diberikan Moody's lebih berkaitan dengan sejumlah faktor. Mulai dari konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah, tata kelola BUMN, arah strategi investasi Danantara, serta pengelolaan APBN ke depan.

2. Kepastian kebijakan mempengaruhi

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Menurut Hans, persoalan utama yang disoroti bukanlah kemampuan finansial Danantara saat ini, melainkan faktor governance dan kepastian kebijakan.

“Moody's dan S&P melihat adanya keterkaitan yang sangat kuat antara Danantara dan pemerintah sehingga risiko yang melekat pada keduanya juga dipersepsikan serupa," kata Hans dikutip Kamis, (4/6/2026).

3. Potensi Indonesia masih sangat besar

ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Meski begitu, Hans melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang relatif kuat. Ia mengatakan Indonesia tidak berada dalam kondisi resesi, dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di kisaran 5,6 persen.

Selain itu, kata dia, inflasi juga masih terkendali di tengah tingginya harga energi global.

"Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia tidak seburuk yang dikhawatirkan pasar. Pertumbuhan masih terjaga, inflasi terkendali, dan kondisi fiskal relatif baik. Hal yang menjadi perhatian investor saat ini lebih kepada tata kelola dan konsistensi kebijakan," kata dia.

Hans menyarankan, sebaiknya pemerintahan ke depan agar terus memperkuat komunikasi kebijakan, memastikan pengelolaan APBN tetap prudent, serta memperjelas strategi investasi Danantara.

"Langkah ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus membuka peluang perbaikan outlook di masa mendatang," ucap Hans.

Editorial Team

Related Article