Sentimen Negatif Moody's ke Danantara Perparah Tekanan Rupiah dan IHSG

- Laporan Moody’s yang memberi pandangan negatif terhadap Danantara Investment Management memperburuk sentimen pasar, membuat rupiah melemah hingga Rp17.958 per dolar AS dan IHSG anjlok tajam.
- Sutopo Widodo menilai kombinasi tekanan global dan sentimen domestik memicu fase kepanikan di pasar keuangan Indonesia, dengan aksi jual besar-besaran di berbagai instrumen aset.
- Faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan pengetatan likuiditas valas, ditambah surplus perdagangan yang menyusut, memperdalam tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Jakarta, IDN Times - Laporan Moody's yang memberikan pandangan negatif terhadap Danantara Investment Management (DIM) memperburuk sentimen di pasar keuangan domestik.
Di tengah tekanan eksternal akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS), rupiah terpuruk hingga Rp17.958 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok akibat aksi jual investor.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai kombinasi tekanan makroekonomi global dan sentimen domestik telah mendorong pasar keuangan Indonesia memasuki fase kepanikan yang cukup intens.
"Pelemahan nilai tukar Rupiah yang kini bertengger di level Rp17.958 per Dolar AS, beriringan dengan kejatuhan IHSG yang merosot tajam, mencerminkan adanya aksi koreksi massal di seluruh instrumen aset dalam negeri," ujar Sutopo kepada IDN Times, Rabu (3/6/2026).
Menurut dia, pandangan negatif Moody's terhadap Danantara memberikan sentimen negatif sehingga menjadi akselerator psikologis yang memperburuk sentimen pasar.
"Kondisi memperparah ketakutan investor di tengah kondisi pasar yang memang sudah jenuh," tegasnya.
Meskipun laporan Moody’s memicu guncangan hebat pada saham-saham kapitalisasi besar yang berafiliasi dengan portofolio negara, akar penyebab utama kejatuhan pasar hari ini tetap didominasi oleh faktor eksternal dan likuiditas valas yang mengetat.
"Keperkasaan Dolar AS yang ditopang oleh panasnya data tenaga kerja JOLTS serta konstannya imbal hasil obligasi AS di atas 4,45 persen telah memicu arus modal keluar (capital outflow) besar-besaran dari pasar negara berkembang," tegasnya.
Tekanan tersebut semakin besar karena fundamental domestik dinilai kurang mendukung. Salah satunya adalah surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 yang menyusut ke level terendah sejak 2020. Kondisi ini membatasi pasokan likuiditas dolar AS di pasar domestik.
"Dari sisi domestik, penilaian negatif Moody's terhadap tata kelola Danantara mendorong investor untuk meninjau kembali risiko fiskal dan arah kebijakan pemerintah ke depan," tegasnya.
















