Konflik AS–Iran Picu Lonjakan Harga Energi, Subsidi BBM Terancam Bengkak

- Eskalasi konflik AS–Iran memicu lonjakan harga energi global yang berpotensi membebani subsidi BBM dalam APBN Indonesia.
- Ekonom CELIOS menilai kenaikan harga minyak dapat membuat anggaran subsidi membengkak dan memaksa pemerintah melakukan realokasi belanja.
- Keterbatasan ruang fiskal, ketidakpastian ekonomi global, serta tantangan penambahan utang menjadi hambatan utama menjaga stabilitas anggaran negara.
Jakarta, IDN Times - Ekonom menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran akan mendorong kenaikan harga energi global dan berdampak pada membengkaknya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Direktur Ekonomi Digital di Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mengatakan, kenaikan harga minyak otomatis meningkatkan kebutuhan anggaran subsidi energi.
"Ketika harga minyak naik, maka beban subsidi pemerintah akan membengkak, terutama untuk BBM. Anggaran kita bisa jebol apabila tidak ada realokasi belanja untuk menutup kenaikan subsidi tersebut,” ujar Huda kepada IDN Times, Sabtu (28/2/2026).
Menurut dia, ruang fiskal pemerintah saat ini relatif terbatas. Jika harga minyak terus bertahan di level tinggi, pemerintah harus melakukan penyesuaian belanja agar defisit tidak melebar lebih dalam.
Huda menilai, mengandalkan peningkatan penerimaan negara juga bukan solusi mudah di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, perlambatan ekonomi dunia berisiko menekan kinerja ekspor dan penerimaan pajak domestik.
“Mengandalkan penerimaan negara akan percuma ketika ekonomi global semakin tidak menentu,” kata dia.
Di sisi lain, opsi penambahan utang baru juga dinilai menghadapi tantangan.
Dia menyoroti laporan lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's dan S&P Global Ratings yang sebelumnya memberikan catatan terhadap pengelolaan fiskal Indonesia.


















