Semester I, MDLA Cetak Laba Rp226 Miliar dan Penjualan Rp8,2 Triliun

- MDLA membukukan penjualan Rp8,2 triliun pada semester I-2026, naik 10,1 persen, serta laba bersih Rp226 miliar atau tumbuh 12,6 persen dibanding periode sama tahun lalu.
- Pertumbuhan ditopang peningkatan volume distribusi, tambahan lima prinsipal AAM, penguatan kanal digital, dan penjualan produk Stardec yang naik 34 persen melalui perluasan portofolio.
- MDLA menyiapkan gudang AAM Medan yang ditargetkan beroperasi kuartal IV-2026, NDC 2 pada 2027, sementara GPOS B2B tumbuh 20 persen dan AI Forecast menekan out-of-stock di bawah 2 persen.
Jakarta, IDN Times — PT Medela Potentia Tbk (MDLA) mencatatkan kinerja positif pada semester I-2026. Penjualan dan laba bersih perseroan sama-sama tumbuh dua digit di tengah ekspansi bisnis distribusi serta penguatan produk alat kesehatan milik sendiri.
Mengutip paparan dalam Public Expose Live, MDLA membukukan penjualan sebesar Rp8,2 triliun pada semester I-2026. Angka tersebut tumbuh 10,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama PT Medela Potentia Tbk, Juliwaty, mengatakan bahwa pertumbuhan semester I-2026 menunjukkan semakin kuatnya posisi perseroan dalam ekosistem kesehatan Indonesia.
“Pertumbuhan bisnis kesehatan di Indonesia memberikan peluang yang besar bagi perseroan untuk terus berkembang. Dengan ekosistem yang mencakup distribusi, alat kesehatan, manufaktur, dan digital, kami memiliki fondasi untuk menjangkau lebih banyak pelanggan sekaligus menghadirkan solusi kesehatan yang holistik,” kata Juliwaty.
1. Faktor penopang pertumbuhan kinerja

Pembangunan gudang AAM Medan saat ini telah mencapai 95 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. (Dok/Istimewa). Sementara itu Investor Relations PT Medela Potentia Tbk, Harris Lesmana, menambahkan pertumbuhan kinerja tersebut ditopang sejumlah faktor, mulai dari peningkatan volume distribusi, penambahan prinsipal, penguatan produk milik sendiri (own product), hingga optimalisasi kanal digital.
“Dari sisi operasional, kami juga terus meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses kerja,” ujar Harris.
Pada bisnis distribusi, entitas anak MDLA, PT Anugrah Argon Medica (AAM), menambah lima prinsipal baru sepanjang semester I-2026. Kelima prinsipal tersebut terdiri dari satu prinsipal ethical, tiga prinsipal consumer health, dan satu prinsipal alat kesehatan. Sementara itu, bisnis alat kesehatan own product juga mencatatkan pertumbuhan. Produk Stardec yang dipasarkan oleh entitas anak PT Djembatan Dua membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 34 persen.
“Pertumbuhan Stardec ditopang oleh perluasan portofolio produk, antara lain melalui peluncuran Stardec DecaCare 5 Liter dan Stardec DecaFoam,” tegasnya.
2. Penjualan ikut dorong peningkatan profitabilitas

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times) Perseroan menyebut pengembangan produk baru tersebut membuka peluang untuk memperluas penggunaan Stardec sekaligus meningkatkan kontribusi bisnis own product. Produk Stardec juga telah diekspor ke Kamboja dan Timor Leste pada 2025. MDLA berencana kembali melakukan ekspor produk tersebut pada 2026.
MDLA juga mencatat pertumbuhan penjualan tersebut turut mendorong peningkatan profitabilitas. Laba bersih MDLA naik 12,6 persen menjadi Rp226 miliar. Sementara itu, laba bruto (gross profit) tumbuh 6,8 persen menjadi Rp762 miliar dan EBITDA meningkat 11,2 persen menjadi Rp325 miliar.
3. Ada ruang tingkatkan kapasitas dan efisiensi

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama) Di sisi, operasional, perseroan masih memiliki ruang untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi seiring dengan pertumbuhan bisnis. Untuk menopang ekspansi bisnis, MDLA memperkuat kapasitas infrastrukturnya. Pembangunan gudang AAM Medan saat ini telah mencapai 95 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. Kehadiran gudang tersebut diharapkan meningkatkan kemampuan perseroan dalam melayani distribusi produk kesehatan di wilayah Sumatra.
Selain itu, MDLA berencana membangun National Distribution Center (NDC) 2 pada 2027. Fasilitas tersebut akan difokuskan untuk kebutuhan cold storage dan direncanakan berdiri di atas lahan seluas 2,7 hektare di Kawasan Industri Jababeka 2.
Dari sisi digital, lini bisnis GPOS B2B mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 20 persen dengan cakupan (coverage) meningkat 15 persen. Platform tersebut kini bekerja sama dengan 18 prinsipal dan mencakup 40 merek (brand) produk. Implementasi AI Forecast juga membantu perseroan menekan tingkat out-of-stock hingga di bawah 2 persen.











![[QUIZ] Tebak Nama Mata Uang Asia Tenggara, Yakin Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20241117/18879-68854c3f6876b62c6c0e179f8d1fe608.jpg)








