Krisis Keuangan Asia 1997 Terulang? Ekonom HSBC Ungkap Faktanya!

- Ekonom HSBC Frederick Neumann melihat kemiripan dengan 1997 pada kenaikan imbal hasil Treasury AS, pelemahan yen Jepang, dan euforia teknologi yang kini dipicu AI.
- Neumann menilai kondisi Asia saat ini berbeda lebih besar: banyak negara telah menjadi eksportir modal, sehingga tekanan biaya dolar dan pelemahan yen tidak sama seperti 1990-an.
- Kerentanan utama Asia kini berada pada permintaan: perlambatan industri AI AS dapat melemahkan ekspor elektronik Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura.
Kalau kamu melihat kondisi ekonomi Asia sekarang, mungkin ada satu pertanyaan yang muncul: apakah kawasan ini sedang menuju krisis seperti 1997? Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan karena ada sejumlah kondisi ekonomi global yang terlihat mirip dengan periode sebelum krisis keuangan Asia. Mulai dari tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, pelemahan yen Jepang, sampai optimisme besar terhadap perkembangan teknologi.
Namun, ekonom HSBC Frederick Neumann menilai bahwa kemiripan tersebut gak otomatis berarti sejarah akan terulang. Justru menurutnya, perbedaan kondisi ekonomi Asia saat ini jauh lebih besar dibandingkan persamaannya dengan era 1990-an.
1. Kondisi sebelum krisis 1997 memang punya beberapa kemiripan

ilustrasi mata uang dolar AS (vecteezy.com/Vladislav Stepanov) Krisis keuangan Asia 1997 menjadi salah satu periode paling berat bagi perekonomian kawasan. Saat itu, sejumlah negara Asia menghadapi tekanan besar yang ditandai oleh kejatuhan mata uang, arus modal keluar, hingga masalah pada sektor perbankan. Kondisi tersebut kemudian ikut mendorong perekonomian berbagai negara di kawasan masuk ke masa resesi. Karena itu, ketika ada sejumlah indikator ekonomi yang kembali terlihat mirip, wajar kalau kamu mulai merasa waswas.
Menurut Frederick Neumann, kepala ekonom HSBC, salah satu kemiripan yang cukup mencolok adalah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Menjelang krisis 1997, imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun meningkat dari sekitar 5 persen pada Oktober 1993 menjadi sekitar 8 persen pada November 1994. Bahkan pada April 1997, imbal hasilnya masih berada di kisaran 7 persen atau sekitar 200 basis poin lebih tinggi dibandingkan empat tahun sebelumnya.
2. Imbal hasil obligasi AS dan yen Jepang kembali jadi perhatian

ilustrasi mata uang yen Jepang dan dolar AS (pexels.com/Qing Luo) Kalau melihat kondisi sekarang, imbal hasil Treasury AS 10 tahun juga mengalami kenaikan yang cukup besar. Dari titik rendah sekitar 0,5 persen pada Agustus 2020, imbal hasil tersebut sempat berada di sekitar 4,79 persen pada awal September 2026. Neumann mencatat bahwa kenaikan tersebut memang berlangsung dalam periode yang jauh lebih panjang, tapi hanya sepanjang tahun ini saja imbal hasil sudah naik sekitar 80 basis poin dari sekitar 3,9 persen pada Februari.
Pergerakan yen Jepang juga menjadi kemiripan lainnya yang disoroti Neumann. Pada April 1995, yen berada di sekitar 80 per dolar AS, kemudian melemah hingga sekitar 130 per dolar AS pada April 1997 atau terdepresiasi sekitar 55 persen. Kondisi sekarang pun menunjukkan pelemahan besar, dari sekitar 103 per dolar AS pada Januari 2021 menjadi 163 pada Juli sebelum intervensi bersama Washington dan Tokyo membantu memperkuat yen ke sekitar 160 per dolar AS.
3. Optimisme teknologi dulu didorong internet, kini AI

ilustrasi AI, DeepSeek, pengguna AI (pexels.com/Abdelrahman Ahmed) Ada satu lagi kemiripan yang mungkin cukup menarik buat kamu, yaitu euforia terhadap teknologi. Menjelang krisis Asia 1997, pasar sedang dipenuhi optimisme terhadap perkembangan internet yang dianggap bisa membawa perubahan besar bagi perekonomian. Sentimen positif tersebut menjadi salah satu karakteristik pasar pada periode tersebut, meskipun tentu saja bukan penyebab tunggal terjadinya krisis.
Puluhan tahun kemudian, optimisme teknologi kembali muncul, tapi dengan wajah yang berbeda. Kali ini, perkembangan kecerdasan buatan atau AI menjadi sumber antusiasme besar di pasar. Menurut Neumann, ledakan AI saat ini memiliki kemiripan dengan optimisme teknologi pada era sebelum krisis 1997, terutama karena perkembangan tersebut turut mendorong aktivitas ekonomi dan investasi.
4. Asia sekarang punya kondisi ekonomi yang berbeda

ilustrasi warga Singapura (pexels.com/Kenny Foo) Meski ada beberapa kemiripan, Neumann justru menilai perbedaan antara kondisi 1997 dan 2026 lebih besar daripada persamaannya. Salah satu perbedaan paling penting terletak pada posisi ekonomi negara-negara Asia terhadap modal asing. Pada era 1990-an, sebagian besar perekonomian Asia merupakan importir modal sehingga lebih bergantung pada aliran dana dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan belanja dan investasinya.
Situasinya sekarang sudah berubah cukup signifikan karena banyak negara Asia telah menjadi eksportir modal. Artinya, kawasan ini memiliki tabungan dan investasi ke luar negeri yang jauh lebih besar dibandingkan masa sebelum krisis 1997. Menurut Neumann, kondisi tersebut membuat kenaikan biaya pendanaan dalam dolar AS dan pelemahan yen gak jadi sumber tekanan yang sama besarnya seperti pada era 1990-an.
5. Ancaman Asia sekarang lebih ke permintaan ekonomi

ilustrasi AI ChatGPT (pexels.com/Matheus Bertelli) Bukan berarti kamu bisa sepenuhnya santai melihat kondisi ekonomi Asia saat ini, ya. Neumann menilai kawasan tersebut tetap memiliki kerentanan, hanya saja bentuknya berbeda dari ancaman pada 1990-an. Jika dahulu masalah utamanya berkaitan dengan kerentanan finansial, sekarang Asia justru menghadapi apa yang disebut sebagai demand vulnerability atau kerentanan dari sisi permintaan.
Masalahnya berkaitan erat dengan ketergantungan sejumlah negara Asia terhadap ledakan industri perangkat keras AI di Amerika Serikat. Ekspor produk elektronik yang berkaitan dengan AI selama ini ikut menopang pertumbuhan ekonomi Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura. Jika kenaikan imbal hasil obligasi AS dan biaya pendanaan akhirnya menekan industri AI, permintaan terhadap produk dari Asia bisa ikut melemah dan membuat pertumbuhan ekonomi kawasan melambat.
Jadi, apakah krisis keuangan Asia 1997 akan terulang? Berdasarkan pandangan ekonom HSBC Frederick Neumann, jawabannya tidak sesederhana melihat beberapa indikator yang tampak mirip. Memang ada persamaan, seperti tingginya imbal hasil Treasury AS, pelemahan yen Jepang, serta optimisme teknologi yang kini dipicu oleh AI. Namun, struktur ekonomi Asia saat ini sudah jauh berbeda sehingga risiko yang dihadapi kawasan tersebut juga ikut berubah.
Kalau kamu ingin memahami situasinya, poin pentingnya bukan sekadar membandingkan angka 1997 dengan kondisi sekarang. Kamu juga perlu melihat bagaimana posisi keuangan negara-negara Asia telah berubah dan seberapa besar ketergantungannya terhadap permintaan global. Dengan begitu, kamu bisa melihat bahwa ancaman yang dihadapi Asia saat ini bukan berarti pengulangan persis krisis 1997, melainkan potensi perlambatan jika mesin pertumbuhan berbasis AI dan ekspor mulai kehilangan tenaga.












![[QUIZ] Tebak Nama Mata Uang Asia Tenggara, Yakin Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20241117/18879-68854c3f6876b62c6c0e179f8d1fe608.jpg)








