Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sentuhan Astra Bikin Petani Buah Naga Banyuwangi Naik Kelas

Sentuhan Astra Bikin Petani Buah Naga Banyuwangi Naik Kelas
Kelompok Tani Sinar Cabe di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi saat memilah buah naga. Mayoritas warga di sini merupakan petani buah naga (25/6/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Intinya Sih
  • Petani buah naga Banyuwangi yang dulu terpuruk karena harga rendah kini bangkit berkat pendampingan Yayasan Dharma Bhakti Astra melalui program Desa Sejahtera Astra sejak 2020.
  • Melalui pelatihan budidaya organik, pengolahan pupuk, dan strategi pemasaran modern, petani berhasil menembus pasar supermarket, hotel, hingga ekspor ke Singapura dan Eropa.
  • Dampak pendampingan membuat kualitas buah meningkat, produk olahan berkembang, serta pendapatan dan kepercayaan diri petani naik dengan pasar dan harga jual yang lebih pasti.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Banyuwangi, IDN Times – Ada masa ketika buah naga di Banyuwangi hanya dihargai Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram (kg). Saat panen raya datang, petani justru dihantui kecemasan. Buah-buah yang tak terserap pasar menumpuk, bahkan sebagian berakhir dibuang begitu saja.

Namun, waktu membawa cerita berbeda bagi Kelompok Tani Sinar Cabe di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Perlahan, kebun-kebun yang dulu dibayangi harga murah kini menghasilkan buah naga organik yang masuk ke supermarket, hotel, hingga pernah disiapkan untuk pasar ekspor.

Perubahan itu tidak datang dalam semalam. Ada proses panjang pendampingan yang dilakukan Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA) bersama program Desa Sejahtera Astra (DSA), yang membantu petani memahami budidaya hingga membaca arah pasar.

1. Dari harga terpuruk hingga menemukan harapan baru

Sentuhan Astra Bikin Petani Buah Naga Banyuwangi Naik Kelas
Sekretaris Kelompok Tani Sinar Cabe sekaligus petani Binaan Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra, Sumartini saat menjelaskan proses pemilahan buah naga di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi (25/6/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Sekretaris Kelompok Tani Sinar Cabe sekaligus petani Binaan Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra, Sumartini mengenang masa-masa sulit saat harga buah naga Banyuwangi anjlok pada 2017 sampai 2018. Bahkan buah naga grade terbaik hanya dihargai Rp1.000 sampai Rp2.000 per kg.

Situasi itu membuat banyak petani kebingungan mencari pembeli. Buah grade B dan C bahkan tak laku di pasaran.

Alih-alih menyerah, kelompok tani tersebut mencoba mencari jalan keluar. Buah yang tidak terserap pasar diolah menjadi pupuk organik cair untuk kembali digunakan di kebun mereka.

"Tahun 2017-2018 itu harga buah naga Kabupaten Banyuwangi terpuruk. Grade A hanya Rp1.000 sampai Rp2.000 per kilo. Grade B dan C tidak laku di pasaran," ujar Sumartini kepada awak media, Rabu (25/6/2026).

Titik balik itu mulai datang pada 2020 ketika Desa Sejahtera Astra hadir memberikan pendampingan. Para petani mendapat pelatihan mengenai pasar modern hingga peluang ekspor yang sebelumnya terasa begitu jauh. Selama ini, mereka hanya mengenal pasar tradisional sebagai tujuan penjualan hasil panen.

2. Belajar membaca pasar, bukan sekadar menanam

Sentuhan Astra Bikin Petani Buah Naga Banyuwangi Naik Kelas
Kondisi pertanian buah naga binaan Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA) bersama program Desa Sejahtera Astra (DSA) di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi (25/6/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Data Yayasan Dharma Bakti Astra mencatat, persoalan petani buah naga saat itu bukan hanya harga, tetapi juga budidaya dan akses pasar. Karena itulah YDBA membuka cabang pembinaan di Banyuwangi pada 2021 untuk mendampingi petani secara lebih intensif.

Berbagai pelatihan diberikan, mulai dari peningkatan kualitas budidaya organik, pengolahan pupuk, pengendalian hama, hingga tata cara memenuhi standar pasar modern dan ekspor. Hasilnya mulai terlihat. Kelompok tani yang beranggotakan sekitar 30 petani dengan luas lahan mencapai 9,2 hektare (ha), itu kini memiliki pasar yang lebih beragam.

Buah naga kualitas terbaik masuk ke supermarket dan hotel. Sementara buah dengan kualitas lain tetap memiliki saluran penjualan tersendiri. Mereka bahkan pernah menyiapkan pengiriman buah naga ke Singapura dan Eropa melalui kemitraan dengan PT Nusa Fresh.

"Kalau dulu apa kata pasar, kita ikut. Sekarang kami sudah punya harga tawar sendiri karena sudah punya sertifikasi dan pasar yang jelas," kata Sumartini.

3. Buah lebih berkualitas, petani makin sejahtera

Sentuhan Astra Bikin Petani Buah Naga Banyuwangi Naik Kelas
M Yusuf, Anggota Kelompok Tani Sinar Cabe sekaligus petani Binaan Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra menunjukkan metode pertanian buah naga. Ia adalah salah satu petani buah naga di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi (25/6/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Pendampingan yang dilakukan Astra tidak hanya membantu petani menjual hasil panen, tetapi juga meningkatkan nilai produk yang dihasilkan. Buah naga organik yang mereka budidayakan kini memiliki daya simpan lebih lama, bahkan bisa bertahan hingga 21 hari setelah dipanen.

Tidak hanya itu, buah-buah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini juga bisa menghasilkan pendapatan tambahan. Buah naga yang mengalami kerusakan ringan diolah menjadi produk buah naga kering melalui kolaborasi dengan pelaku usaha lokal.

Bagi Sumartini, perubahan terbesar bukan hanya soal harga yang lebih baik, melainkan rasa percaya diri petani dalam menentukan masa depan usahanya sendiri. Jika dahulu panen raya identik dengan kepanikan karena pasar penuh, kini mereka memiliki kepastian pembeli dan jadwal pengiriman yang rutin.

"Dampaknya, petani pendapatannya lebih baik dibanding sebelum didampingi. Sekarang kita punya pasar sendiri, punya harga tawar, dan tahu ke mana produk akan dijual," ujarnya.

Di tengah hamparan kebun buah naga Banyuwangi, perubahan itu tumbuh perlahan seperti bunga yang mekar di malam hari. Dari buah yang dulu kerap terbuang, kini lahir harapan baru bagi para petani yang belajar bahwa bertani bukan hanya soal menanam, tetapi juga memahami ke mana hasil panen akan berlabuh. Selain buah organik, para petani juga dibina untuk membuat Sale Buah Naga dan Bagiak Buah Naga.

Program pembinaan ini juga menghasilkan berbagai output bagi petani. Pertama, petani jadi memiliki panduan dalam budidaya buah naga yang sesuai dengan standarisasi organik. Kedua, pembuatan pupuk dan agensi hayati, petani diajarkan mengetahui prosedur pembuatan pupuk majemuk serta trichoderma untuk pengendalian jamur. Ketiga, penanganan hama dan penyakit, para petani diberikan pemahaman prosedur pembuatan bubur bordeaux untuk pengendalian cacar maupun busuk batang. Keempat, manajemen kebun dan gudang kerja.

Berdasarkan data Yayasan Astra-YDBA, selama periode 2022 hingga 2025, kelompok tani Sinar Cabai sudah mengekspor total 6,8 ton buah naga ke Singapura dan Hong Kong melalui PT Nusa Tropical Indonesia. Sementara kerja sama produk olahan dilakukan dengan PT Oreng Osing untuk Sale Buah Naga sejak Maret 2024 sebanyak 20 ton. Kemudian, produk olahan buah kering dilakukan lewat Herbor.id dengan penjualan di pasar domestik sejak September 2024 sebanyak 350 kg.

Ketua Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra, Rahmat Samulo memastikan, pihaknya mendukung Program Desa Sejahtera Astra di Banyuwangi dalam mendampingi petani buah naga di Desa Sumbermulyo melalui pendirian Pusat Pendampingan UMKM (PPU) Banyuwangi, Jawa Timur.

Di mana PPU ini menjalankan program pelatihan dan pendampingan Mentalitas Dasar maupun teknis agar petani dalam proses budi daya maupun hasil panennya dapat memenuhi standar Quality, Cost, dan Delivery (QCD) pasar modern lokal maupun luar negeri.

"Selain itu, fasilitasi pasar juga dilakukan agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya," ucap dia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More