Siasat Baru Iran Masuk Bank BRICS demi Lawan Dominasi Sanksi Barat

- Iran segera bergabung dengan New Development Bank BRICS setelah pembahasan keanggotaan dengan Presiden NDB Dilma Rousseff, untuk mengakses pendanaan proyek pembangunan dan infrastruktur berkelanjutan.
- Teheran mendorong dedolarisasi melalui penggunaan mata uang lokal serta integrasi sistem pembayaran BRICS berbasis teknologi finansial dan kecerdasan buatan, guna mengurangi ketergantungan pada kliring Barat.
- Di tengah sanksi ekonomi dan keterbatasan akses pasar modal internasional, Iran memandang NDB sebagai jalur keuangan alternatif untuk investasi dan mempererat kemitraan dengan negara berkembang.
Jakarta, IDN Times - Iran berencana memperkuat ketahanan ekonominya di tengah tekanan global dengan segera bergabung menjadi anggota New Development Bank (NDB), lembaga keuangan bentukan kelompok BRICS. Kabar penggabungan ini disampaikan langsung oleh Kepala Bank Sentral Iran, Abdolnasser Hemmati, di sela-sela pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral di Jaipur, India, pada Rabu (12/8/2026).
Langkah ini diambil oleh Teheran sebagai bagian dari strategi memperluas jaringan kerja sama keuangan alternatif di luar sistem Barat yang didominasi oleh mata uang dolar Amerika Serikat. Dengan bergabung bersama lembaga tersebut, Iran berharap dapat meningkatkan pembiayaan proyek pembangunan dan mempercepat dedolarisasi di tengah tekanan sanksi internasional yang masih membelenggu negaranya.
1. Kerja sama keuangan konkret lewat bank pembangunan

Kepala Bank Sentral Iran, Abdolnasser Hemmati (Fars Media Corporation, CC BY 4.0, via WIkimedia Commons) Langkah Iran untuk bergabung dengan New Development Bank (NDB) kian mendekati kenyataan setelah pertemuan penting di Jaipur, India. Kepala Bank Sentral Iran, Abdolnasser Hemmati, langsung mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden NDB, Dilma Rousseff, pada Rabu (12/8/2026). Pertemuan ini bertujuan untuk membahas proses keanggotaan serta akses Iran terhadap fasilitas pendanaan bank tersebut. Dilansir Tasnim News Agency, keikutsertaan Iran dinilai penting oleh Rousseff karena potensi besar negara tersebut dalam memperluas kerja sama ekonomi baik di tingkat regional maupun internasional.
Hemmati menegaskan bahwa kelompok BRICS harus mampu mengubah dialog kebijakan menjadi inisiatif yang taktis. Ia menjelaskan bahwa keberadaan lembaga keuangan ini merupakan bukti nyata dari keberhasilan kolaborasi tersebut. "Hasil paling penting dari kerja sama antara negara-negara anggota BRICS adalah pendirian New Development Bank, dan negara kami akan segera menjadi anggota bank ini," ujar Hemmati saat memberikan pernyataan resmi. Melalui keanggotaan ini, Iran bersiap mengambil peran aktif dalam pendanaan proyek infrastruktur yang berkelanjutan.
2. Upaya dedolarisasi menggunakan mata uang lokal

ilustrasi uang (pexels.com/John Guccione www.advergroup.com) Selain bergabung dengan NDB, Teheran juga terus menyuarakan pentingnya pengurangan ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan internasional. Kebijakan dedolarisasi ini dilakukan dengan mendorong penggunaan mata uang nasional masing-masing negara anggota BRICS untuk transaksi bilateral maupun trilateral. Dilansir Modern Diplomacy, negara-negara BRICS memang tengah aktif mempromosikan mekanisme pembayaran yang mandiri dari pengaruh Barat. Upaya ini diharapkan mampu memangkas biaya transaksi serta meminimalkan risiko keuangan yang tidak stabil.
Dalam forum tersebut, Iran menawarkan gagasan untuk mendekatkan infrastruktur sistem pembayaran antarnegara anggota. Mereka berencana memanfaatkan perkembangan teknologi finansial dan kecerdasan buatan demi mempercepat integrasi sistem perbankan tersebut. Dengan demikian, proses transfer dana lintas batas dapat berjalan lebih efisien tanpa harus melewati kliring perbankan Barat. Strategi ini diharapkan mampu menciptakan stabilitas ekonomi yang lebih merata bagi seluruh anggota aliansi.
3. Menghadapi sanksi Barat dengan jaringan baru

Kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons) Keputusan Iran untuk merapat ke bank pembangunan BRICS tidak terlepas dari posisi geopolitiknya yang saat ini tertekan. Negara ini masih menghadapi sanksi ekonomi berskala besar serta tengah terlibat dalam ketegangan militer aktif dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026. Akibatnya, akses Teheran ke pasar modal internasional menjadi sangat terbatas selama bertahun-tahun. Kehadiran NDB pun dipandang sebagai jalan keluar darurat untuk mengamankan aliran investasi asing bagi pembangunan dalam negeri.
Meskipun keanggotaan baru ini tidak serta-merta menghapus sanksi Barat, aliansi ini setidaknya memberikan alternatif jalur keuangan yang lebih aman. Iran dapat membangun kemitraan yang lebih erat dengan negara-negara ekonomi berkembang seperti Tiongkok, Rusia, dan India. Teheran meyakini bahwa kolaborasi keuangan yang solid di dalam wadah BRICS dapat meningkatkan ketahanan nasional mereka. Di sisi lain, langkah strategis ini sekaligus menunjukkan bahwa Iran tidak sepenuhnya terisolasi dari sistem keuangan global.
Langkah taktis Iran ini juga bertepatan dengan ketegangan baru setelah Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa Washington memegang kendali penuh atas aset-aset luar negeri Teheran yang dibekukan senilai miliaran dolar. Trump menyebut AS bertindak sebagai 'bankir' Iran dan mengancam akan membiarkan ekonomi negara tersebut runtuh secara perlahan jika tidak ada kesepakatan damai





















