Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bahlil Akui Ada Pergeseran Konsumsi ke BBM Subsidi

2 min read
Bahlil Akui Ada Pergeseran Konsumsi ke BBM Subsidi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (17/9/2026). (IDN Times/Trio Hamdani)
  • Bahlil Lahadalia mengakui konsumsi masyarakat bergeser dari BBM RON 92 dan RON 95 ke BBM subsidi.
  • Harga minyak dunia yang melampaui 100 dolar AS per barel disebut berdampak pada harga BBM nonsubsidi.
  • Antrean BBM di Makassar disebut telah selesai, sementara stok nasional berada dalam standar minimum hingga 20 hari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui adanya pergeseran konsumsi dari bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi ke BBM subsidi. Masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM RON 92 dan RON 95 mulai beralih ke BBM subsidi.

Menurut Bahlil, kondisi harga minyak dunia yang kini berada di atas 100 dolar AS per barel turut berdampak pada harga BBM nonsubsidi di dalam negeri. Sementara itu, pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi sehingga sebagian masyarakat memilih beralih ke BBM subsidi.

"Sekarang sudah mencapai 100 dolar lebih per barel. Jadi pasti berdampak pada harga nasional di mana harga subsidi kita tidak ada kita naikkan. Jadi pasti orang akan memilih ke sana," kata dia kepada jurnalis di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

  1. 1. Bahlil minta masyarakat mampu tak pakai BBM subsidi

    Ilustrasi: Petugas SPBU sedang mengisikan Pertalite ke mobil konsumen. (Dok. Pertamina)
    Ilustrasi: Petugas SPBU sedang mengisikan Pertalite ke mobil konsumen. (Dok. Pertamina)

    Bahlil meminta masyarakat yang dinilai mampu, termasuk pengguna mobil dengan harga relatif tinggi, tidak menggunakan BBM subsidi. Dia mengingatkan subsidi BBM ditujukan bagi masyarakat yang berhak menerimanya.

    "Saudara-saudara kita yang mampu yang pakai mobil bagus ya tolonglah kan subsidi ini kan untuk saudara-saudara kita yang berhak menerimanya," ujar dia.

  2. 2. Ada mobil pakai tangki modifikasi hingga 1 ton

    Deretan mobil dengan tangki modifikasi yang digunakan menyedot BBM subsidi dari SPBU di Kota Makassar, Senin (14/9/2026). IDN Times/Darsil Y
    Deretan mobil dengan tangki modifikasi yang digunakan menyedot BBM subsidi dari SPBU di Kota Makassar, Senin (14/9/2026). IDN Times/Darsil Yahya

    Bahlil juga menyinggung antrean BBM di Makassar, Sulawesi Selatan. Menurutnya itu disebabkan kendaraan yang menggunakan tangki berkapasitas besar. Berdasarkan temuan polisi, terdapat kendaraan yang sengaja dimodifikasi dengan tangki berkapasitas hingga 700 liter bahkan 1 ton.

    Kendaraan tersebut kemudian digunakan untuk mengisi BBM subsidi. Bahlil menyebut sejumlah kendaraan yang menggunakan tangki besar itu antara lain mobil SUV dan kendaraan lain.

    "Ada temuan dari polisi, itu sengaja membuat tangkinya besar. Ada yang 700 liter, ada yang 1 ton. Kemudian diisi dengan mobil yang baik, dengan mobil Pajero apa segala macam. Jadi itu, itu yang membuat salah satu di antara yang membuat antrean," tuturnya.

  3. 3. Bahlil jamin antrean BBM di Makassar sudah teratasi

    IMG_20260917_114928.jpg
    Aktivitas pengisian BBM di SPBU Rappocini, Kota Makassar, Kamis (17/9/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

    Bahlil mengatakan stok BBM nasional masih berada dalam standar minimum kebutuhan nasional, yakni hingga 20 hari. Sementara itu, antrean BBM yang terjadi di Makassar telah terurai dan selesai. Dia telah melaporkan kondisi tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto.

    Menurut Bahlil, pemerintah berperan sebagai regulator, sedangkan pelaksanaan di lapangan dilakukan Pertamina. Karena itu, dia terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk menangani persoalan tersebut.

    "Dan yang terjadi kemarin di Makassar Alhamdulillah sudah bisa terurai, dan sudah selesai, dan saya sudah laporkan kepada Bapak Presiden," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More