Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Taiwan Naikkan Anggaran Pertahanan Rp617 T demi Hadapi Ancaman China
ilustrasi bendera Taiwan (unsplash.com/Roméo A.)
  • Taiwan menyiapkan anggaran pertahanan terbesar sebesar 1,1 triliun dolar Taiwan untuk 2027, melampaui 3 persen PDB, guna memodernisasi militer dan mencegah perang.
  • Taipei melaporkan 21 pesawat dan tujuh kapal China beroperasi di sekitar Taiwan dalam 24 jam; 13 pesawat melintasi garis median dan memasuki zona identifikasi pertahanan udara.
  • China mengecam Presiden William Lai sebagai separatis dan menolak dialog, sementara Taiwan mengandalkan dukungan keamanan AS serta menunggu persetujuan paket senjata senilai 14 miliar dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Taiwan menyiapkan anggaran pertahanan sebesar 1,1 triliun dolar Taiwan baru untuk 2027. Mengutip DW, alokasi tersebut setara 34,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp617,1 triliun, menjadikannya anggaran pertahanan terbesar yang pernah disiapkan Taiwan.

Anggaran itu melampaui 3 persen produk domestik bruto (PDB) dan akan digunakan untuk melanjutkan modernisasi militer Taiwan guna menghadapi kekuatan angkatan bersenjata China yang jauh lebih besar. Presiden Taiwan William Lai Ching-te menyatakan peningkatan investasi pertahanan tersebut bertujuan mencegah perang, bukan memancing konflik.

Pernyataan itu disampaikan Lai dalam pidato Hari Nasional di luar Kantor Kepresidenan di Taipei. Di hadapan ribuan orang, termasuk diplomat dan tamu asing, ia menyampaikan bahwa Taiwan menghargai perdamaian dan terbuka terhadap pertukaran, tetapi menolak keras segala bentuk subordinasi dari pihak mana pun.

“Tujuan kami dengan meningkatkan investasi dalam pertahanan nasional bukan untuk memprovokasi; melainkan, untuk mencegah perang,” kata Lai.

1. China meningkatkan aktivitas militer di sekitar Taiwan

ilustrasi operasi keamanan di area laut (pexels.com/germannavyphotograph)

Ketegangan antara Taiwan dan China berakar pada peristiwa 1949, ketika pasukan nasionalis pimpinan Chiang Kai-shek mundur ke pulau tersebut setelah kalah dari kelompok komunis yang dipimpin Mao Zedong. Perayaan Hari Nasional tahun ini juga memperingati 115 tahun pemberontakan 1911 yang menggulingkan Dinasti Qing dan melahirkan Republik China, sementara pulau berpenduduk 23 juta jiwa itu terus menghadapi ancaman militer dari Beijing yang mengklaimnya sebagai bagian dari wilayah China.

Aktivitas militer China di sekitar Taiwan turut menjadi perhatian pemerintah Taipei. Dilansir Al Jazeera, Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan mendeteksi 21 pesawat militer dan tujuh kapal angkatan laut China di sekitar pulau tersebut dalam periode 24 jam hingga pukul 06.00 pada Sabtu (10/10/2026).

Dari jumlah tersebut, 13 pesawat melintasi garis median Selat Taiwan, yang sebelumnya berfungsi sebagai batas tidak resmi, lalu memasuki zona identifikasi pertahanan udara Taiwan. Lai menilai Beijing menggunakan pengerahan militer dan aktivitas di zona abu-abu untuk mengubah status quo, sekaligus melakukan intimidasi yang mengganggu stabilitas kawasan.

2. China mengecam Lai karena memperjuangkan kemerdekaan Taiwan

Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Pemerintah China mengecam pidato Lai melalui Kantor Urusan Taiwan China. Beijing menuduh pemimpin Taiwan itu tetap berpegang pada pandangan separatis untuk memperjuangkan kemerdekaan pulau tersebut, serta mengabaikan fakta, memutarbalikkan kebenaran, menyesatkan publik, dan menyembunyikan motif sebenarnya.

Beijing kembali menegaskan klaim kedaulatannya atas Taiwan dengan menyatakan bahwa hanya ada satu China di dunia. Pemerintah China juga menyebut Taiwan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari wilayahnya dan menyatakan masa depan pulau tersebut harus ditentukan bersama oleh seluruh rakyat China.

Atas dasar perbedaan pandangan tersebut, Beijing menyebut Lai sebagai tokoh separatis dan menolak berbagai tawaran dialog. China juga pernah menggelar latihan perang berskala besar setelah pidato Lai pada 2024, disusul latihan militer pada Desember setelah Taipei membeli paket persenjataan senilai 11 miliar dolar AS (sekitar Rp196,9 triliun).

3. Taiwan mengandalkan dukungan keamanan AS

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Lai menyambut dialog antara Washington dan Beijing, tetapi meminta agar hak rakyat Taiwan untuk tetap eksis dihormati. AS telah memindahkan hubungan diplomatik resminya dari Taipei ke Beijing hampir 50 tahun lalu, tetapi tetap menjadi penjamin keamanan terpenting bagi Taiwan.

Kebijakan keamanan AS terhadap Taiwan diperkirakan tetap berlanjut di bawah Presiden Donald Trump. Meski demikian, Trump sempat mengisyaratkan bahwa penjualan senjata dapat menjadi alat tawar setelah bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada Mei lalu.

Taiwan kini menunggu persetujuan Trump atas paket penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS (sekitar Rp250,6 triliun). Paket tersebut mencakup sistem pertahanan udara Patriot, sementara pejabat senior pemerintahan AS menilai pidato rutin Taiwan tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan tindakan agresif.

Sejumlah tokoh dan delegasi internasional turut menghadiri perayaan Hari Nasional di Taipei. Mereka antara lain Raja Eswatini Mswati III, Wakil Gubernur Indiana Micah Beckwith, serta delegasi parlemen Jepang; Eswatini sendiri merupakan satu-satunya sekutu diplomatik resmi Taiwan yang tersisa di benua Afrika.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article