ilustrasi etanol (pexels.com/ThamKC)
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengatakan pemerintah telah menetapkan tahapan pemanfaatan bioetanol melalui Kepmen ESDM Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026. Pada 2026 dan 2027, mandatori ditetapkan 5 persen. Persentase minimal kemudian naik menjadi 10 persen pada 2028-2030.
Pada 2026, penerapan berlaku di Jawa, meliputi Jawa Timur, Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Kebutuhan bensin non-PSO nasional diproyeksikan 6,65 juta kiloliter (kL), dengan kebutuhan E100 sekitar 333 ribu kL jika campuran 5 persen diterapkan. Pada 2027, wilayahnya diperluas ke Bali.
"Ini jenis BBM umum berupa bensin merupakan mandatori sehingga seluruh perusahaan badan usaha yang melakukan blending diwajibkan ke semua, seluruh badan usaha. Dan pada tahun 2026 mandatori diberlakukan untuk 5 persen," katanya dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI, Selasa (8/9/2026).
Pemerintah menyiapkan percepatan campuran menjadi 10 persen pada 2027. Dengan kebutuhan bensin non-PSO 6,81 juta kL, kebutuhan E100 mencapai 681 ribu kL. Tambahan kapasitas produksi yang diproyeksikan mencapai 373 ribu kL dari 15 pabrik.
Pada 2028, wilayah penerapan tetap Jawa dan Bali. Pemerintah menyiapkan percepatan dari mandatori minimal 10 persen menjadi 20 persen. Kebutuhan bensin non-PSO diproyeksikan 6,97 juta kL dan kebutuhan E100 sekitar 1,39 juta kL jika campuran 20 persen diterapkan. Tambahan kapasitas produksi diproyeksikan 498 ribu kL dari 20 pabrik.
Pada 2029, wilayah penerapan direncanakan bertambah ke Lampung. Kebutuhan bensin non-PSO diproyeksikan 7,14 juta kL dan kebutuhan E100 sekitar 1,43 juta kL jika campuran 20 persen diterapkan. Tambahan kapasitas produksi diproyeksikan 273 ribu kL dari 11 pabrik.
Pada 2030, wilayah penerapan masih Jawa, Bali, dan Lampung. Kebutuhan bensin non-PSO diproyeksikan mencapai 7,35 juta kL, sedangkan kebutuhan E100 sekitar 1,47 juta kL jika campuran 20 persen diterapkan. Tambahan kapasitas produksi yang diproyeksikan tetap 273 ribu kL dari 11 pabrik.