Ini Penyebab Belum Semua SPBU Salurkan B50

- Penyaluran B50 di Papua-Maluku tertinggal karena sejumlah SPBU masih memiliki stok B40.
- Pertamina Patra Niaga akan menghabiskan stok B40 di Wayame sebelum mengirimkan B50.
- Secara nasional, 6.050 dari 6.412 SPBU biosolar telah menyalurkan B50, sementara Maluku-Papua baru mencapai 65 persen.
Jakarta, IDN Times - Penyaluran biodiesel B50 di wilayah Papua-Maluku masih tertinggal dibandingkan wilayah lain. Kondisi itu terjadi karena sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Papua-Maluku masih memiliki stok B40.
Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra mengatakan pihaknya akan menghabiskan stok B40 tersebut sebelum mengirimkan B50. Sementara itu, stok B40 di sejumlah wilayah Jawa sudah lebih dulu habis karena permintaan yang lebih tinggi.
"Jadi sebetulnya bukan kami menunda. Jadi di Papua-Maluku saat ini masih terdapat stok B40. Jadi kami menunggu menghabiskan stok B40 ini terlebih dahulu baru akan kita kirim B50," kata dia di Gedung DPR RI, Jakarta, dikutip Rabu (9/9/2026).
1. Stok B40 masih cukup besar

Uji jalan kendaraan menggunakan Biodiesel B40. (dok. Kementerian ESDM) Mars Ega mengatakan permintaan biosolar di Papua-Maluku tidak sebesar wilayah Indonesia bagian tengah dan barat. Kondisi tersebut membuat stok B40 di wilayah Papua-Maluku belum habis.
Terminal utama untuk penyaluran BBM ke wilayah Papua-Maluku berada di Ambon, tepatnya di Wayame. Saat ini, stok B40 di terminal tersebut masih cukup besar. Pertamina Patra Niaga akan menghabiskan stok B40 di Wayame terlebih dahulu.
"Main terminal untuk Papua-Maluku itu ada di Ambon, di Wayame, dan stok B40 di Wayame ini masih cukup besar sehingga kami menghabiskan stok B40 ini dan saat ini sudah kami siapkan untuk B50," ujar dia.
2. Sebanyak 94 persen SPBU nasional sudah salurkan B50

Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (kiri) dan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani (kedua kiri) menyapa wartawan saat meninjau implementasi Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7). (Dok. Pertamina) Secara nasional, penyaluran B50 telah mencapai 94 persen. Dari total 6.412 SPBU yang menyalurkan biosolar, sebanyak 6.050 SPBU sudah menyalurkan B50. Sementara itu, masih terdapat 362 SPBU yang menyalurkan B40.
"Masih terdapat 362 SPBU yang mendistribusikan B40, ini karena faktor handling dan distribusi khususnya ini sebagian besar ada di wilayah-wilayah yang remote area," katanya.
3. Penyaluran B50 di Maluku-Papua baru 65 persen

Peluncuran B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit) Wilayah dengan realisasi penyaluran B50 terendah adalah Maluku-Papua. Dari 399 SPBU yang menyalurkan biosolar di wilayah tersebut, baru 258 SPBU atau 65 persen yang sudah menyalurkan B50.
Realisasi B50 di wilayah lain tercatat lebih tinggi. Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat mencapai 99 persen dengan 966 dari 980 SPBU sudah menyalurkan B50.
Jawa Tengah dan DIY mencapai 98 persen, yakni 886 dari 904 SPBU. Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara mencapai 96 persen atau 1.221 dari 1.272 SPBU.
Sementara itu, Sumatra Bagian Utara mencapai 96 persen atau 944 dari 982 SPBU, Sulawesi 96 persen atau 659 dari 684 SPBU, Kalimantan 95 persen atau 577 dari 609 SPBU, dan Sumatera Bagian Selatan 93 persen atau 539 dari 582 SPBU.




















