Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menuturkan bahwa ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran tetap mempertahankan premi risiko geopolitik atau kekhawatiran pasar terhadap situasi politik di suatu wilayah. Hal itu terjadi meski produksi minyak mentah AS mencapai rekor tertinggi yang menunjukkan pasokan global meningkat.
"Para pedagang tetap fokus pada perkembangan di Doha setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS yang telah melakukan perjalanan ke wilayah tersebut, dan malah mengatakan bahwa setiap diskusi akan dilakukan melalui mediator di tingkat teknis," ujarnya.
Kondisi tersebut memperburuk ketidakpastian seberapa cepat kedua negara dapat menyelesaikan masalah, termasuk masa depan Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi penting.
Sebelumnya, harga minyak mentah sempat anjlok, dengan harga Brent turun sekitar 38 persen pada kuartal kedua, penurunan kuartalan terdalam sejak awal 2020, seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan.