Ekspor Indonesia per Mei 2026 Susut 5,73 Persen

- Nilai ekspor Indonesia Mei 2026 turun 5,73 persen menjadi 23,20 miliar dolar AS, dipicu penurunan ekspor migas dan nonmigas terutama logam mulia, bijih logam, serta besi baja.
- Secara kumulatif Januari–Mei 2026, ekspor Indonesia masih tumbuh 3,02 persen mencapai 115,36 miliar dolar AS berkat kenaikan ekspor nonmigas meski migas menurun.
- Kenaikan ekspor nonmigas didorong sektor industri pengolahan seperti olahan nikel dan minyak sawit, dengan China tetap menjadi pasar utama meningkat 17,68 persen.
Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 23,20 miliar dolar AS. Angka itu turun 5,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, penurunan terjadi pada ekspor migas maupun nonmigas. Nilai ekspor migas tercatat sebesar 760 juta dolar AS atau turun 31,76 persen, sedangkan ekspor nonmigas turun 4,50 persen menjadi 22,45 miliar dolar AS.
"Pada Mei 2026 nilai ekspor mencapai 23,20 miliar dolar AS atau turun 5,73 persen dibandingkan Mei 2025. Sedangkan nilai ekspor nonmigas mengalami penurunan 4,50 persen menjadi 22,45 miliar dolar AS," kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
1. Faktor pendorong ekspor susut

Menurut Ateng, penurunan ekspor secara tahunan terutama dipicu melemahnya ekspor sejumlah komoditas nonmigas. Komoditas yang mengalami penurunan paling dalam adalah logam mulia dan perhiasan atau permata yang anjlok 59,35 persen dengan andil negatif sebesar 2,93 persen terhadap total ekspor.
Selanjutnya, bijih logam, terak, dan abu turun 99,25 persen dengan andil negatif 2,37 persen, serta besi dan baja turun 14,68 persen dengan andil negatif 1,67 persen.
"Penurunan ekspor Mei 2026 secara tahunan terutama didorong oleh penurunan nilai ekspor nonmigas pada beberapa komoditas. Pertama, logam mulia dan perhiasan atau permata turun 59,35 persen dengan andil negatif 2,93 persen terhadap total ekspor. Kedua, bijih logam, terak, dan abu turun 99,25 persen dengan andil negatif 2,37 persen. Selanjutnya, besi dan baja turun 14,68 persen dengan andil negatif 1,67 persen," tuturnya.
2. Kinerja ekspor Januari-Mei capai 115,36 miliar dolar AS

Meski demikian, secara kumulatif kinerja ekspor sepanjang Januari–Mei 2026 masih mencatat pertumbuhan mencapai 115,36 miliar dolar AS, naik 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 3,89 persen menjadi 110,19 miliar dolar AS, meski ekspor migas turun 12,71 persen menjadi 5,17 miliar dolar AS.
3. Kenaikan ekspor nonmigas periode Januari-Mei didorong industri pengolahan

BPS mencatat, peningkatan ekspor nonmigas sepanjang Januari–Mei 2026 terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang menyumbang andil terbesar terhadap kenaikan ekspor, yakni 5,38 persen.
Produk yang menopang kenaikan tersebut antara lain hasil olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, kimia dasar anorganik lainnya, serta semi aluminium.
Dari sisi tujuan ekspor, China masih menjadi pasar utama. Nilai ekspor nonmigas ke negara tersebut mencapai 28,54 miliar dolar AS, meningkat 17,68 persen dibandingkan Januari–Mei 2025.
















