Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tekanan Global Bikin Rupiah Melemah Lagi, Tembus Rp17.952 per Dolar AS

Tekanan Global Bikin Rupiah Melemah Lagi, Tembus Rp17.952 per Dolar AS
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Rupiah ditutup melemah ke Rp17.952 per dolar AS, turun 45 poin atau 0,25 persen akibat tekanan global dan ketidakpastian geopolitik.
  • Ketegangan AS-Iran serta fokus pasar pada data tenaga kerja dan kebijakan suku bunga The Fed memengaruhi sentimen investor.
  • Defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar 1,61 miliar dolar AS memperburuk tekanan terhadap rupiah yang diproyeksikan masih fluktuatif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (1/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup di level Rp17.952 per dolar AS.

Posisi sore ini menunjukkan rupiah melemah 45 poin atau 0,25 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.906. Rupiah bahkan sempat melemah lebih dalam hingga 70 poin sebelum akhirnya memangkas sebagian pelemahannya.

1. Ketidakpastian AS-Iran masih membayangi pasar

​Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menuturkan bahwa ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran tetap mempertahankan premi risiko geopolitik atau kekhawatiran pasar terhadap situasi politik di suatu wilayah. Hal itu terjadi meski produksi minyak mentah AS mencapai rekor tertinggi yang menunjukkan pasokan global meningkat.

"​Para pedagang tetap fokus pada perkembangan di Doha setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS yang telah melakukan perjalanan ke wilayah tersebut, dan malah mengatakan bahwa setiap diskusi akan dilakukan melalui mediator di tingkat teknis," ujarnya.

​Kondisi tersebut memperburuk ketidakpastian seberapa cepat kedua negara dapat menyelesaikan masalah, termasuk masa depan Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi penting.

Sebelumnya, harga minyak mentah sempat anjlok, dengan harga Brent turun sekitar 38 persen pada kuartal kedua, penurunan kuartalan terdalam sejak awal 2020, seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan.

2. Pasar menanti keputusan kebijakan The Fed

​Investor kini memantau data tenaga kerja AS sebagai petunjuk kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Laporan JOLTS menunjukkan lowongan kerja pada Mei naik menjadi 7,594 juta, melampaui ekspektasi 7,3 juta.

​Sementara itu, Indeks Kepercayaan Konsumen AS pada Juni membaik karena turunnya harga bahan bakar akibat gencatan senjata. Fokus pasar kini tertuju pada data Nonfarm Payrolls (NFP), yakni laporan jumlah tenaga kerja di luar sektor pertanian yang akan dirilis lebih cepat pada Kamis karena libur di AS.

"Data pasar tenaga kerja AS minggu ini akan dipantau dengan cermat untuk mendapatkan petunjuk baru tentang langkah kebijakan Fed selanjutnya," tuturnya.

3. Rupiah berpotensi melemah lagi pada Kamis

​Pasar juga merespons negatif rilis data neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 yang defisit 1,61 miliar dolar AS. Itu adalah defisit pertama sejak 6 tahun terakhir, memutus tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

​Defisit terjadi karena nilai impor mencapai24,81 miliar dolar AS, sementara ekspor hanya 23,20 miliar dolar AS. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor migas melonjak 70,78 persen secara tahunan menjadi 4,51 miliar dolar AS, sementara impor nonmigas naik 14,69 persen menjadi 20,30 miliar dolar AS.

Untuk perdagangan Kamis (2/7/2026), Ibrahim memproyeksikan mata uang Garuda masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.950 hingga Rp18.010 per dolar AS.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More