Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Timur Tengah Memanas Lagi, Rupiah Keok ke Rp17.744 per Dolar AS

Timur Tengah Memanas Lagi, Rupiah Keok ke Rp17.744 per Dolar AS
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup melemah 22 poin atau 0,12 persen ke Rp17.744 per dolar AS pada Selasa.
  • Ketegangan AS-Iran dan risiko pelayaran di Selat Hormuz menjadi perhatian pasar.
  • Sinyal hawkish The Fed mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 22 poin atau 0,12 persen ke level Rp17.744 per dolar AS. Padahal, mata uang Garuda sempat menguat 5 poin pada perdagangan hari ini. Posisi tersebut lebih lemah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.722 per dolar AS.

  1. 1. Ketegangan AS-Iran kembali memanas

    Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran.

    Menurut dia, ancaman tersebut muncul setelah AS dan Iran kembali terlibat aksi saling serang secara langsung pada Minggu. Peristiwa itu menjadi konfrontasi langsung pertama dalam sebulan terakhir dan kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap konflik yang sebelumnya mulai bergeser menjadi persoalan ekonomi.

    "Upaya para mediator, termasuk Qatar dan Oman, untuk menengahi kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz jalur yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global sebelum perang pecah pada akhir Februari sejauh ini belum membuahkan hasil yang berarti," kata Ibrahim.

    Padahal, sebelum perang pecah pada akhir Februari, jalur perairan tersebut menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Iran kemudian menutup Selat Hormuz setelah mendapat serangan dari AS dan Israel pada 28 Februari.

    Risiko terhadap pelayaran dan pasokan minyak juga masih terlihat. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Selasa melaporkan sebuah kapal tanker terkena tiga proyektil saat berlayar keluar dari Selat Hormuz. Tidak ada laporan korban jiwa maupun dampak terhadap lingkungan akibat insiden tersebut.

  2. 2. Sinyal hawkish The Fed tekan rupiah

    Dari sisi global, Ibrahim mengatakan penguatan dolar AS turut dipengaruhi oleh pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole yang dinilai hawkish.

    Sikap tersebut kembali meningkatkan ekspektasi pasar bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga paling cepat pada September. Ekspektasi itu turut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek.

    Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sekitar 66 persen. Angka itu meningkat tajam dari sekitar 38 persen sebelum pidato Warsh.

    "Fokus pasar hari ini adalah rilis data PMI Manufaktur dan JOLTS Job Openings dengan fokus utama minggu ini adalah data ketenagakerjaan utama AS data Nonfarm Payrolls yang akan dirilis pada hari Jumat," ujar Ibrahim.

    PMI Manufaktur merupakan indikator yang menggambarkan aktivitas dan kondisi sektor manufaktur. Sementara JOLTS Job Openings mengukur jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia di AS.

    Kemudian, perhatian pasar pada pekan ini akan tertuju pada data ketenagakerjaan utama AS, yakni Nonfarm Payrolls (NFP), yang dijadwalkan dirilis pada Jumat.

  3. 3. Rupiah diproyeksi kembali melemah pada Rabu

    Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Namun, mata uang Garuda berpotensi kembali ditutup melemah. Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.740 hingga Rp17.790 per dolar AS.

    Proyeksi tersebut mempertimbangkan sentimen dari perkembangan konflik AS-Iran, kondisi pasar minyak global, serta ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More