Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tren Investasi Baru: Perhiasan Batu Permata kian Diminati Orang Kaya
ilustrasi perhiasan batu topaz (pexels.com/Galt Couture)
  • Perhiasan batu permata kini jadi tren investasi baru di kalangan kaya karena dianggap aset fisik yang tahan gejolak ekonomi dan punya nilai prestise tinggi.
  • Nilai jual kembali perhiasan branded dengan batu langka terbukti kuat, bahkan bisa melampaui estimasi lelang berkat reputasi merek dan daya tahan materialnya.
  • Kenaikan minat juga didorong generasi muda yang melihat batu permata berwarna sebagai kombinasi antara karya seni, simbol gaya hidup, dan instrumen diversifikasi aset jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dulu investasi identik dengan saham, properti, atau emas batangan, sekarang ada tren baru yang mulai mencuri perhatian kalangan kaya, yakni perhiasan batu permata. Bukan sekadar aksesori mewah, perhiasan dengan batu berwarna seperti ruby, safir, emerald, sampai Paraiba tourmaline kini makin sering dilihat sebagai aset bernilai tinggi.

Di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, banyak orang berduit mulai melirik aset fisik yang lebih tahan gejolak. Menariknya, tren ini bukan cuma soal nilai material, tapi juga soal prestise, kelangkaan, dan nilai emosional.

Buat kamu yang penasaran kenapa batu permata makin dilirik sebagai instrumen penyimpan nilai, ada beberapa alasan menarik di balik fenomena ini. Yuk, simak poin-poinnya sampai habis karena tren ini bisa mengubah cara pandang soal investasi mewah.

1. Aset fisik terasa lebih aman saat ekonomi gak menentu

ilustrasi perhiasan batu ruby (unsplash.com/hoylee song)

Saat kondisi ekonomi global dipenuhi inflasi, ketegangan geopolitik, dan pasar keuangan yang naik turun, investor kaya biasanya mencari aset yang lebih “nyata”. Di sinilah perhiasan batu permata mulai dianggap menarik karena punya bentuk fisik, mudah dipindahkan, sekaligus menyimpan nilai tinggi dalam ukuran kecil.

Dikutip dari CNBC International, Presiden perusahaan manajemen investasi Papamarkou Wellner Perkin, Thorne Perkin menjelaskan, aset berwujud cenderung lebih diminati ketika volatilitas makro meningkat karena nilainya relatif mampu bertahan, bahkan bisa naik saat inflasi.

Selain itu, perhiasan branded dengan batu langka juga punya fungsi seperti portable store of value, alias penyimpan kekayaan yang bisa dibawa ke mana saja. Berbeda dari aset digital atau instrumen pasar modal, kamu bisa langsung melihat, menyimpan, bahkan memakainya. Faktor inilah yang membuat kalangan ultrakaya merasa lebih nyaman mengalihkan sebagian portofolionya ke hard luxury seperti fine jewelry.

2. Nilai jual kembali perhiasan lebih kuat

ilustrasi perhiasan emas (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Salah satu alasan tren ini makin besar adalah resale value yang cukup solid. Banyak kolektor rela membayar mahal untuk perhiasan dari rumah mode ternama karena reputasi brand ikut menjaga harga di pasar sekunder. Bahkan ada kasus kalung Tiffany & Co. dengan Paraiba tourmaline biru yang terjual lebih dari 10 kali estimasi awal di rumah lelang, menunjukkan betapa kuatnya minat pembeli premium.

Kalau dibandingkan tas mewah, perhiasan memang cenderung lebih tahan lama. Tas kulit bisa mengalami wear and tear lebih cepat, sementara emas dan batu mulia tetap mempertahankan kualitasnya selama dirawat dengan baik. Karena itulah banyak investor kaya melihat perhiasan bukan hanya barang koleksi, tapi juga aset yang punya peluang dijual lagi dengan harga kompetitif beberapa tahun ke depan.

3. Batu permata berwarna sedang jadi primadona

ilustrasi perhiasan batu ruby (unsplash.com/Ömer Evren)

Tren paling panas saat ini ada pada colored gemstones. Safir, ruby, emerald, sampai batu langka seperti Paraiba tourmaline sedang naik daun karena dianggap lebih unik dibanding berlian biasa.

Jewelry designer sekaligus Co-creative Director rumah perhiasan Italia Buccellati, Lucrezia Buccellat menjelaskan bahwa batu berwarna memberi ruang kreativitas desain yang lebih luas sekaligus terasa lebih personal bagi pembeli.

Daya tarik lainnya ada pada kelangkaan. Batu permata berkualitas tinggi makin sulit ditemukan dari alam, sementara karakter inklusi alami justru membuat tiap batu terasa eksklusif.

Karena gak ada dua batu yang benar-benar sama, banyak kolektor menganggapnya mirip karya seni. Nilai unik ini yang bikin harga batu berwarna sering melonjak jauh di atas estimasi lelang dalam beberapa tahun terakhir.

4. Ada unsur gengsi sekaligus passion investment

ilustrasi perhiasan (pexels.com/Galt Couture)

Perhiasan batu permata bukan cuma soal cuan, tapi juga soal rasa memiliki sesuatu yang spesial. Perkin menggambarkan tren ini sebagai passion investment, yaitu aset yang dibeli bukan hanya untuk keuntungan, tapi juga kepuasan emosional. Bagi investor kaya, prestige dari memakai atau memiliki koleksi langka jadi nilai tambah yang gak bisa diukur dengan angka.

Apalagi kalau perhiasannya berasal dari brand besar seperti Cartier, Tiffany & Co., Bulgari, atau Van Cleef & Arpels. Nama besar, craftsmanship, dan unsur scarcity membuat harga cenderung naik secara bertahap dalam jangka panjang. Dalam horizon 5-10 tahun, bukan hal aneh kalau pemilik bisa menjual kembali di atas harga beli awal, terutama untuk seri ikonik dan batu dengan kualitas exceptional.

5. Investor muda ikut mendorong tren kenaikan

ilustrasi cincin tunangan (pexels.com/Western Sydney Wedding Photo and Video)

Menariknya, tren investasi perhiasan gak hanya digerakkan generasi lama. Konsumen milenial dan Gen Z mulai masuk ke pasar luxury jewelry, terutama untuk batu permata berwarna yang terasa lebih fresh dan personal. Popularitas cincin tunangan dengan safir atau emerald juga meningkat tajam dibanding satu dekade lalu, menandakan selera pasar mulai berubah.

Masuknya generasi muda bikin tren ini berpotensi bertahan lebih lama. Mereka cenderung menyukai barang yang punya cerita, estetika kuat, sekaligus bisa jadi aset. Kombinasi antara nilai emosional, visual yang artistik, dan potensi apresiasi harga membuat batu permata terasa relevan dengan gaya investasi generasi baru.

Perhiasan batu permata kini bukan lagi sekadar simbol kemewahan, tapi mulai dipandang sebagai aset alternatif yang menarik, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi. Nilai fisik, daya tahan resale, kelangkaan batu berwarna, sampai unsur gengsi membuatnya semakin diminati kalangan kaya dan investor muda.

Meski begitu, kamu tetap perlu memahami bahwa likuiditasnya gak secepat saham atau ETF, ya, plus ada biaya penyimpanan dan faktor keamanan. Karena itu, perhiasan lebih cocok dijadikan diversifikasi aset atau passion investment jangka panjang, bukan satu-satunya instrumen utama. Kalau tren ekonomi global masih penuh gejolak, bukan gak mungkin batu permata bakal terus bersinar sebagai salah satu bentuk investasi mewah paling menarik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team