Rupiah Ambruk Nyaris Tembus Rp17.800 per Dolar AS Jelang Libur

- Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.796 per dolar AS, turun 52 poin akibat tekanan eksternal menjelang libur nasional Idul Adha.
- Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran memicu ketidakpastian global yang memperburuk sentimen pasar dan menahan harga minyak mentah.
- Pelemahan rupiah meningkatkan biaya produksi industri berbasis impor, memicu lonjakan PHK hingga lebih dari 15 ribu pekerja sejak awal tahun.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan tren pelemahan pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026). Rupiah nyaris menyentuh Rp17.800 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup merosot 52 poin atau sebesar 0,29 persen ke level Rp17.796 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat jatuh hingga 55 poin dari posisi penutupan kemarin di level Rp17.744.
1. Gencatan senjata AS-Iran goyang akibat serangan baru
Pelemahan rupiah dipicu memanasnya situasi geopolitik global setelah militer AS meluncurkan serangan baru terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan pada Senin malam.
Pihak Washington mengeklaim tindakan tersebut sebagai upaya bela diri dan menyatakan gencatan senjata tetap berlaku, meski respons Teheran belum dapat dipastikan.
"Namun, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, terutama setelah Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut," kata Ibrahim.
Ketidakpastian di lapangan menahan penurunan harga minyak mentah, walaupun harga sempat merosot tajam pada hari Senin.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemajuan negosiasi dengan mengeklaim Iran akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya, meski Teheran membantahnya namun menyatakan tetap terbuka untuk berunding.
2. Rupiah loyo picu biaya produksi mahal dan badai PHK
Merosotnya nilai tukar rupiah kini memicu krisis kepercayaan yang merembet ke sektor riil. Mahalnya dolar AS mendongkrak biaya produksi perusahaan, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor.
"Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, namun konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri nonsubsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan," papar Ibrahim.
Akibatnya, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) melonjak tajam dalam satu bulan terakhir karena perusahaan melakukan efisiensi hingga menutup operasional.
"Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja terdampak PHK mencapai 15.425 orang sepanjang Januari hingga April 2026 dan dimungkinkan PHK besar akan berlanjut dibulan berikutnya," ujar Ibrahim.
3. Proyeksi nilai tukar rupiah saat libur Idul Adha
Ibrahim memproyeksikan pada perdagangan Rabu (26/5/2026), di tengah momentum libur nasional Hari Raya Idul Adha, pergerakan rupiah akan fluktuatif namun tetap ditutup melemah pada rentang level Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar AS.
"Pelemahan mata uang rupiah di hari ini cukup signifikan, ya. Pelemahannya begitu mengkhawatirkan apalagi besok di libur nasional yang kemungkinan besar tekanan eksternal ini akan cukup tinggi. Bank Indonesia tidak lagi bisa melakukan intervensi di pasar domestik," kata dia.


















