Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Trik Restoran yang Bisa Membuat Kamu Mengeluarkan Uang Lebih Banyak
Ilustrasi makan di restoran (freepik.com)
  • Desain menu, penempatan hidangan premium, foto, dan deskripsi menggoda dapat mengarahkan pilihan pelanggan; menetapkan kisaran budget sebelum memilih membantu menjaga pengeluaran.
  • Appetizer, refill berbayar, topping, upgrade, serta sistem à la carte dapat menambah biaya di luar harga menu utama; pelanggan perlu mengecek harga dan komponen pesanan.
  • Program loyalitas, voucher, dan target transaksi berpotensi mendorong belanja tambahan demi reward; manfaatkan sebagai bonus dari pengeluaran yang sudah direncanakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makan di luar sudah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang Indonesia. Mulai dari makan siang setelah bekerja, nongkrong bersama teman, dinner saat akhir pekan, sampai sekadar membeli kopi dan camilan setelah pulang kantor. Sekilas, satu kali makan mungkin terasa tidak terlalu mahal. Namun, kalau dilakukan beberapa kali dalam seminggu, pengeluarannya bisa cukup besar dan diam-diam menggerus budget bulanan.

Yang membuatnya semakin mudah terjadi adalah berbagai strategi yang digunakan restoran untuk meningkatkan nilai transaksi. Tidak semuanya merupakan sesuatu yang buruk—bagaimanapun juga, restoran adalah bisnis. Namun, beberapa strategi tersebut bisa membuat pelanggan membeli lebih banyak daripada yang sebenarnya mereka rencanakan.

Mulai dari desain menu, tawaran tambahan, hingga promo loyalty, berikut enam cara yang bisa membuat tagihan restoran membengkak tanpa kamu sadari, seperti dikutip dari GOBankingRates.

1. Desain menu bisa mengarahkan pilihanmu

Ilustrasi makan di restoran (magnific.com)

Saat masuk restoran, menu mungkin terlihat seperti sekadar daftar makanan dan harga. Padahal, cara menu disusun bisa memengaruhi makanan mana yang pertama kali menarik perhatianmu.

Restoran dapat menempatkan menu tertentu di bagian yang paling mudah dilihat, menggunakan foto makanan yang menggugah selera, atau memberikan deskripsi yang membuat sebuah hidangan terdengar jauh lebih menarik.

Misalnya, dibandingkan hanya menulis "Nasi Goreng Ayam", restoran bisa menggunakan nama dan deskripsi yang lebih menggoda seperti "Signature Smoky Chicken Fried Rice". Tanpa sadar, kamu mungkin menjadi lebih tertarik pada menu tersebut.

Ada juga restoran yang menampilkan menu premium atau signature dish dengan posisi yang sangat menonjol. Bukan berarti menu tersebut tidak layak dibeli, tetapi jangan sampai tampilan menu membuatmu lupa pada budget yang sudah ditentukan.

Tips: sebelum memilih, tentukan dulu kisaran budget makanmu. Jangan hanya memilih berdasarkan makanan yang terlihat paling menarik di halaman menu.

2. Appetizer atau menu tambahan bisa membuat bill membengkak

Ilustrasi appetizer (magnific.com)

"Untuk appetizer-nya mau sekalian, Kak?"

Pertanyaan sederhana seperti ini mungkin sering kamu dengar ketika makan di restoran. Karena terdengar seperti rekomendasi, kamu mungkin spontan menjawab, "Boleh."

Padahal, kalau tujuan awal kamu hanya makan nasi, pasta, steak, atau makanan utama lainnya, appetizer sebenarnya merupakan pengeluaran tambahan.

Di restoran Indonesia, tawaran seperti ini bisa muncul dalam berbagai bentuk: kentang goreng, calamari, chicken wings, dimsum, tahu crispy, garlic bread, hingga platter untuk sharing.

Satu menu tambahan mungkin hanya Rp30 ribu–Rp50 ribu. Namun, jika ditambah minuman, dessert, dan menu lainnya, total tagihan bisa meningkat cukup jauh.

Bukan berarti kamu harus selalu menolak appetizer. Kalau memang ingin dan sudah memasukkannya ke budget, silakan. Yang penting, pastikan kamu memesannya karena memang ingin, bukan sekadar karena ditawarkan.

3. Jangan langsung menganggap refill itu gratis

Ilustrasi refill minuman (magnific.com)

Refill minuman memang terdengar menarik, terutama jika kamu makan di restoran yang menawarkan teh atau minuman tertentu. Namun, jangan langsung berasumsi bahwa setiap refill gratis.

Beberapa restoran memang menawarkan free refill untuk minuman tertentu, tetapi ada juga yang tetap mengenakan biaya tambahan. Bahkan, harga refill bisa berbeda tergantung jenis minumannya.

Hal yang sama berlaku untuk air mineral. Di beberapa tempat, air putih yang diberikan ke meja bisa saja gratis, sementara air mineral dalam botol tentu masuk ke dalam tagihan.

Jadi, sebelum meminta refill kedua atau ketiga, tidak ada salahnya bertanya kepada pelayan:

"Kak, ini free refill atau ada charge tambahan?"

Pertanyaan sederhana tersebut bisa menyelamatkanmu dari biaya yang tidak terduga saat tagihan datang.

4. Topping dan extra bisa diam-diam menambah tagihan

Ilustrasi uang (freepik.com)

"Tambah telur, Kak?"

"Tambah keju?"

"Mau tambah ayam?"

"Upgrade nasinya?"

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat umum ditemukan, terutama di restoran casual, coffee shop, hingga gerai makanan cepat saji.

Masalahnya, tambahan tersebut sering kali terasa kecil. Tambah telur Rp10 ribu mungkin tidak terasa berat. Tambah keju Rp15 ribu juga terlihat sepele. Namun, jika kamu mengambil beberapa tambahan sekaligus, harga makanan yang awalnya Rp50 ribu bisa berubah menjadi Rp80 ribu atau bahkan lebih.

Hal yang sama juga berlaku ketika kamu memilih upgrade ukuran minuman atau menambahkan extra shot espresso di coffee shop.

Sebelum mengatakan "iya", biasakan melihat harga tambahannya terlebih dahulu. Kalau memang sesuai budget dan membuat makanan lebih sesuai selera, tentu tidak masalah.

5. Harga À La Carte bisa membuat total pesanan jauh lebih mahal

Salah satu hal yang sering membuat pelanggan salah memperkirakan biaya makan adalah sistem à la carte. Misalnya, kamu melihat steak seharga Rp150 ribu dan merasa harganya masih masuk akal. Setelah memesan, kamu baru menyadari bahwa kentang, sayuran, saus, minuman, bahkan nasi harus dibeli secara terpisah.

Akhirnya, makanan yang terlihat seharga Rp150 ribu bisa menjadi Rp200 ribu–Rp250 ribu setelah semua komponen ditambahkan. Hal serupa bisa terjadi di restoran Jepang, Korea, western restaurant, maupun beberapa coffee shop dan restoran modern. Karena itu, jangan hanya melihat harga menu utama. Coba perkirakan total satu kali makan, termasuk service charge dan pajak jika berlaku.

Misalnya:

  • Main course: Rp150.000

  • Minuman: Rp35.000

  • Side dish: Rp30.000

  • Dessert: Rp40.000

  • Pajak dan service charge: tambahan sesuai restoran

Menu yang awalnya terlihat Rp150 ribu akhirnya bisa membuat kamu membayar lebih dari Rp250 ribu.

6. Loyalty program bisa membuatmu lebih sering belanja

Ilustrasi loyalty program (magnific.com)

"Sudah punya member kami?"

Pertanyaan ini hampir tidak asing bagi pelanggan di Indonesia. Banyak restoran, coffee shop, dan brand F&B menawarkan loyalty program berupa poin, stamp, voucher, cashback, atau diskon khusus member.

Dari sisi pelanggan, program ini memang bisa menguntungkan. Kalau kamu memang rutin mengunjungi tempat tersebut, mendapatkan potongan harga atau reward tentu bisa membantu menghemat. Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan.

Promo seperti "kumpulkan 10 stamp untuk mendapatkan 1 gratis" atau "belanja minimal Rp200 ribu untuk mendapatkan voucher Rp50 ribu" dapat membuat seseorang mengeluarkan uang lebih banyak hanya demi mengejar reward.

Misalnya, kamu sebenarnya tidak berencana membeli makanan tambahan. Namun, karena transaksi kamu kurang Rp30 ribu untuk mendapatkan voucher, akhirnya kamu memesan dessert.

Pada akhirnya, kamu memang mendapatkan reward, tetapi juga mengeluarkan uang yang sebelumnya tidak ada dalam rencana. Jadi, gunakan loyalty program sebagai bonus dari pengeluaran yang memang sudah kamu rencanakan, bukan sebagai alasan untuk berbelanja lebih banyak.

7. Jangan sampai makan enak berujung menyesal saat tagihan datang

Ilustrasi tidak punya uang (pexels.com/@olly)

Makan di restoran bukan sesuatu yang harus dihindari hanya demi menghemat uang. Sesekali menikmati makanan favorit, mencoba restoran baru, atau nongkrong bersama teman tentu bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang menyenangkan.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pengeluaran kecil dapat menumpuk tanpa terasa. Mulai dari appetizer, topping tambahan, upgrade minuman, refill, dessert, hingga biaya service dan pajak, semuanya bisa membuat tagihan akhir berbeda jauh dari perkiraan awal.

Karena itu, sebelum memesan, biasakan melihat harga total, bukan hanya harga makanan utama. Tanyakan biaya tambahan jika belum jelas dan jangan merasa harus menerima setiap tawaran yang diberikan pelayan.

Dengan sedikit lebih sadar saat memesan, kamu tetap bisa menikmati pengalaman makan di luar tanpa membuat budget bulanan berantakan. Karena pada akhirnya, masalahnya bukan berapa mahal makanan yang kamu beli, tetapi apakah pengeluaran tersebut memang sudah kamu rencanakan dan sesuai dengan kemampuan finansialmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article