ilustrasi kilang minyak (unsplash.com/American Public Power Association)
Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA) yang dikutip dari tayangan berita SkyNews, Minggu (4/1/2025), sebagai negara produsen minyak, AS juga melakukan impor minyak dalam skala besar.
Impor minyak yang dilakukan AS terbagi menjadi tiga jenis, yakni minyak dengan densitas ringan (light oil), minyak dengan densitas sedang (medium oil), minyak dengan densitas berat (heavy oil).
Tingkat densitas itu menunjukkan perbedan kandungan sulfur, mulai dari rendah untuk light oil, sedang untuk medium oil, dan padat atau kental untuk heavy oil.
Pada tahun 1970-an, impor heavy oil AS hanya 12 persen dari total impor minyak mentah. Namun, per 2025, impor minyak mentah yang dilakukan AS, 70 persennya adalah heavy oil.
Impor minyak mentah yang dilakukan AS sebagian besar berasal dari Kanada. Pada tahun 2000-an, impor minyak mentah dari Kanada hanya 15 persen, dan per 2024 meningkat menjadi 61 persen.
Lantas, mengapa minyak mentah di Venezuela penting bagi AS?
Berdasarkan analisis SkyNews, kilang-kilang minyak di AS sebagian besar dirancang untuk mengolah heavy oil.
Adapun kilang-kilang dengan kapasitas besar di AS terletak di wilayah Utara dekat dengan Kanada, dan juga di wilayah Selatan, dekat dengan Venezuela.
Jika melihat kebutuhan kilang minyak AS, faktanya memang hanya ada tiga negara di dunia dengan sumber heavy oil terbesar, yaitu Kanada, Venezuela, dan terakhir adalah Rusia.
Selain itu, Venezuela memiliki pasokan minyak mentah yang masih tersedia sebanyak 304 miliar barel. Angka tersebut merupakan yang terbesar di dunia, mengalahkan negara-negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Libya. Kapasitas sumber minyak mentah yang masih tersedia di Venezuela juga melampaui AS, Kanada, dan Rusia.