Riwayat Nilai Tukar Dolar ke Rupiah dari Masa ke Masa

- Sejak 1950, nilai tukar rupiah terhadap dolar terus berubah dipengaruhi kondisi politik, ekonomi global, dan kebijakan pemerintah dari era Soekarno hingga Prabowo.
- Rupiah pernah mencapai titik terendah saat krisis moneter 1998 di era Soeharto dan kembali melemah tajam pada masa pandemi COVID-19 di pemerintahan Joko Widodo.
- Pada 2026 di bawah kepemimpinan Prabowo, nilai tukar rupiah menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah yaitu sekitar Rp18.038 per dolar Amerika Serikat.
Nilai tukar dolar ke rupiah terus berubah tiap waktu. Ada masanya rupiah menguat, tapi tak jarang melemah sebagimana yang terjadi dalam beberapa waktu kebelakang. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari gejolak ekonomi global hingga diberlakukannya regulasi baru.
Jika melihat ke belakang, riwayat nilai tukar dolar ke rupiah dari masa ke masa sangat berbeda, baik saat era Presiden Soekarno, B.J. Habibie, hingga kini Prabowo Subianto. Penasaran bagaimana perkembangannya? Yuk, kita ulik di artikel berikut!
Table of Content
1. Nilai tukar rupiah masa Presiden Soekarno
Pada 1950 rupiah menjadi mata uang resmi di Indonesia. Kala itu, nilai tukarnya ke dolar cukup kuat, sekitar Rp3,80 per dolar Amerika Serikat. Meski begitu, sebagai mata uang baru rupiah tak bisa mempertahankan kekuatannya dalam waktu lama. Pada 1957 nilai tukarnya merosot ke angka Rp90 per dolar dikarenakan adanya peperangan dan berbagai konflik dalam negeri.
Pada 1962 rupiah kembali anjlok dan nilai tukarnya menyentuh angka Rp1.205 per dolar. Setelah peristiwa G30S PKI nilai tukar rupiah jatuh ke salah satu titik terendahnya, berada pada angka Rp4.995 per dolar. Penurunan tersebut membuat pemerintah terpuruk.
2. Nilai tukar rupiah masa Presiden Soeharto

Setelah Soeharto naik menjadi presiden untuk menggantikan Seokarno, beliau mencoba menstabilkan nilai tukar rupiah. Salah satu upaya yang dilakukan Soeharto adalah redenomisasi pada Desember 1965 yang berhasil menekan nilai rupiah ke Rp0,25 per dolar. Angka tersebut berhasil bertahan hingga akhirnya pada 1970 rupiah mulai melemah dengan nilai tukar mencapai Rp250 per dolar.
Angka tersebut terus bergejolak, terkadang naik, tapi ada kalanya turun. Contohnya, pada 1987 nilai tukar rupiah ada pada angka Rp625 per dolar, pada 1983 di angka Rp970 per dolar, dan pada 1986 Rp1.664 per dolar. Hal tersebut membuktikan bahwa Presiden Soeharto berhasil menjaga nilai tukar rupiah dengan cukup baik dan terbilang stabil. Barulah pada dekade 1990-an rupiah berada di titik terendahnya karena hantaman krisis moneter.
Pada 1995 kurs rupiah berada pada angka Rp2.248 per dolar. Pada 1997 terjun bebas menjadi Rp5.915 per dolar. Tak berselang lama rupiah terus merosot ke angka Rp14.800 per dolar pada 1998.
Menariknya, pada Februari 1998 rupiah sempat menguat ke angka Rp7.400 per dolar. Sayangnya, hal tersebut tak berlangsung lama karena pada puncak krisis moneter pada Mei 1998 rupiah benar-benar hancur dengan kurs Rp16.800 per dolar.
3. Nilai tukar rupiah masa Presiden B.J. Habibie
B.J. Habibie memikul beban berat untuk menstabilkan rupiah yang sempat hancur pada 1998 setelah krisis moneter nasional. Menariknya, beliau terbilang sukses dalam melakukan hal tersebut.
Berkat berbagai kebijakan dan strategi yang terstruktur, nilai tukar rupiah berhasil pulih dari Rp16.800 menjadi Rp6.500 per dolar pada 1998. Kemudian, pada akhir masa jabatannya pada 1999 rupiah sedikit turun, menjadi Rp7.900 per dolar.
Sayangnya, keberhasilan Presiden Habibie dalam menguatkan tupiah tak berlangsung lama karena beliau memutuskan untuk melaksanakan pemilu. Dari hasil pemilu. B.J. Habibie harus turun dari kursi kepresidenan dan digantikan oleh Abdurahman Wahid atau Gus Dur.
4. Nilai tukar rupiah masa Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur)

Pada masa pemerintah Presiden Abdurahman Wahid nilai tukar rupiah cukup fluktuatif. Awalnya nilai tukar rupiah cukup stabil di Rp7.500—Rp9.800. Namun, puncak kenaikan terjadi pada 2001 di mana nilai tukar rupiah berada pada angka Rp10.265 per dolar.
Kenaikan nilai tukar rupiah era Gus Dur dipicu oleh situasi politik yang memanas di dalam negeri. Selain itu, IHSG dan pertumbuhan ekonomi juga menurun. Inflasi pada era Gus Dur juga meningkat yang akhirnya memberikan pengaruh besar terhadap nilai tukar rupiah.
5. Nilai tukar rupiah masa Presiden Megawati
Masa pemerintahan Megawati Seokarnoputri pada 2001—2004 memberikan dampak yang cukup positif terhadap pertumbuhan rupiah. Presiden perempuan pertama Indonesia ini berhasil menguatkan rupiah ke Rp9.260 per dolar pada 2002.
Pada 2003 rupiah kembali menguat ke angka Rp8.570 per dolar. Selanjutnya, masa akhir pemerintahannya pada 2004, Megawati juga berhasil menstabilkan rupiah pada angka Rp8.985 per dolar. Sayangnya, pada era Megawati IHSG kembali menurun dan inflasi tetap meningkat.
6. Nilai tukar rupiah masa Presiden SBY

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin Indonesia dari 2004—2014. Selama masa pemerintahannya, nilai tukar rupiah bisa dibilang berada pada status yang aman. Kenaikan dan penurunan tetap ada, tapi masih berada di batas wajar. Hal tersebut merupakan prestasi yang mencengangkan mengingat pada 2008 sempat terjadi Krisis Keuangan Global dan terdapat berbagai masalah internal di Tanah Air yang berpotensi mengguncang ekonomi nasional.
Pada 2006 kurs rupiah sempat menyentuh angka Rp9.478 per dolar. Pada November 2008 rupiah kembali naik menjadi Rp12.650 per dolar karena gejolak krisis keuangan global. Untungnya, nilai tukar rupiah sedikit membaik pada Desember 2008 karena turun menjadi Rp10.950 per dolar.
Setelah itu rupiah terus menguat hingga pada Desember 2009 nilai tukarnya berada pada angka Rp9.400 per dolar. Selama beberapa tahun nilai tukar rupiah era SBY terus naik turun, kisaran Rp9 ribu hingga Rp11 ribuan. Akhirnya, pada akhir masa jabatannya (Oktober 2014) SBY berhasil menekan nilai tukar rupiah menjadi Rp12.082 per dolar.
7. Nilai tukar rupiah masa Presiden Joko Widodo
Saat awal menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mampu mempertahankan nilai tukar rupiah pada angka Rp11 ribu hingga Rp12 ribuan. Tekanan baru muncul pada 2015 di mana nilai tukar rupiah sempat melemah pada angka Rp12.625 hingga Rp13.795 per dolar.
Nominal Rp13 ribuan terus bertahan dari 2015 hingga Mei 2018. Nah, pada Juni 2018 rupiah mulai melemah dengan kurs senilai Rp14.404 per dolar. Pergejolakan rupiah kembali terjadi akibat pandemi COVID-19 pada akhir 2019. Kala itu, rupiah sempat mengalami kejatuhan dengan nilai tukar sekitar Rp16.367 pada Maret 2020 saat puncak pandemi.
Untungnya, nilai tukar rupiah berhasil ditekan kembali menjadi Rp14.084 pada Januari 2021. Sayangnya, hal tersebut tak bertahan lama karena pada akhir 2022 nilai tukar rupiah sempat naik menjadi Rp15.737 per dolar. Pada akhir masa jabatannya pada Oktober 2024, Joko Widodo hanya berhasil menekan rupiah di angka Rp15.732 per dolar.
8. Nilai tukar rupiah masa Presiden Prabowo

Setelah Joko Widodo turun, Prabowo Subianto menggantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Pada era Prabowo rupiah terus mengalami kenaikan.
Per Desember 2024 (2 bulan setelah menjabat) nilai tukar rupiah meroket ke Rp16.162 per dolar. Pada Desember 2025 rupiah kembali naik hingga angka Rp16.782 per dolar. Saat artikel ini ditulis, pada 5 Juni 2026 nilai tukar rupiah naik secara signifikan hingga menyentuh angka Rp18.049 per dolar. Ini menjadi yang tertinggi dalam sejarah negeri ini.
Riwayat nilai tukar dolar ke rupiah dari masa ke masa selalu mengalami perubahan. Pengaruh nilai tukar tersebut juga ke banyak sektor, termasuk pertumbuhan ekonomi, harga bahan pokok, hingga hubungan investor dengan negara. Bagaimana menurutmu?
FAQ seputar riwayat nilai tukar dolar ke rupiah dari masa ke masa
| Bagaimana riwayat nilai tukar dolar ke rupiah dari masa ke masa? | Nilai tukar dolar ke rupiah selalu berubah, mulai dari ratusan, ribuan, hingga belasan ribu rupiah. Terkadang nilainya mengalami kenaikan tapi tak jarang juga menurun. |
| Siapa presiden yang berhasil menguatkan rupiah? | B.J. Habibie, Megawati, SBY, dan Soeharto merupakan beberapa presiden yang berhasil menguatkan rupiah, khususnya di masa sulit seperti krisis ekonomi nasional hingga global. |
| Apa jasa terhebat dari tiap presiden terkait nilai tukar dolar ke rupiah? | Berbagai presiden memiliki jasanya tersendiri terkait nilai tukar dolar ke rupiah. Contohnya, B.J. Habibie dan SBY berhasil menguatkan rupiah di tengah krisis ekonomi. Joko Widodo juga berhasil menstabilkan rupiah di tengah pandemi. Seoharto juga bisa menguatkan rupiah setelah peristiwa G30SPKI. |
















