Diserang AS, Venezuela Minta DK PBB Segera Gelar Sidang Darurat

- Venezuela minta DK PBB segera gelar sidang darurat
- CIA memantau Maduro selama berbulan-bulan untuk operasi penangkapan
- AS mengerahkan 150 pesawat tempur dan padamkan listrik Caracas
New York, IDN Times - Venezuela meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) segera menggelar rapat darurat usai diserang Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (3/1/2026).
“Sebagai tanggapan atas agresi kriminal yang telah dilakukan oleh pemerintah AS terhadap negara kami, kami telah meminta pertemuan darurat DK PBB, badan yang bertanggung jawab untuk menegakkan hukum internasional,” kata Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil, dikutip dari Anadolu, Minggu (4/1/2026).
“Tidak ada serangan pengecut yang mampu mengalahkan kekuatan rakyat Venezuela. Rakyat akan tetap keluar sebagai pemenang,” ucap dia.
1. AS menyerang fasilitas sipil Venezuela
Pemerintah Venezuela menyebut bahwa pemerintah AS menyerang fasilitas sipil dan fasilitas militer di sejumlah negara bagian.
Sementara, Trump mengaku bahwa pasukannya telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores dalam operasi militer di Caracas.
Trump menyatakan penangkapan tersebut dilakukan melalui serangan mendadak yang telah dipersiapkan secara matang selama berbulan-bulan.
Operasi ini melibatkan ribuan personel, pesawat tempur, hingga tim intelijen yang memantau Maduro. Sebelumnya, AS juga telah mengerahkan armada laut di perairan dekat Venezuela. Berikut cara pasukan AS menangkap Maduro dalam operasi bernama "Absolute Resolve" tersebut.
2. CIA telah memantau Maduro berbulan-bulan
Menurut laporan CNN, operasi penangkapan ini merupakan hasil perencanaan matang selama berbulan-bulan yang melibatkan penyusupan tim intelijen AS ke dalam Venezuela. Sejak Agustus, CIA telah menempatkan tim kecil di darat serta merekrut informan dari dalam pemerintahan Venezuela untuk memantau pergerakan Maduro.
CIA berhasil mengumpulkan berbagai detail pola hidup Maduro demi memuluskan penyergapan. Data yang dikumpulkan mencakup lokasi tidur, jenis makanan yang dikonsumsi, pakaian yang dikenakan, hingga detail mengenai hewan peliharaan sang presiden.
Pasukan khusus AS juga melakukan latihan simulasi menggunakan replika bangunan yang dibuat persis dengan kediaman Maduro di Caracas. Namun, pelaksanaan operasi sempat tertunda selama empat hari karena faktor cuaca yang dinilai kurang mendukung. Trump akhirnya memberikan lampu hijau pada Jumat malam (2/1/2026) pukul 22.46 waktu AS (EST) setelah awan di atas Caracas mulai menipis.
"Kami berpikir, kami mengembangkan, kami melatih, kami mengulangi, kami mengevaluasi, dan kami berlatih lagi dan lagi. Bukan untuk melakukannya dengan benar, tetapi untuk memastikan kami tidak bisa salah," tegas Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, dilansir PBS News.
3. AS kerahkan 150 pesawat tempur dan padamkan listrik Caracas
AS mengerahkan hingga 150 pesawat tempur dari berbagai jenis untuk mendukung operasi ini. Armada tersebut mencakup jet tempur F-18, F-22, F-35, pesawat pengebom B-1, serta puluhan drone pengintai yang diluncurkan dari 20 pangkalan berbeda di Belahan Barat.
Pasukan penyerbu utama diterjunkan menggunakan helikopter MH-47 Chinook dan MH-60 Black Hawk dari Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160. Armada helikopter ini terbang rendah sekitar 100 kaki di atas permukaan air untuk menghindari deteksi radar saat mendekati garis pantai Venezuela.
Untuk memaksimalkan elemen kejutan, AS melancarkan serangan siber yang memadamkan aliran listrik di sebagian besar wilayah Caracas tepat sebelum penyerbuan dimulai. Trump menyebut pemadaman lampu kota ini merupakan hasil dari keahlian khusus yang dimiliki militer AS.
Serangan udara pendukung juga dilancarkan untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Venezuela dan target militer di Pangkalan Udara La Carlota. Ledakan keras terdengar di berbagai titik ibu kota saat jet tempur AS membersihkan jalur bagi tim ekstraksi di darat.















