Uni Eropa Setujui Perjanjian Dagang Terbesar dengan Amerika Selatan

- Uni Eropa setujui perjanjian dagang dengan Mercosur
- Kesepakatan strategis untuk hadapi dampak tarif AS dan dominasi China
- Prancis dan Polandia tolak kesepakatan dagang UE-Mercosur
Jakarta, IDN Times - Negara-negara anggota Uni Eropa (UE) memberikan persetujuan akhir untuk penandatanganan kesepakatan perdagangan bebas dengan blok Mercosur di Amerika Selatan pada Jumat (9/1/2026). Kesepakatan ini disebut sebagai perjanjian dagang terbesar dalam sejarah Uni Eropa.
Persetujuan tersebut dicapai setelah lebih dari 25 tahun proses negosiasi yang panjang dan beberapa bulan perdebatan intensif untuk mendapatkan dukungan politik yang cukup di antara negara-negara anggota.
Table of Content
1. Uni Eropa capai dukungan final untuk kesepakatan dagang dengan Mercosur
Duta besar dari 27 negara anggota Uni Eropa telah memberikan persetujuan sementara untuk menandatangani kesepakatan perdagangan bebas dengan blok Mercosur. Dukungan ini mewakili setidaknya 15 negara yang mencakup 65 persen populasi Uni Eropa, ambang batas yang diperlukan untuk proses ratifikasi. Keputusan ini membuka jalan bagi Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, untuk menandatangani perjanjian tersebut dengan negara-negara Mercosur pada pekan depan.
Blok Mercosur terdiri atas Argentina, Brasil, Paraguay, dan Uruguay, dengan nilai perdagangan barang timbal balik bersama Uni Eropa mencapai 111 miliar euro (Rp2,1 kuadriliun) pada 2024. Kesepakatan ini akan menghapus bea masuk senilai sekitar 4 miliar euro (Rp78,4 triliun) untuk ekspor Uni Eropa seperti komponen mobil, produk susu, dan anggur, menjadikannya perjanjian pengurangan tarif terbesar dalam sejarah blok tersebut.
“Ketika negara-negara lain semakin mengisolasi diri dan menerapkan kebijakan perdagangan agresif, kami memilih untuk memperkuat kemitraan baru,” ujar Menteri Keuangan Jerman, Lars Klingbeil, dilansir Al Jazeera.
2. Kesepakatan dagang UE–Mercosur jadi langkah strategis hadapi dampak tarif AS dan dominasi China
Kesepakatan perdagangan bebas antara Uni Eropa dan blok Mercosur muncul di tengah ketegangan global akibat kebijakan perdagangan Presiden AS, Donald Trump, yang memberlakukan tarif impor tinggi dan menimbulkan kerugian bagi bisnis Eropa. Komisi Eropa bersama negara-negara seperti Jerman dan Spanyol menilai perjanjian ini sebagai langkah untuk menyeimbangkan dampak tarif AS sekaligus mengurangi ketergantungan pada China melalui peningkatan akses terhadap mineral kritis dari Amerika Selatan.
Perjanjian tersebut mencakup lebih dari 90 persen penghapusan tarif atas barang, membuka pasar dengan total 750 juta konsumen, dan memperluas akses terhadap bahan baku penting bagi industri Eropa. Selain itu, kesepakatan ini juga mendukung usaha kecil dan menengah (UKM) dengan memperluas peluang ekspor serta memperkuat sistem perdagangan berbasis aturan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
“Perjanjian ini sangat penting bagi Uni Eropa, bukan hanya dari sisi ekonomi dan diplomasi, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam posisi geopolitik kami,” ujar juru bicara Komisi Eropa, Olof Gill, dilansir Business Europe.
3. Prancis dan Polandia tolak kesepakatan dagang UE–Mercosur
Prancis dan Polandia tetap menentang kesepakatan perdagangan bebas Uni Eropa–Mercosur meskipun telah mendapat dukungan mayoritas dari negara anggota Uni Eropa. Menteri Pertanian Prancis, Annie Genevard, berjanji akan mendorong penolakan terhadap perjanjian tersebut di Parlemen Eropa, sementara Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa Prancis akan memberikan suara menentang implementasinya.
Penolakan ini didorong oleh kekhawatiran petani Eropa terhadap potensi kompetisi dari impor daging sapi asal negara-negara Mercosur. Aksi protes petani juga merebak di Prancis, Belgia, dan Polandia, dengan pemblokiran jalan sebagai bentuk penolakan terhadap kesepakatan yang dianggap merugikan sektor pertanian lokal.
Meskipun Uni Eropa telah menambahkan klausul perlindungan bagi petani untuk meredam kritik, isi utama teks perjanjian tidak mengalami perubahan. Persetujuan akhir kini bergantung pada hasil pemungutan suara di Parlemen Eropa, yang diperkirakan akan berlangsung ketat dalam beberapa bulan ke depan.
.jpg)

















