Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Segini Harga Asli Pertalite hingga LPG 3 Kg Jika Tak Disubsidi
Ilustrasi BBM Pertalite. (Dok. Pertamina)
  • Harga Pertalite Rp10.000 per liter yang dibayar masyarakat berada di bawah harga keekonomiannya.
  • APBN menanggung selisih harga Pertalite, solar, LPG 3 kg, minyak tanah, dan listrik melalui subsidi maupun kompensasi.
  • Pemerintah mengalokasikan subsidi energi untuk menjaga kestabilan harga serta mendukung perencanaan ekonomi masyarakat dan dunia usaha.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Januari-Juni 2026

Data realisasi dan perkiraan digunakan untuk merinci perbedaan harga keekonomian dengan harga yang dibayar masyarakat.

Rabu (5/8/2026)

Suahasil Nazara menyampaikan bahwa harga Pertalite Rp10.000 per liter bukan harga keekonomian dan selisihnya dibayar APBN.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    APBN menanggung selisih antara harga keekonomian dan harga yang dibayar masyarakat untuk Pertalite serta sejumlah komoditas energi.
  • Who?
    Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan hal tersebut, sementara pemerintah mengalokasikan subsidi dan kompensasi energi.
  • Where?
    Jakarta, dalam Ngobrol Seru by IDN Times “Subsidi Energi dan Ketahanan Energi: Menata Reformasi Subsidi untuk Indonesia yang Lebih Tangguh.”
  • When?
    Rabu (5/8/2026).
  • Why?
    Subsidi dan kompensasi diberikan untuk menjaga kestabilan harga komoditas energi dan mendukung perencanaan serta aktivitas ekonomi nasional.
  • How?
    Pemerintah melakukan intervensi melalui anggaran negara untuk membayar selisih harga Pertalite, solar, LPG 3 kg, minyak tanah, dan listrik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pak Suahasil Nazara bilang harga Pertalite di SPBU sebenarnya lebih dari Rp10.000. Uang negara dari APBN membayar selisihnya. APBN juga membantu harga solar, LPG 3 kg, minyak tanah, dan listrik. Ini supaya harga energi tetap stabil untuk masyarakat dan kegiatan ekonomi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Subsidi dan kompensasi energi membuat harga yang dibayar masyarakat untuk sejumlah kebutuhan energi berada di bawah harga keekonomian. Kebijakan melalui APBN ini juga ditujukan menjaga harga komoditas mendasar tetap stabil, sehingga masyarakat dan dunia usaha dapat lebih mudah melakukan perencanaan ekonomi serta menjalankan aktivitasnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite yang dibayar masyarakat di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sebesar Rp10.000 per liter bukanlah harga keekonomian yang sebenarnya.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menyampaikan terdapat selisih harga yang lebih tinggi di atas angka tersebut dan harus dibayar oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hal itu disampaikan dalam Ngobrol Seru by IDN Times "Subsidi Energi dan Ketahanan Energi: Menata Reformasi Subsidi untuk Indonesia yang Lebih Tangguh.

"Tadi pagi ngisi nggak? Rp10.000, masih Rp10.000, tapi sesungguhnya harga sesungguhnya di atas Rp10.000 ke harga yang sebenarnya itu dibayar oleh APBN," katanya, Rabu (5/8/2026).

1. APBN juga tanggung subsidi LPG 3 kg hingga tarif listrik

Ilustrasi LPG. (Dok. Pertamina)

Selain Pertalite, APBN juga menanggung subsidi untuk solar, LPG tabung 3 kilogram (kg) yang diperjualbelikan secara bebas di masyarakat. Pemerintah turut memberikan subsidi untuk komoditas minyak tanah, meski porsinya sangat kecil.

Subsidi dan kompensasi juga dialokasikan untuk tarif listrik rumah tangga golongan 900 volt ampere (VA). Jadi tarif yang dibayar masyarakat berada di bawah harga keekonomiannya.

2. Rincian harga keekonomian dan selisih yang ditanggung negara

Ilustrasi: Petugas SPBU sedang mengisikan Pertalite ke mobil konsumen. (Dok. Pertamina)

Berdasarkan data realisasi dan perkiraan Januari-Juni 2026, berikut perbedaan harga keekonomian dengan harga yang dibayar masyarakat:

Solar (subsidi & kompensasi): Harga seharusnya Rp16.538 per liter, sedangkan harga jual eceran Rp6.800 per liter. APBN menanggung Rp9.738 per liter atau 59 persen, dengan perkiraan penerima manfaat 4 juta kendaraan.

Pertalite (kompensasi): Harga seharusnya Rp13.794 per liter, sedangkan harga jual eceran Rp10.000 per liter. APBN menanggung Rp3.794 per liter atau 28 persen, dengan perkiraan penerima manfaat 157,4 juta kendaraan.

Minyak tanah (subsidi): Harga seharusnya Rp17.161 per liter, sedangkan harga jual eceran Rp2.500 per liter. APBN menanggung Rp14.661 per liter atau 85 persen, dengan perkiraan penerima manfaat 1,8 juta rumah tangga.

LPG 3 Kg (subsidi): Harga seharusnya Rp47.929 per tabung, sedangkan harga jual eceran tingkat agen Rp12.750 per tabung. APBN menanggung Rp35.179 per tabung atau 73 persen, dengan perkiraan penerima manfaat 41,5 juta pelanggan.

Listrik subsidi (rumah tangga 900 VA): Harga seharusnya Rp2.046 per kWh, sedangkan tarif yang dibayar Rp605 per kWh. APBN menanggung Rp1.441 per kWh atau 70 persen melalui subsidi, dengan perkiraan penerima manfaat 42,6 juta pelanggan.

Listrik non-subsidi (RT 900 VA non-subsidi): Harga seharusnya Rp2.046 per kWh, sedangkan tarif yang dibayar Rp1.352 per kWh. APBN menanggung Rp694 per kWh atau 34 persen melalui kompensasi, dengan perkiraan penerima manfaat 53,2 juta pelanggan.

3. Alasan pemerintah menggelontorkan subsidi energi

Ilustrasi BBM (IDN Times/Aditya Pratama)

Pemberian subsidi dan kompensasi energi bertujuan untuk menjaga kestabilan harga komoditas mendasar seperti Pertalite di tingkat masyarakat. Kestabilan harga energi dinilai krusial agar seluruh roda perekonomian dapat terus berjalan.

Jika harga energi dasar bergejolak dan tidak stabil, dunia usaha maupun masyarakat akan kesulitan dalam membuat perencanaan ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah intervensi lewat anggaran negara agar perencanaan dan aktivitas ekonomi nasional berjalan lebih mudah.

"Fungsi subsidi energi agar beberapa komoditas energi yang mempengaruhi betul-betul kehidupan ekonomi masyarakat kita itu harganya stabil. Apa saja yang distabilkan harganya itu? Pertama, untuk kelompok bahan bakar BBM itu yang Pertalite, stabil harganya," kata Suahasil.

Curated For You

Editorial Team

Related Article