Ilustrasi: Petugas SPBU sedang mengisikan Pertalite ke mobil konsumen. (Dok. Pertamina)
Berdasarkan data realisasi dan perkiraan Januari-Juni 2026, berikut perbedaan harga keekonomian dengan harga yang dibayar masyarakat:
Solar (subsidi & kompensasi): Harga seharusnya Rp16.538 per liter, sedangkan harga jual eceran Rp6.800 per liter. APBN menanggung Rp9.738 per liter atau 59 persen, dengan perkiraan penerima manfaat 4 juta kendaraan.
Pertalite (kompensasi): Harga seharusnya Rp13.794 per liter, sedangkan harga jual eceran Rp10.000 per liter. APBN menanggung Rp3.794 per liter atau 28 persen, dengan perkiraan penerima manfaat 157,4 juta kendaraan.
Minyak tanah (subsidi): Harga seharusnya Rp17.161 per liter, sedangkan harga jual eceran Rp2.500 per liter. APBN menanggung Rp14.661 per liter atau 85 persen, dengan perkiraan penerima manfaat 1,8 juta rumah tangga.
LPG 3 Kg (subsidi): Harga seharusnya Rp47.929 per tabung, sedangkan harga jual eceran tingkat agen Rp12.750 per tabung. APBN menanggung Rp35.179 per tabung atau 73 persen, dengan perkiraan penerima manfaat 41,5 juta pelanggan.
Listrik subsidi (rumah tangga 900 VA): Harga seharusnya Rp2.046 per kWh, sedangkan tarif yang dibayar Rp605 per kWh. APBN menanggung Rp1.441 per kWh atau 70 persen melalui subsidi, dengan perkiraan penerima manfaat 42,6 juta pelanggan.
Listrik non-subsidi (RT 900 VA non-subsidi): Harga seharusnya Rp2.046 per kWh, sedangkan tarif yang dibayar Rp1.352 per kWh. APBN menanggung Rp694 per kWh atau 34 persen melalui kompensasi, dengan perkiraan penerima manfaat 53,2 juta pelanggan.