Founder & CEO IDN, Winston Utomo; Ernest Prakasa; dan Putri Tanjung saat jadi pembicara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Pilar terakhir adalah IP. Winston menilai sebuah konten baru memiliki nilai lebih ketika bisa berkembang dan merambah berbagai format.
“Konten hanyalah sekadar konten, dan jumlah tontonan (views) hanyalah angka tontonan. Namun, jika sebuah konten mampu merambah ke berbagai format lain, barulah ia menjadi sebuah IP,” katanya.
Winston kemudian mencontohkan Pestapora sebagai salah satu karya yang dinilai memiliki ketiga unsur tersebut. Menurutnya, festival musik tersebut memiliki “jiwa” yang membuat audiens merasa terhubung.
“Contoh nyatanya adalah festival musik kami, Pestapora. Saat pertama kali melihat Pestapora, apakah ia memiliki jiwa? Ya, ia punya jiwa,” ujarnya.
Dari sisi fandom, Winston menyebut antusiasme audiens terlihat dari penjualan tiket yang berlangsung jauh sebelum daftar musisi diumumkan.
“Fandom, apakah orang akan terus kembali dan merasa memiliki? Kami berhasil menjual ribuan tiket setahun lebih awal bahkan sebelum mengumumkan daftar musisinya (line-up),” katanya.
Bagi Winston, perjalanan Pestapora tidak berhenti sebagai festival musik. Bersama Ernest Prakasa, Pestapora juga dikembangkan menjadi film berjudul Operasi Pesta Copet.
“Dan apakah bisa menjadi IP? Bersama Ernest, mereka membuat film yang sangat bagus yang lahir dari Pestapora berjudul Operasi Pesta Copet,” ujarnya.
Karena itu, Winston menilai data dan algoritma tetap memiliki peran penting untuk mendatangkan perhatian. Namun, sesuatu yang mampu bertahan dan berkembang membutuhkan lebih dari sekadar angka.
“Jadi data dan algoritma bisa mendatangkan perhatian, tetapi pada akhirnya ini adalah kombinasi antara soul, fandom, dan IP,” kata Winston.