Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Menerapkan Pay Yourself First yang Mudah untuk Pemula
ilustrasi tenang saat memiliki uang (freepik.com/lifeforstock)
  • Pay yourself first mengutamakan penyisihan tabungan atau tujuan finansial segera setelah gaji masuk, sebelum dana dipakai untuk tagihan, belanja, dan pengeluaran lain.

  • Pemula dapat memulai dari nominal realistis, misalnya 5–10 persen penghasilan, memisahkannya dari rekening harian, serta menjadwalkan transfer otomatis saat gajian.

  • Jumlah tabungan dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan, sementara tujuan yang jelas dan terukur—seperti dana darurat atau pendidikan—membantu menjaga konsistensi agar uang tidak mudah diambil.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Begitu gaji masuk, rasanya ingin bernapas lega karena kebutuhan sebulan sudah siap dipenuhi. Namun, tanpa sadar saldo mulai terkikis untuk bayar tagihan, belanja, sampai pengeluaran kecil yang sering dianggap sepele, sehingga rencana menabung kembali tertunda. Nah, pay yourself first bisa jadi salah satu cara untuk mengubah kebiasaan tersebut dengan menyisihkan uang untuk tabungan atau tujuan finansial di awal, sebelum dipakai untuk kebutuhan lainnya.

Konsep ini bukan berarti kamu harus langsung menabung dalam jumlah besar atau memangkas semua kesenangan, kok. Justru, pay yourself first membantu membangun kebiasaan dengan menjadikan tabungan sebagai bagian dari prioritas saat mengatur gaji. Kalau kamu masih pemula dan ingin mulai menerapkannya tanpa bikin keuangan terasa sesak, yuk simak liama cara menerapkan pay yourself first yang mudah dan realistis berikut ini.

1. Tentukan nominal yang realistis untuk disisihkan

ilustrasi uang (pexels.com/www.kaboompics.com)

Langkah awal gak perlu langsung menyisihkan setengah dari gaji, terutama kalau kebutuhan bulanan masih cukup banyak. Cobalah mulai dengan jumlah yang aman, seperti 5–10 persen dari penghasilan, lalu sesuaikan dengan kondisi finansialmu. Yang terpenting, jumlah tersebut harus cukup realistis untuk dilakukan setiap bulan agar kebiasaan menabung gak berhenti di tengah jalan.

Setelah nominalnya sudah ditentukan, anggap uang itu sebagai “jatah untuk diri sendiri” yang memang sengaja disisihkan dari awal. Begitu gaji masuk, segera pisahkan ke rekening tabungan atau pos khusus sebelum uangnya bercampur dengan dana untuk kebutuhan sehari-hari. Cara sederhana ini bikin kamu gak perlu menunggu uang tersisa di akhir bulan untuk mulai menabung, lho.

2. Pisahkan uang tabungan dari rekening harian

ilustrasi rekening bank untuk berbagai kebutuhan (freepik.com/jcomp)

Memiliki uang yang sudah disisihkan tetapi masih berada di rekening utama sering kali membuat kamu tergoda untuk menggunakannya. Apalagi kalau saldo terlihat cukup besar, pasti ada banyak alasan untuk mengambil sedikit demi sedikit, mulai dari membeli makanan hingga belanja yang sebenarnya bisa ditunda. Oleh karena itu, memisahkan rekening tabungan dari rekening transaksi harian bisa menjaga uangmu dari godaan.

Kamu bisa membuka rekening khusus untuk menyimpan dana tersebut, serta menganggapnya bukan bagian dari anggaran belanja bulanan. Gak perlu terlalu rumit, yang penting adalah aksesnya tidak sering digunakan untuk transaksi sehari-hari. Dengan cara ini, kebiasaan pay yourself first akan terasa lebih sederhana karena uang untuk masa depan sudah diamankan lebih dulu.

3. Atur transfer otomatis setiap kali gajian

ilustrasi mengecek gaji (magnific.com/tirachardz)

Kalau kamu sering lupa menyisihkan uang, mengandalkan niat saja mungkin belum cukup. Cobalah manfaatkan fitur transfer otomatis dari rekening utama ke rekening tabungan setiap tanggal gajian atau sehari setelahnya. Dengan cara ini, kamu gak perlu lagi mengingat kapan harus menabung karena sistem yang akan membantu melakukannya.

Misalnya, jika gaji masuk setiap tanggal 25, kamu bisa menjadwalkan transfer pada tanggal yang sama dengan jumlah yang sudah ditentukan. Setelah uang berpindah, barulah sisa penghasilan digunakan untuk kebutuhan dan pengeluaran lainnya. Metode ini tampaknya sederhana, tetapi justru bisa membantu pay yourself first menjadi kebiasaan yang otomatis, lho.

4. Sesuaikan jumlah tabungan dengan kondisi keuangan

ilustrasi memisahkan tabungan berdasarkan tujuan (freepik.com/rawpixel.com)

Ada saat-saat di mana pengeluaran tampak lebih tinggi dari biasanya, misalnya karena pembayaran biaya tahunan atau kebutuhan mendesak. Dalam situasi seperti ini, memaksakan untuk menabung dalam jumlah yang sama setiap bulan bisa menghambat arus kas. Jadi, gak masalah kalau jumlah yang disisihkan harus disesuaikan asalkan kebiasaan menabung tetap terus dilakukan.

Contohnya, biasanya kamu menabung Rp500 ribu, tetapi bulan ini kondisi lebih ketat, jumlah tersebut bisa saja diturunkan sementara sesuai dengan kemampuan. Sebaliknya, saat menerima bonus atau penghasilan tambahan, sebagian dari uang tersebut dapat dialokasikan untuk tabungan. Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa besar jumlahnya, tetapi juga konsistensi dalam "membayar diri sendiri" terlebih dahulu.

5. Tetapkan tujuan agar tabungan gak gampang diambil

ilustrasi tujuan menabung untuk rumah impian (freepik.com/jcomp)

Menabung tanpa mengetahui untuk apa uang tersebut akan digunakan terkadang membuat semangat hilang. Cobalah untuk menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap tabungan, seperti dana darurat, liburan, membeli laptop, atau menyiapkan biaya pendidikan. Dengan cara itu, uang yang kamu sisihkan akan terasa memiliki tujuan dan bukan sekadar angka yang bertambah di rekening.

Kamu juga bisa membuat target yang mudah dan dapat diukur, seperti ingin mengumpulkan Rp6 juta dalam satu tahun untuk dana tertentu. Ketika tujuan tersebut semakin mendekat, biasanya akan ada rasa kepuasan yang membuat kamu lebih bersemangat untuk menjaga kebiasaan itu. Jadi, pay yourself first bukan cuma soal menyisihkan uang di awal, tetapi juga membangun kebiasaan supaya kondisi finansialmu perlahan lebih tertata, lho.

Menerapkan pay yourself first gak harus dimulai dengan nominal besar atau aturan yang bikin hidup terasa serba terbatas. Mulailah dari jumlah yang realistis, pisahkan sejak awal, lalu biarkan kebiasaan kecil tersebut tumbuh seiring kondisi keuanganmu. Nah, kalau dilakukan secara konsisten, menabung pun gak lagi bergantung pada ada atau tidaknya sisa uang di akhir bulan.

Referensi:

“A Meta-Analysis of Financial Self-Control Strategies: Comparing Empirical Findings with Online Media and Lay Person Perspectives on What Helps Individuals Curb Spending and Start Saving.” PLOS ONE. Diakses Agustus 2026.

“Exploring the Influence of Digital Financial Literacy, Digital Banking, and Self-Control on Students Savings Behavior.” Jurnal Pendidikan Ekonomi, Perkantoran, dan Akuntansi. Diakses Agustus 2026.

“Determinants of Generation Z Saving Behavior: The Mediating Role of Self-Control.” Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Diakses Agustus 2026.

“Pengaruh Digital Financial Literacy, Peer Influence, Self-Control, dan Lifestyle pada Saving Behavior Generasi Z Penggemar K-Pop di Pulau Jawa.” Jurnal Ilmu Manajemen. Diakses Agustus 2026.

“Pengaruh Financial Literacy, Peers Influence, Self-Control, Religious Belief dan Parental Socialization Terhadap Saving Behavior pada Mahasiswa di Kota Batam.” Jurnal Ilmu Manajemen. Diakses Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article