4 Alasan Kenapa Harga Barang Bermerek Lebih Mahal

- Metode "Keystone Markup" membuat harga produk bermerek tinggi, dengan melipatgandakan biaya produksi hingga 50-100 persen untuk mematok harga secara universal.
- Keystone markup diterapkan melalui penetapan harga ke retailer dan konsumen, dengan analisis pasar dan total biaya produksi yang ditetapkan brand.
- Harga tinggi pada produk bermerek bisa disebabkan oleh mahalnya bahan mentah untuk proses produksi, kenaikan biaya produksi, dan peningkatan citra eksklusif di barang tersebut.
Berapakah harga sepasang sepatu yang menurut kamu wajar? Sekitar Rp 200 ribu, Rp 500 ribu, atau Rp 1 juta? Beragam produk yang sering kita pakai pasti memiliki variasi harga tersendiri. Menyebut harga murah atau mahal, seringkali kita harus menengok labelnya terlebih dahulu.
Bisa jadi Rp 20 juta untuk satu tas Hermes masih tergolong murah. Lain halnya tas tanpa merek seharga Rp 2 juta, bisa dikatakan mahal. Merek memang sangat mempengaruhi harga suatu produk. Semakin terkenal merek tersebut, kita cenderung memaklumi jika harganya mahal.
Tapi, jika dipikir-pikir kembali, sebenarnya apa sih yang membuat barang dengan merek terkenal, khususnya brand internasional bisa lebih mahal ya? Begini nih jawabannya!
Table of Content
1. Tingginya harga produk bermerek terjadi melalui metode standarisasi harga yang dikenal dengan istilah "Keystone Markup".

Keystone markup sering diterapkan berbagai perusahaan brand, terutama brand ternama. Metode ini diterapkan dengan melipatgandakan biaya produksi yang bisa mencapai 50 hingga 100 persen. Tidak semata-mata untuk mencari keuntungan, metode ini dianggap paling mudah untuk mematok harga suatu produk. Sehingga bisa berlaku secara universal di berbagai tempat.
2. Biasanya, keystone markup diterapkan melalui dua tahapan. Tahap pertama yaitu penetapan harga ke retailer. Kedua, penetapan harga ke konsumen.

Misalnya dalam industri fashion. Industri fashion secara umum dibagi ke dalam dua segmen, yaitu brand dan retailer. Brand lebih fokus kepada desain dan produksi, sementara retailer mengelola persedian produk yang dijual ke konsumen. Sebelum suatu produk sampai ke tangan konsumen, brand terlebih dahulu menjual produknya ke retailer. Dalam tahap ini, brand sudah melipatgandakan harga produksinya, biasanya dua kali lipat. Lalu, ketika retailer mendapatkan produknya, dia akan melipatgandakan produknya sebanyak dua lipat lagi sebelum dijual ke konsumen.
Proses ini diiringi dengan berbagai analisis. Di antaranya seperti analisis pasar untuk meninjau tingkat persaingan, menentukan produk dari brand lain yang menjadi kompetitor, dan analisis untuk menghitung total biaya produksi yang akan ditetapkan brand tersebut.
Contohnya produk sepatu dari brand X dengan biaya produksi sebesar Rp 50 ribu. Kemudian, biaya produksi dilipatgandakan menjadi Rp 100 ribu ketika akan dibeli retailer. Setelah itu, retailer melipatgandakannya lagi menjadi Rp 200 ribu. Akhirnya, konsumen membeli sepatu tersebut dengan harga Rp 200 ribu.
3. Inilah rahasinya mengapa pada saat obral, banyak toko berani memangkas harga produknya hingga 50 persen, bahkan lebih!

Jika kamu memperhatikan baik-baik saat melihat obralan di sebuah toko, kamu bisa bertanya-tanya, bagaimana bisa tas dari harga Rp 500 ribu jadi cuma Rp 300 ribu atau bahkan lebih murah lagi. Potongan harga ini bisa dikatakan belum tentu merugikan pengecer atau brand yang menjual produk tersebut. Alasannya karena harga tersebut sudah melalui metode Keystone Markup itu tadi.
4. Harga yang tinggi bisa juga disebabkan faktor mahalnya bahan mentah untuk proses produksi

Selain mahal, harga barang bermerek kerap mengalami kenaikan seiring waktu. Namun, bagi beberapa perusahaan, hal ini belum tentu karena keinginan menambah keuntungan. Beberapa perusahaan mengaku harus menaikkan harga produknya, karena biaya produksi yang meningkat. Apalagi ada kenaikan standard gaji pegawai.
Beberapa pihak mengaku peningkatan harga juga dilakukan untuk memancing konsumen, dari kalangan jetset, tertarik membeli produk mereka. Tujuannya agar terciptanya citra eksklusif di barang tersebut. Begitulah kira-kira penjelasannya kenapa harga barang bermerek lebih mahal. Semoga setelah baca ini, kamu bisa belajar jadi pembeli pintar. Tapi jangan cuma harga dan merek saja yang diperhatikan, kualitas juga dong tentunya.
FAQ seputar Alasan Kenapa Harga Barang Bermerek Lebih Mahal
| Kenapa barang branded harganya jauh lebih mahal daripada barang biasa? | Barang branded sering melibatkan biaya tinggi untuk desain, material premium, riset, biaya pemasaran, serta nilai merek itu sendiri sehingga harganya lebih tinggi dibanding produk umum. |
| Apakah harga tinggi berarti kualitasnya pasti lebih baik? | Tidak selalu. Meskipun banyak barang branded menggunakan material berkualitas, sebagian harga juga mencerminkan biaya brand dan citra prestise, bukan hanya kualitas fungsional. |
| Apa saja faktor yang memengaruhi harga barang branded? | Faktor utamanya termasuk biaya produksi, material berkualitas, riset dan pengembangan, strategi pemasaran, serta nilai merek di mata konsumen. |
| Apakah membeli barang branded selalu sepadan dengan uang yang dikeluarkan? | Tergantung pada preferensi dan kebutuhan kamu. Jika kamu menghargai desain, daya tahan, dan citra merek, mungkin pembelian itu sepadan. Namun jika hanya mengutamakan fungsi, produk non-branded bisa jadi lebih efisien. |
| Bagaimana cara mengetahui bahwa harga barang branded itu wajar? | Cara terbaik adalah mengecek rincian material, kualitas, garansi, serta review konsumen, lalu bandingkan dengan produk sejenis untuk memastikan harga tersebut masuk akal. |


















