Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kementan Ungkap Krisis Pupuk Global, Sebut Indonesia Tahan Banting

Kementan Ungkap Krisis Pupuk Global, Sebut Indonesia Tahan Banting
Ilustrasi Pupuk (dok. Pupuk Indonesia)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Kementan mengungkap krisis pupuk global akibat konflik di Selat Hormuz dan penghentian ekspor pupuk oleh China, yang membuat harga urea dunia melonjak lebih dari 40 persen.
  • Negara-negara seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina terdampak serius karena ketergantungan impor pupuk dari China dan kawasan Teluk, sementara petani mulai menunda tanam akibat biaya tinggi.
  • Kementan menyebut Indonesia tetap tangguh berkat diversifikasi pasokan, subsidi pupuk turun 20 persen, serta cadangan beras pemerintah melampaui 5 juta ton untuk menghadapi El Nino dan gejolak global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia mengungkapkan telah terjadi krisis pupuk global imbas penutupan Selat Hormuz yang dipicu dari konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Ditambah lagi, China menghentikan ekspor pupuk nitrogen utama. Dampaknya, harga urea dunia melonjak lebih dari 40 persen dalam hitungan minggu dan negara-negara Asia Tenggara yang bergantung pada impor pupuk menghadapi ancaman krisis produksi pangan.

1. Kementan sebut Thailand hingga Vietnam hadapi krisis pupuk

Ilustrasi gudang pupuk bersubsidi. (Pupuk Indonesia)
Ilustrasi gudang pupuk bersubsidi. (Pupuk Indonesia)

Berdasarkan keterangan resmi Kementan yang dikutip Minggu (3/5/2026), saat ini sebagian besar petani di Thailand mulai enggan menanam akibat lonjakan harga pupuk. Sementara Vietnam menghadapi tekanan terhadap ekspor beras karena terganggunya pasokan dari China dan kawasan Teluk.

Krisis pupuk global juga memperlihatkan kerentanan negara-negara di kawasan. Vietnam yang memasok hampir 80 persen kebutuhan beras Filipina mengimpor lebih dari 480 ribu ton pupuk dari China pada kuartal pertama 2026 sehingga larangan ekspor China berpotensi mengganggu rantai pasoknya.

Filipina yang bergantung pada China untuk 75 persen kebutuhan pupuk juga tidak memiliki penyangga domestik yang kuat.

Sementara itu, Thailand memperoleh sekitar seperlima pupuknya dari China dan 32 persen dari kawasan Teluk yang kini terganggu. Kondisi itu mendorong sebagian petani menunda tanam karena tingginya biaya produksi.

2. Kementan sebut posisi Indonesia tetap kokoh

Ilustrasi sawah
Ilustrasi sawah. (Dok. Kementan)

Menurut Kementan, di tengah kondisi tersebut, Indonesia berada pada posisi lebih kokoh karena didukung diversifikasi pasokan, penguatan produksi domestik, dan konsistensi kebijakan subsidi.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan, Presiden Prabowo Subianto menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen. Kebijakan itu telah berlaku sejak 22 Oktober 2025.

“Presiden Prabowo sejak awal sudah membaca bahwa dunia sedang menuju periode yang tidak stabil. Beliau memerintahkan kami untuk tidak menunggu krisis datang, tapi menjemputnya dengan kebijakan,” kata Amran.

3. Mentan klaim Indonesia tahan hadapi ancaman El Nino

Ilustrasi sawah. (dok. Kementan)
Ilustrasi sawah. (dok. Kementan)

Amran juga mengklaim ketahanan pangan Indonesia tetap kokoh di tengah ancaman El Nino dan ketidakpastian global yang melanda banyak negara.

Dia mengatakan, cadangan beras pemerintah saat ini telah melampaui 5 juta ton yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah, memberikan bantalan yang kuat untuk menjamin ketersediaan pangan nasional dalam berbagai skenario tekanan, baik dari gangguan iklim maupun gejolak rantai pasokan global.

Menurut dia, capaian itu merupakan hasil langsung dari kebijakan produksi yang konsisten, termasuk program pompanisasi, perluasan areal tanam, dan penguatan penyerapan gabah petani oleh Bulog.

Dia mengatakan, dengan stok sebesar itu, Indonesia tidak hanya mampu menjaga stabilitas harga pangan di dalam negeri, tetapi juga memiliki posisi yang lebih kuat dibandingkan negara-negara tetangga yang kini berjuang menghadapi tekanan produksi akibat krisis pupuk dan anomali cuaca.

“Inilah buah nyata dari ketepatan visi dan keberanian Presiden Prabowo dalam mengambil keputusan tepat untuk kepentingan petani nasional,” ucap Amran.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Related Articles

See More