Ilustrasi ekspor-impor (Pixabay)
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Bank Dunia merekomendasikan tiga reformasi kelembagaan utama. Pertama, membentuk mekanisme koordinasi logistik tingkat tinggi yang permanen dengan mandat yang jelas dan bersifat lintas sektor.
Kedua, memperluas pendekatan berbasis risiko dan manfaat bagi pelaku usaha terpercaya (trusted trader) di luar sektor kepabeanan guna menyederhanakan proses logistik dari hulu hingga hilir.
Ketiga, melakukan rasionalisasi perizinan impor untuk mengurangi hambatan non-tarif yang saat ini diperkirakan mencapai 60% hingga 130% terhadap barang setengah jadi dan barang modal.
Selain itu, Bank Dunia juga menekankan pentingnya percepatan digitalisasi sektor logistik melalui integrasi dokumen digital, sistem pelacakan kargo, manajemen risiko otomatis, serta pertukaran data antarinstansi. Langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi logistik nasional secara signifikan.