Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bank Dunia: Kelas Menengah RI Masih Tertekan meski Lapangan Kerja Naik

Bank Dunia: Kelas Menengah RI Masih Tertekan meski Lapangan Kerja Naik
ilustrasi mencari iklan lowongan kerja (freepik.com/rawpixel.com)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Bank Dunia menilai meski pengangguran turun menjadi 4,9 persen, hampir separuh pekerjaan baru justru muncul di sektor berproduktivitas rendah seperti pertanian dan jasa makanan.
  • Tingkat setengah pengangguran meningkat hingga 32,7 persen pada 2025, menunjukkan banyak pekerja belum mendapatkan jam kerja sesuai keinginan mereka.
  • Kelas menengah Indonesia makin tertekan karena upah riil turun 1–2 persen per tahun sejak 2018 dan proporsi pendapatan kelas menengah merosot dari 14,5 persen menjadi sekitar 7 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Bank Dunia (World Bank) memperingatkan kondisi kelas menengah Indonesia yang masih menghadapi tekanan meski pasar tenaga kerja menunjukkan perbaikan.

Persoalan utama bukan lagi pada jumlah lapangan kerja yang tercipta, melainkan kualitas pekerjaan yang dinilai masih menjadi masalah struktural. Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026,

1. Hampir separuh pekerjaan baru berasal dari sektor berproduktivitas rendah

Logo World Bank (www.worldbank.org)
Logo World Bank (www.worldbank.org)

Bank Dunia mencatat sebanyak 1,9 juta lapangan kerja baru tercipta pada periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,9 persen.

Namun, hampir separuh dari lapangan kerja baru tersebut berasal dari sektor-sektor dengan produktivitas rendah, seperti pertanian serta akomodasi dan jasa makanan.

"Hampir separuh dari lapangan kerja baru tersebut berasal dari sektor-sektor dengan tingkat produktivitas lebih rendah seperti pertanian dan akomodasi/jasa makanan. Di sisi lain, sektor-sektor berketerampilan tinggi seperti jasa keuangan justru stagnan atau mengalami kontraksi," tulis Bank Dunia dalam laporannya, Sabtu (13/6/2026).

2. Sepertiga pekerja RI masih terjebak setengah pengangguran

(Ilustrasi pengangguran di jobfair) IDN Times/Muhamad Iqbal
(Ilustrasi pengangguran di jobfair) IDN Times/Muhamad Iqbal

Bank Dunia juga menyoroti meningkatnya tingkat setengah pengangguran (underemployment), yakni pekerja yang bekerja lebih sedikit dari jam kerja yang diinginkan. Angkanya terus meningkat sejak 2022 dan mencapai 32,7 persen pada 2025.

"Kondisi ini menunjukkan adanya kelemahan mendasar dari sisi tas pekerjaan," tulis Bank Dunia.

3. Kelas menengah kian tergerus

ilustrasi pengangguran (Freepik.com/gntfreepik)
ilustrasi pengangguran (Freepik.com/gntfreepik)

Selain itu, upah riil pekerja berketerampilan menengah dan tinggi tercatat menurun sekitar 1 persen–2 persen per tahun sejak 2018. Tekanan tersebut turut memengaruhi kemampuan kelompok kelas menengah untuk mempertahankan status ekonominya.

Bank Dunia mencatat proporsi pekerja yang memperoleh pendapatan setara kelas menengah turun signifikan dari 14,5 persenpada 2018 menjadi sekitar 7 persen pada 2025.

Menurut Bank Dunia, minimnya penciptaan lapangan kerja formal dengan upah yang memadai serta penurunan upah riil telah mendorong sebagian masyarakat kelas menengah turun ke kelompok rentan atau menuju kelas menengah.

"Tren ini menggarisbawahi adanya ketidaksesuaian struktural dalam perekonomian, di mana lapangan kerja baru terus tercipta, tetapi jumlah pekerjaan produktif dan berupah tinggi yang dibutuhkan untuk mendukung mobilitas sosial dan memperluas kelas menengah masih belum memadai," tulis Bank Dunia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More