Bapanas: Surplus Produksi Beras terhadap Konsumsi Capai 3,79 Juta Ton

- Indonesia mencatat surplus produksi beras 3,79 juta ton pada semester I-2026, dengan total produksi 19,27 juta ton dan konsumsi nasional 15,48 juta ton.
- Pemerintah melalui Bulog telah menyerap 3,3 juta ton beras dari produksi dalam negeri untuk menjaga harga gabah di tingkat petani pada HPP Rp6.500 per kilogram.
- Mentan Amran memastikan stok beras nasional kuat menghadapi musim kering, sementara NTPP Juni 2026 mencapai 114,65 sebagai bukti kesejahteraan petani tetap terjaga.
Jakarta, IDN Times - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan, Indonesia mencatat surplus produksi beras terhadap kebutuhan konsumsi beras nasional sepanjang semester I-2026. Jumlahnya diperkirakan mencapai 3,79 juta ton.
Sejalan dengan itu, pemerintah melakukan langkah intensif yang tepat untuk menyerap setara beras produksi dalam negeri untuk menjaga harga di tingkat petani padi.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah telah memberikan jaring pengaman harga bagi petani. Itu berupa kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) minimal Rp6.500 per kilogram (kg) yang dijalankan melalui Perum Bulog.
"Caranya adalah kebijakan harga pangan di tingkat petani. Harga gabah kita jaga Rp6.500. Harganya sudah dinaikkan. HPP pemerintah yang membuat petani bahagia, itu Rp6.500 per kilo," kata dia dalam keterangannya, dikutip Minggu (5/7/2026).
1. Total produksi beras

Total produksi beras pada kuartal I-2026 atau Januari-Maret mencapai 9,63 juta ton. Sedangkan kebutuhan konsumsi pada periode yang sama sebanyak 7,76 juta ton.
Artinya terdapat surplus 1,86 juta ton, sedangkan total penyerapan setara beras oleh Bulog pada periode tersebut 1,46 juta ton, sehingga menyisakan 400,8 ribu ton yang dapat diserap swasta untuk tambahan stok.
Sementara pada kuartal II-2026, total produksi beras diperkirakan mencapai 9,64 juta ton. Jumlah ini melebihi kebutuhan konsumsi beras April-Juni sebanyak 7,72 juta ton.
Dengan demikian, surplus produksi terhadap konsumsi sekitar 1,92 juta ton, dan Bulog telah menyerap setara beras hingga 1,83 juta ton dari April hingga Juni tahun ini.
Secara keseluruhan, total produksi beras selama semester I-2026 atau Januari-Juni diperkirakan dapat mencapai 19,27 juta ton. Adapun kebutuhan konsumsi beras Januari-Juni 15,48 juta ton, sehingga surplus produksi terhadap konsumsi Januari-Juni sekitar 3,79 juta ton.
2. Realisasi penyerapan

Dengan surplus 3,79 juta ton, sementara realisasi penyerapan setara beras dari produksi dalam negeri yang dilaksanakan Bulog selama enam bulan pertama tahun ini telah mencapai 3,3 juta ton, maka ada surplus 483,9 ribu ton yang dapat diserap swasta untuk tambahan stok mereka.
Mentan Amran mengatakan, kondisi gabah dan beras nasional saat ini patut dijaga demi menjaga semangat petani padi Indonesia. Pemerintah tidak ingin terjadi demotivasi pada petani padi dalam negeri akibat harga yang kurang ideal.
"Orang tertentu meneriakkan mahal, dia tidak melihat negara lain. Kenapa? Karena kalau ini mahal (lalu) kita turunkan, petani (bisa sampai) berhenti tanam. Tiba-tiba berhenti petani tanam karena demotivasi karena petani rugi. (Kalau) petani berhenti tanam, kita (malah harus) impor seperti tahun 2023 dan 2024 (sampai) 7 juta ton," tutur Amran.
3. Indonesia siap hadapi musim kering

Mentan Amran juga memastikan pangan Indonesia telah bersiap menghadapi musim kekeringan di tahun ini. Stok beras nasional, termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) berada di posisi yang sangat kuat.
"Kalau bulan Agustus sampai September, memang musim kering. Juni itu awal musim kering. (Lalu) Juli dan Agustus, karena kami tahu, karena harian kami ikuti curah hujan. Jadi insyaallah pangan kita aman, terutama beras," ujarnya.
Bukti komitmen pemerintah dalam menjaga petani pangan, yakni Nilai Tukar Petani Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) sampai Juni 2026 masih terjaga positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat NTPP Juni 2026 mencapai 114,65 atau naik 0,86 dari bulan sebelumnya. NTPP 114,75 menjadi yang tertinggi tahun ini, dan tertinggi sejak Maret 2024.
Adapun kenaikan NTPP dipengaruhi meningkatnya indeks harga yang diterima petani, terutama pada kelompok padi yang naik 1,13 persen dan kelompok palawija (jagung dan ketela pohon) yang meningkat 1,05 persen. Selain itu, indeks harga yang diterima petani padi hingga Juni 2026 mencapai 149,65 atau tertinggi dalam 7 tahun terakhir.




















![[QUIZ] Di Umur Berapa Kamu akan Menjadi Miliarder? Cek di Quiz Ini!](https://image.idntimes.com/post/20220713/fromandroid-ce0d4472c42654a331fe783d6c694d5b.jpg)
