Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Dampak Inflasi terhadap Instrumen Investasi, Wajib Tahu!

4 Dampak Inflasi terhadap Instrumen Investasi, Wajib Tahu!
ilustrasi saham (pexels.com/AlphaTradeZone)
Intinya Sih
  • Inflasi menurunkan daya beli dan bisa menggerus hasil investasi jika tidak dikelola dengan strategi yang tepat dalam penyusunan portofolio.
  • Instrumen seperti deposito, saham, dan obligasi memiliki risiko berbeda terhadap inflasi, terutama terkait imbal hasil riil dan nilai pasar.
  • Emas serta aset riil sering dijadikan pelindung nilai karena cenderung stabil saat inflasi meningkat, membantu menjaga keseimbangan portofolio.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum pada periode waktu yang bisa mengurangi daya beli masyarakat. Pada konteks investasi, inflasi sebetulnya merupakan faktor penting karena bisa mempengaruhi nilai riil dari keuntungan yang nantinya diperoleh para investor.

Jika tidak dikelola dengan strategi yang tepat, maka risiko inflasi bisa menggerus hasil investasi, sehingga membuat pertumbuhan aset pun tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup yang dialami. Oleh sebab itu, ketahuilah beberapa dampak inflasi berikut ini terhadap instrumen investasi populer agar bisa membantu menyusun portofolio yang lebih tahan terhadap berbagai gejolak ekonomi.

1. Dampak inflasi terhadap deposito dan tabungan

ilustrasi deposito (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi deposito (pexels.com/Pixabay)

Instrumen seperti deposito dan tabungan biasanya akan memberikan imbal hasil yang relatif lebih stabil, namun kerap kali lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi yang ada. Pada saat inflasi lebih tinggi daripada bunga yang diterima, maka nilai riil dana yang disimpan pun akan rentan mengalami adanya penurunan.

Pada kondisi inflasi yang tinggi, maka daya beli dari uang yang disimpan di bank pun bisa berkurang secara perlahan. Hal ini akan membuat instrumen yang berbasis pada bunga tetap harus dipertimbangkan secara hati-hati sebagai bagian dari strategi likuiditas, bukan semata-mata untuk pertumbuhan nilai saja.

2. Dampak inflasi terhadap saham

ilustrasi saham
ilustrasi saham (pexels.com/Jakub Zerdzicki)

Saham bisa saja terdampak langsung pada inflasi, namun tergantung pada sektor dan kemampuan perusahaan dalam menyesuaikan harga produknya. Perusahaan yang mampu dalam meneruskan kenaikan biaya pada konsumen biasanya akan lebih tahan terhadap adanya tekanan inflasi.

Inflasi yang tinggi bisa meningkatkan biaya operasional dan juga menekan margin keuntungan dari perusahaan. Kondisi inilah yang dapat mempengaruhi kinerja saham di pasar, terutama apabila daya beli konsumen relatif mengalami pelemahan.

3. Dampak inflasi terhadap obligasi

ilustrasi obligasi (unsplash.com/Piotr Łaskawski)
ilustrasi obligasi (unsplash.com/Piotr Łaskawski)

Obligasi dengan kupon tetap cenderung kurang menguntungkan ketika inflasi mengalami peningkatan karena memang nilai pembayaran bunganya menjadi kurang menarik secara riil. Para investor mungkin akan menuntut timbal hasil yang jauh lebih tinggi, sehingga harga obligasi yang ada di pasar sekunder pun bisa saja mengalami penurunan.

Kenaikan suku bunga yang kerap menyertai inflasi juga turut menekan harga obligasi yang telah diterbitkan sebelumnya. Tidak heran apabila investor harus memahami risiko suku bunga pada saat memilih instrumen pendapatan tetap agar tidak mengalami kerugian.

4. Dampak inflasi terhadap emas dan aset riil

ilustrasi emas (pexels.com/Michael Steinberg)
ilustrasi emas (pexels.com/Michael Steinberg)

Emas dan aset riil kerap dianggap sebagai lindung nilai terhadap risiko inflasi karena memang nilainya akan selalu mengikuti kenaikan harga jangka panjang. Pada saat mata uang mengalami Pelemahan akibat inflasi, justru permintaan terhadap emas akan meningkat sebagai bentuk perlindungan nilai yang ada.

Pergerakan harga emas tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti kondisi global dan sentimen pasar. Meski demikian, emas dapat menjadi salah satu opsi diversifikasi untuk tetap memastikan stabilitas portofolio ketika tekanan inflasi mulai mengalami peningkatan.

Inflasi memiliki dampak yang berbeda pada setiap instrumen investasi, sehingga pemahaman yang baik menjadi kunci penting dalam menyusun portofolio dan strategi keuangan. Dengan mempertimbangkan berbagai karakteristik dari masing-masing instrumen, maka investor bisa meminimalisir risiko dan menjaga nilai aset. Jangan sampai potensi keuntungan dari investasi tergerus akibat inflasi.

FAQ Dampak Inflasi terhadap Instrumen Investasi

Apa itu inflasi dan mengapa penting bagi investor?

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode waktu. Inflasi penting bagi investor karena dapat mengurangi daya beli dan nilai riil hasil investasi.

Bagaimana inflasi memengaruhi hasil investasi secara umum?

Jika tingkat inflasi lebih tinggi dari imbal hasil investasi, maka investor sebenarnya mengalami kerugian secara riil, meskipun secara nominal terlihat untung.

Apakah emas efektif sebagai lindung nilai terhadap inflasi?

Emas sering dianggap sebagai instrumen lindung nilai (hedging) karena nilainya relatif stabil dalam jangka panjang dan tidak tergerus inflasi seperti uang tunai.

Bagaimana inflasi memengaruhi deposito dan tabungan?

Deposito dan tabungan paling rentan terhadap inflasi. Jika bunga lebih rendah dari inflasi, maka nilai uang yang disimpan menyusut secara riil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More