Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pasar Tenaga Kerja Menguat, Mayoritas Profesional Belum Puas dengan Gaji

Pasar Tenaga Kerja Menguat, Mayoritas Profesional Belum Puas dengan Gaji
Ilustrasi proses rekrutmen kerja (pexels.com/Sora Shimazaki)
Intinya Sih
  • Aktivitas pasar tenaga kerja Indonesia meningkat pasca Lebaran, namun mayoritas profesional masih belum puas dengan gaji dan tunjangan yang ditawarkan perusahaan.
  • Proses rekrutmen menjadi lebih selektif dan kompleks karena kandidat serta perusahaan sama-sama mencari kecocokan antara kompensasi, stabilitas, dan peran jangka panjang.
  • Pemanfaatan teknologi AI dalam melamar kerja meningkat hingga 56 persen secara global, menambah volume lamaran dan menuntut perusahaan memperketat proses seleksi kandidat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pasca periode Lebaran, aktivitas pasar tenaga kerja di Indonesia kembali meningkat dengan semakin banyak profesional yang mulai aktif mencari peluang baru. Namun, temuan terbaru dari Robert Walters Indonesia Salary Survey 2026 menunjukkan, ekspektasi kandidat masih belum sepenuhnya sejalan dengan penawaran perusahaan.

Hampir 60 persen profesional menyatakan, gaji dan tunjangan yang ditawarkan belum memenuhi ekspektasi mereka, sedangkan 44 persen menyebut stabilitas perusahaan dan industri sebagai pertimbangan utama dalam mengevaluasi peluang kerja baru.

"Pasar bukan kekurangan peluang, melainkan keselarasan. Kandidat semakin spesifik terhadap apa yang mereka inginkan, sedangkan perusahaan juga semakin selektif dalam proses rekrutmen. Hal ini membuat proses perekrutan menjadi lebih panjang dan ketidaksesuaian lebih sering terjadi," ujar Country Head Indonesia & Vietnam Robert Walters, Eric Mary dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Selasa (14/4/2026).

1. Peningkatan aktivitas pasar kerja tidak selaras dengan proses rekrutmen

Ilustrasi proses rekrutmen kerja (pexels.com/Sora Shimazaki)
Ilustrasi proses rekrutmen kerja (pexels.com/Sora Shimazaki)

Eric menambahkan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas pasar kerja tidak selalu diikuti dengan proses rekrutmen atau perpindahan kerja yang lebih mulus.

"Baik kandidat maupun perusahaan kini menghadapi proses pencarian kecocokan yang lebih selektif dan kompleks," kata dia.

2. Faktor keberhasilan mendapatkan pekerjaan baru

ilustrasi bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/RDNE Stock project)

Seiring dengan meningkatnya jumlah kandidat di pasar tenaga kerja pasca meningkatnya tren pengunduran diri setelah menerima Tunjangan Hari Raya (THR), proses mendapatkan pekerjaan baru tidak hanya bergantung pada kemampuan profesional dan perusahaan.

"Keberhasilan dalam mendapatkan pekerjaan baru semakin bergantung pada kemampuan untuk menyeimbangkan kompensasi dengan stabilitas jangka panjang serta kecocokan peran," kata Eric.

3. Pemanfaatan teknologi AI

ilustrasi AI
ilustrasi AI (pexels.com/Sanket Mishra)

Pada saat yang sama, perubahan perilaku dalam mencari kerja turut menambah kompleksitas. Kandidat kini semakin memanfaatkan teknologi Akal Imitasi (AI) untuk mengeksplorasi peluang dan melamar pekerjaan dalam skala besar, yang berkontribusi pada meningkatnya volume lamaran.

Di tingkat global, temuan baru dari Robert Walters Talent Trends 2026 menunjukkan bahwa 56 persen profesional kini menggunakan AI dalam proses melamar kerja.

"Meskipun hal ini meningkatkan akses terhadap peluang,perusahaan perlu memberikan perhatian lebih pada proses seleksi dan penilaian untuk mengidentifikasi kandidat yang paling sesuai," kata Eric.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More