Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dolar Jatuh ke Level Terendah dalam 3 Bulan, Apa yang Terjadi?
Ilustrasi dolar AS (freepik.com)
  • Dolar AS melemah ke level terendah tiga bulan terhadap euro setelah Treasury berencana setidaknya menggandakan pembelian kembali obligasi pemerintah bertenor panjang.
  • Yield Treasury 30 tahun sempat mencapai level tertinggi sejak 2007, dipicu kekhawatiran fiskal, penerbitan utang besar, risiko geopolitik Iran, dan ketidakpastian kebijakan Federal Reserve.
  • Euro, poundsterling, yen, dan Bitcoin menguat di tengah tekanan dolar; investor menunggu pidato Ketua The Fed Kevin Warsh serta pertemuan kebijakan BOJ pada September.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pergerakan pasar valuta asing kembali menjadi sorotan ketika dolar AS mengalami tekanan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan pemerintah dan prospek fiskal Amerika Serikat. Investor kini tidak hanya mencermati arah suku bunga Federal Reserve, tetapi juga dampak kebijakan Treasury terhadap imbal hasil obligasi pemerintah AS dan kepercayaan terhadap dolar.

Tekanan tersebut muncul ketika Treasury AS berencana memperluas program pembelian kembali obligasi pemerintah bertenor panjang. Kebijakan ini awalnya ditujukan untuk membantu menekan imbal hasil obligasi, tetapi pasar justru mulai mempertanyakan apakah langkah tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang AS.

1. Dolar melemah ke level terendah tiga bulan

Ilustrasi inflasi (freepik.com)

Dolar AS turun ke level terendah dalam tiga bulan terhadap euro pada Jumat. Pelemahan tersebut terjadi setelah muncul kekhawatiran bahwa rencana Treasury untuk meningkatkan pembelian kembali surat utang pemerintah bertenor panjang justru dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap dolar.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa pemerintah masih mempertimbangkan kemungkinan untuk kembali meningkatkan pembelian Treasury. Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Departemen Keuangan mengejutkan pasar dengan rencana setidaknya menggandakan nilai pembelian kembali obligasi bertenor panjang.

Langkah tersebut dirancang untuk membantu mengendalikan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Namun, investor justru melihat adanya risiko lain, terutama karena kebijakan tersebut dapat membuat kekhawatiran mengenai kondisi fiskal AS semakin tercermin melalui nilai tukar dolar.

2. Imbal hasil obligasi jangka panjang melonjak

Ilustrasi portofolio investasi (freepik.com)

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang mengalami kenaikan signifikan sepanjang pekan ini. Yield Treasury 30 tahun bahkan sempat mencapai level tertinggi sejak 2007.

Sejumlah faktor menjadi perhatian investor, mulai dari memburuknya prospek fiskal AS, besarnya penerbitan utang pemerintah, risiko geopolitik akibat perang dengan Iran, hingga ketidakpastian mengenai arah kebijakan Federal Reserve.

Para analis menilai bahwa upaya menekan yield obligasi tidak serta-merta menghilangkan kekhawatiran fiskal. Sebaliknya, tekanan tersebut berpotensi berpindah ke pasar mata uang. Terlebih lagi, strategi Treasury sejauh ini belum sepenuhnya mencapai tujuan utamanya karena yield kembali bergerak naik.

Marc Chandler, chief market strategist di Bannockburn Global Forex, mengatakan bahwa upaya Bessent untuk menekan yield AS sejauh ini belum memberikan hasil yang berarti terhadap obligasi, tetapi justru memberikan tekanan terhadap dolar. Menurutnya, pasar mulai menunjukkan penolakan terhadap strategi tersebut.

3. Euro dan poundsterling menguat

Ilustrasi euro (magnific.com)

Indeks dolar AS, yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama seperti euro dan yen, naik tipis 0,01 persen menjadi 98,80. Namun, euro menguat 0,03 persen ke sekitar 1,1682 dolar setelah sebelumnya menyentuh 1,1711, level dolar tertinggi sejak 14 Mei.

Poundsterling juga mencatat penguatan sebesar 0,15 persen menjadi 1,3649 dolar. Mata uang Inggris tersebut bahkan sempat mencapai 1,3675 dolar, level tertinggi sejak 11 Februari.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap dolar mulai menjadi perhatian investor, terutama ketika prospek kebijakan ekonomi dan fiskal AS semakin tidak pasti.

4. Bitcoin kembali menguat

Ilustrasi bitcoin (freepik.com)

Di tengah pelemahan dolar, Bitcoin justru melanjutkan kenaikannya. Mata uang kripto terbesar tersebut terakhir tercatat naik 6,22 persen ke sekitar 77.178 dolar, setelah sebelumnya menyentuh 79.455 dolar, level tertinggi sejak 15 Mei.

Bitcoin kerap dipandang oleh sebagian investor sebagai alternatif terhadap mata uang fiat. Karena itu, pergerakannya juga menjadi perhatian ketika sentimen terhadap mata uang konvensional mengalami perubahan.

5. Fokus investor beralih ke Federal Reserve

Gedung Federal Reserve (instagram.com/federalreserveboard)

Perhatian pasar berikutnya akan tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium bank sentral di Jackson Hole pada Jumat berikutnya.

Warsh sebelumnya membuat pasar gelisah setelah pertemuan The Fed pada Juli karena memberikan sedikit petunjuk mengenai bagaimana para pembuat kebijakan akan merespons tekanan inflasi yang masih bertahan. Pada pertemuan tersebut, The Fed yang terpecah mempertahankan suku bunga.

Analis TD Securities menilai risiko terhadap dolar menjelang pidato tersebut cenderung sedikit mengarah ke sisi negatif. Jika Warsh memberikan penjelasan yang lebih hawkish mengenai kredibilitas kebijakan inflasi, dukungan terhadap dolar kemungkinan hanya terbatas. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak mendapatkan penjelasan yang meyakinkan, dolar berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar.

Saat ini, perdagangan futures Fed funds menunjukkan bahwa pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 40 persen, sementara peluang tersebut meningkat menjadi 72 persen untuk Desember.

6. Yen menguat setelah data inflasi Jepang

Ilustrasi yen (magnific.com)

Di sisi lain, yen Jepang menguat tipis 0,02 persen menjadi 159,01 per dolar setelah data menunjukkan inflasi konsumen inti Jepang meningkat pada Juli. Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa Bank of Japan atau BOJ memiliki alasan lebih besar untuk menaikkan suku bunga.

Sebelumnya, otoritas AS dan Jepang turut menopang yen melalui intervensi bersama. Namun, investor memperkirakan mata uang Jepang masih berpotensi kembali melemah apabila BOJ tidak memperketat kebijakan moneternya.

Roosevelt Bowman, senior investment strategist di Bernstein Private Wealth, menilai yen masih memiliki peluang untuk menguat, tetapi pergerakannya tidak akan berjalan satu arah. Menurutnya, jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi Jepang terus menunjukkan perbaikan, kebijakan BOJ yang lebih tegas dalam merespons tekanan inflasi dapat membantu memperkuat yen.

Kenaikan suku bunga biasanya memberikan dukungan terhadap mata uang karena dapat meningkatkan daya tarik aset dalam denominasi mata uang tersebut. Investor kini menantikan pertemuan kebijakan BOJ berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada 17–18 September.

7. Dolar menghadapi ujian baru

Ilustrasi inflasi (magnific.com)

Pelemahan dolar kali ini menunjukkan bahwa arah mata uang AS semakin dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, bukan hanya kebijakan suku bunga Federal Reserve. Kondisi fiskal pemerintah, kenaikan yield obligasi jangka panjang, risiko geopolitik, serta strategi Treasury semuanya ikut menentukan bagaimana investor memandang dolar.

Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan sangat bergantung pada bagaimana Treasury menangani imbal hasil obligasi dan bagaimana Federal Reserve memberikan sinyal mengenai arah suku bunga berikutnya. Jika yield terus meningkat sementara kekhawatiran fiskal tidak mereda, tekanan terhadap dolar dapat berlanjut.

Bagi investor, situasi ini menjadi pengingat bahwa pasar mata uang sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi. Bahkan kebijakan yang dirancang untuk menenangkan pasar obligasi dapat menimbulkan konsekuensi berbeda di pasar valuta asing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article