Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Frugal Habit Boomer Amerika Serikat yang Bisa Ditiru
Ilustrasi tidak punya uang (pexels.com/@olly)
  • Survei CNBC dan SurveyMonkey mencatat 70% warga AS khawatir keamanan finansial, sementara 58% hidup dari gaji ke gaji di tengah tekanan inflasi.
  • Kebiasaan hemat yang disorot meliputi memanfaatkan kupon digital, membuat hadiah sendiri, serta menanam bahan masakan di rumah untuk menekan pengeluaran rutin.
  • Artikel juga menganjurkan memperbaiki barang sebelum membeli baru dan lebih sering memasak atau mengambil pesanan sendiri guna menghindari biaya tambahan layanan antar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, banyak orang mulai mencari cara sederhana untuk menghemat pengeluaran tanpa harus mengorbankan terlalu banyak kenyamanan. Harga makanan, kebutuhan rumah tangga, hingga layanan sehari-hari semakin mudah menguras dompet. Tidak mengherankan jika semakin banyak orang merasa perlu kembali memikirkan cara mereka menggunakan uang.

Survei global yang dilakukan CNBC dan SurveyMonkey menunjukkan bahwa 70% masyarakat Amerika merasa khawatir terhadap keamanan finansial mereka, sementara 58% orang dewasa di AS mengaku hidup dari satu gaji ke gaji berikutnya. Salah satu sumber tekanan finansial terbesar yang mereka rasakan adalah inflasi.

Di tengah kondisi tersebut, generasi muda sebenarnya bisa belajar dari kebiasaan generasi baby boomer yang dikenal lebih terbiasa hidup hemat. Salah satu prinsip yang masih sangat relevan hingga sekarang adalah memilih melakukan sesuatu sendiri daripada membayar mahal untuk kenyamanan.

Kebiasaan ini bukan berarti harus hidup serba kekurangan. Justru, dengan sedikit usaha dan perencanaan, beberapa aktivitas yang biasanya dianggap praktis dan membutuhkan biaya tambahan dapat dilakukan sendiri dengan harga yang jauh lebih murah.

Berikut lima kebiasaan hemat ala baby boomer yang bisa diterapkan untuk mengurangi pengeluaran.

sumber: https://www.gobankingrates.com/saving-money/savings-advice/frugal-habits-boomer-americans-never-gave-up-why-they-work/

1. Manfaatkan kupon dan diskon

Ilustrasi kupon diskon (freepik.com)

Jika pernah melihat seseorang di antrean kasir supermarket mengeluarkan setumpuk kupon sebelum membayar, kemungkinan besar mereka bukan sekadar memperlambat antrean. Bisa jadi, mereka memang sedang berusaha memangkas tagihan belanja sebanyak mungkin.

Generasi baby boomer tumbuh ketika kupon diskon masih banyak dipotong dari brosur atau koran. Kebiasaan tersebut mungkin terlihat kuno, tetapi prinsipnya masih sangat relevan: jangan membayar harga penuh jika ada cara untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

Menurut studi CouponFollow mengenai kebiasaan belanja konsumen, rumah tangga di Amerika Serikat dapat menghemat hampir 1.500 dolar AS per tahun untuk makanan, pakaian, kebutuhan rumah tangga, dan hiburan dengan memanfaatkan kupon. Penghematan tersebut dapat menurunkan biaya rumah tangga sekitar 6,4 persen.

Bedanya, kamu tidak perlu lagi membawa gunting dan koran ke supermarket. Banyak kupon kini tersedia secara digital dan dapat langsung diakses melalui smartphone.

Untuk pembaca di Indonesia, prinsip yang sama dapat diterapkan dengan memanfaatkan voucher marketplace, promo e-commerce, cashback, loyalty points, hingga promo pembayaran digital. Kuncinya adalah menggunakan diskon untuk barang yang memang dibutuhkan, bukan justru membeli sesuatu hanya karena sedang promo.

2. Buat hadiah sendiri

Ilustrasi memberi hadiah (freepik.com)

Ketika ulang tahun, hari raya, atau momen spesial tiba, pilihan paling mudah biasanya adalah membuka marketplace dan membeli hadiah yang sudah jadi. Memang praktis, tetapi kemudahan tersebut sering kali datang dengan biaya tambahan. Selain harga barang, kamu mungkin harus membayar ongkos kirim, biaya layanan, atau bahkan berlangganan layanan tertentu untuk mendapatkan pengiriman gratis.

Generasi baby boomer yang terbiasa hidup hemat memiliki alternatif sederhana: membuat hadiah sendiri. Tidak perlu menjadi seorang pengrajin profesional. Hadiah buatan sendiri bisa berupa makanan atau kue yang dibuat di rumah, pakaian rajutan, selimut bayi, scrapbook, lukisan, atau berbagai kerajinan sederhana lainnya.

Selain berpotensi lebih murah, hadiah handmade juga memiliki nilai personal yang tidak selalu bisa ditemukan pada barang produksi massal. Bahkan, beberapa barang buatan tangan dapat menjadi kenang-kenangan keluarga yang disimpan selama bertahun-tahun. Dan tentu saja, ada satu bonus lainnya: kamu tidak perlu khawatir hadiah tersebut kehabisan stok di marketplace.

3. Terapkan konsep Farm-to-Table dari rumah

Ilustrasi belanja bumbu dapur (freepik.com)

Harga bahan makanan menjadi salah satu pengeluaran yang cukup terasa bagi banyak rumah tangga. Salah satu cara yang dilakukan orang-orang yang terbiasa hidup hemat adalah menanam sebagian bahan makanan sendiri. Tidak perlu memiliki halaman belakang yang luas untuk memulai. Tanaman tertentu dapat ditanam di pot, teras, atau bahkan balkon apartemen.

Mulailah dari tanaman yang mudah dirawat dan sering digunakan dalam masakan sehari-hari. Dengan menanam sendiri, kamu tidak hanya berpotensi mengurangi pengeluaran untuk bahan makanan tertentu, tetapi juga mendapatkan produk yang lebih segar. Konsep ini pada dasarnya sederhana: daripada selalu membeli dari toko, mengapa tidak memproduksi sebagian kebutuhan sendiri?

Bagi yang memiliki ruang terbatas, kebun kecil berisi cabai, daun bawang, tomat, atau berbagai tanaman herbal sudah bisa menjadi langkah awal. Memang penghematannya mungkin tidak langsung terasa besar, tetapi jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan kecil tersebut dapat membantu mengurangi frekuensi membeli bahan tertentu.

4. Perbaiki barang rumah tangga, jangan langsung membeli baru

Ilustrasi barang rusak (freepik.com)

Ketika peralatan rumah tangga rusak setelah masa garansinya berakhir, respons yang paling umum saat ini adalah mencari penggantinya. Padahal, tidak semua kerusakan berarti barang tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi.

Beberapa peralatan hanya mengalami kerusakan pada satu komponen yang sebenarnya dapat diganti. Jika kamu mengetahui model atau nomor komponennya, informasi tersebut dapat dicari secara online untuk mengetahui apakah suku cadangnya masih tersedia.

Untuk kerusakan sederhana, kamu mungkin bisa memperbaikinya sendiri. Jika tidak memiliki kemampuan teknis, menggunakan jasa teknisi atau handyman juga masih dapat menjadi pilihan yang lebih murah dibandingkan membeli barang baru. Kebiasaan memperbaiki barang sebelum menggantinya inilah yang sudah lama dilakukan oleh orang-orang yang terbiasa berhemat.

Selain menghemat uang, memperpanjang usia barang juga berarti mengurangi jumlah barang yang berakhir menjadi limbah. Jadi, sebelum memasukkan barang rusak ke dalam daftar belanja baru, coba tanyakan terlebih dahulu: “Apakah ini benar-benar harus diganti?”

5. Masak sendiri daripada terlalu sering memesan makanan

Ilustrasi makanan siap masak (freepik.com)

Layanan pesan-antar makanan memang membuat kehidupan jauh lebih praktis. Hanya dengan beberapa kali menekan layar smartphone, makanan dari restoran favorit bisa tiba di depan pintu.

Masalahnya, kenyamanan tersebut memiliki harga.

Industri layanan pesan-antar makanan online bernilai sekitar 242 miliar dolar AS dan diperkirakan dapat tumbuh menjadi lebih dari 746 miliar dolar AS pada 2033, menurut Global Newswire. Sementara itu, data Empower menunjukkan bahwa konsumen dapat menghabiskan sekitar 41,10 dolar AS hingga 1.028,50 dolar AS per bulan untuk aplikasi pesan-antar makanan.

Biaya tersebut tidak hanya berasal dari harga makanannya. Ada biaya layanan, ongkos pengiriman, biaya pesanan minimum, tip, hingga kemungkinan biaya tambahan dari metode pembayaran.

Aplikasi pesan-antar bahan makanan juga dapat mengenakan biaya layanan dan, dalam beberapa kasus, harga produk yang lebih tinggi dibandingkan ketika berbelanja langsung. Karena itu, salah satu kebiasaan hemat yang masih relevan adalah kembali memasak lebih banyak makanan di rumah.

Jika bekerja sepanjang minggu dan tidak punya banyak waktu untuk memasak setiap hari, kamu bisa menggunakan beberapa jam di akhir pekan untuk menyiapkan makanan untuk beberapa hari ke depan. Makanan dapat disimpan dalam wadah dan dipanaskan kembali ketika dibutuhkan.

Ketika sedang ingin makan makanan restoran favorit, kamu juga tidak harus sepenuhnya menghindarinya. Salah satu cara mengurangi biaya adalah mengambil makanan langsung dari restoran jika memungkinkan, sehingga kamu tidak perlu membayar berbagai biaya tambahan dari layanan delivery.

Hemat tidak selalu berarti mengorbankan kenyamanan

Ilustrasi uang (freepik.com)

Kebiasaan hidup hemat sering kali dianggap identik dengan mengatakan “tidak” pada berbagai hal yang menyenangkan. Padahal, berhemat sebenarnya lebih berkaitan dengan memahami kapan kenyamanan layak dibayar dan kapan kamu bisa melakukan sesuatu sendiri.

Menggunakan kupon, membuat hadiah sendiri, menanam bahan makanan, memperbaiki barang yang rusak, dan memasak di rumah mungkin terdengar seperti kebiasaan sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi pengeluaran yang terus berulang.

Generasi baby boomer mungkin tidak tumbuh dengan aplikasi cashback, marketplace, layanan pesan-antar, atau dompet digital seperti yang tersedia sekarang. Tetapi prinsip finansial yang mereka gunakan masih relevan: gunakan apa yang sudah dimiliki, lakukan sendiri jika memungkinkan, dan jangan membayar lebih hanya demi kenyamanan.

Di tengah biaya hidup yang semakin tinggi, mungkin bukan soal kembali hidup seperti puluhan tahun lalu. Yang lebih penting adalah mengambil kebiasaan baik dari masa lalu dan menyesuaikannya dengan kehidupan modern. Dengan begitu, berhemat tidak harus terasa seperti kehilangan kenyamanan, tetapi menjadi cara untuk memastikan lebih banyak uang tetap berada di dompet.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article