Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Indonesia-Hong Kong Perkuat Kerja Sama Keuangan Syariah di Pasar Global
Focus Group Discussion (FGD) antara Indonesia dan Hong Kong di IFG Progress, Graha CIMB Niaga, Jakarta.(Dokumentasi Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia)
  • Indonesia dan Hong Kong menjajaki kerja sama strategis memperkuat keuangan syariah global, memanfaatkan posisi Hong Kong sebagai pusat keuangan dunia untuk memperkenalkan produk syariah Indonesia ke pasar internasional.
  • Forum menyoroti pentingnya riset, koordinasi pengawasan, serta kesiapan infrastruktur dan literasi investor guna meningkatkan kepercayaan dan daya saing pasar modal syariah Indonesia di tingkat global.
  • PEBS FEB UI dan HKSFPA berencana mengembangkan Islamic Finance Course di Hong Kong untuk memperdalam pemahaman praktisi terhadap regulasi dan operasional keuangan syariah lintas negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Indonesia dan Hong Kong menjajaki penguatan kerja sama strategis di bidang keuangan syariah, membidik momentum pertumbuhan aset keuangan syariah global yang diproyeksikan mencapai 9,7 triliun dolar Amerika Serikat pada 2029. Peluang ini dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI (PEBS FEB UI) bersama IFG Progress di Graha CIMB Niaga, Jakarta, beberapa waktu lalu.

FGD mempertemukan regulator, pelaku industri, akademisi, dan komunitas pasar keuangan dari kedua negara. Hadir dari Indonesia antara lain perwakilan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), KNEKS, dan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI). Dari Hong Kong, forum dihadiri Chairman Hong Kong Securities & Futures Professionals Association (HKSFPA) Mofiz Chan dan Direktur Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) Horasis Lung.

1. Hong Kong jadi pintu masuk Indonesia perkenalkan produk syariah

Senior Research Associate IFG Progress, Ibrahim Kholilul Rohman (Dokumentasi Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia)

Hong Kong, sebagai pusat keuangan dunia, dianggap berperan sentral karena bisa menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan instrumen keuangan syariah Indonesia ke pasar global. Para peserta mendorong pemanfaatan posisi Hong Kong sebagai pusat keuangan internasional untuk memperkenalkan sukuk, green sukuk, Islamic ESG funds, dan berbagai produk investasi syariah Indonesia kepada investor dunia.

Indonesia sebenarnya sudah memiliki fondasi pasar modal syariah yang kuat. OJK mencatat per Desember 2025 terdapat 688 saham syariah, 258 reksa dana syariah dengan Nilai Aktiva Bersih Rp83,44 triliun, dan sukuk korporasi outstanding senilai Rp88,21 triliun. Namun, Indonesia masih perlu memperdalam pasar, memperluas basis investor, dan meningkatkan likuiditas.

"Bagi IFG Progress, penguatan pemahaman terhadap industri keuangan syariah merupakan agenda yang sangat strategis. Hal ini sejalan dengan peran IFG Group yang memiliki keterlibatan signifikan dalam industri asuransi, penjaminan, dan pasar modal Indonesia," ujar Senior Research Associate IFG, Ibrahim Kholilul Rohman, kepada IDN Times.

2. Perlu riset dan kepastian iklim usaha

Focus Group Discussion (FGD) antara Indonesia dan Hong Kong di IFG Progress, Graha CIMB Niaga, Jakarta.(Dokumentasi Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia)

Koordinasi pengawasan, pertukaran informasi, perlindungan investor, dan kesiapan infrastruktur pasar dinilai krusial untuk meningkatkan kepercayaan investor global. Sementara, dari sisi industri, APEI menekankan pentingnya kesiapan perusahaan efek, penguatan kapasitas profesional, dan peningkatan literasi investor terhadap karakteristik pasar modal syariah Indonesia. Kemudian, HKTDC menegaskan peran Hong Kong sebagai penghubung perdagangan dan investasi internasional yang dapat membuka ruang dialog lebih luas antara komunitas bisnis kedua negara.

"Melalui berbagai kajian, riset, dan kemitraan internasional, IFG Progress terus aktif mengidentifikasi peluang pengembangan keuangan syariah yang mampu memperluas inklusi keuangan, memperkuat ketahanan sektor keuangan nasional, serta menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan," kata Ibrahim.

3. Penjajakan pengembangan Islamic Finance Course di Hong Kong

Sebagai tindak lanjut konkret, PEBS FEB UI dan HKSFPA menjajaki pengembangan Islamic Finance Course di Hong Kong untuk memperkuat pemahaman praktisi keuangan terhadap model operasional, kerangka regulasi, dan struktur produk keuangan syariah. Inisiatif ini sekaligus memperluas peran akademisi dalam mendukung konektivitas ekonomi syariah lintas negara.

PEBS FEB UI dan IFG Progress berharap kerja sama kedua pihak terus diperkuat melalui pengembangan instrumen keuangan syariah, perluasan akses investor global, serta penguatan konektivitas dengan pusat keuangan internasional. Momentum ini dinilai strategis mengingat aset keuangan syariah global telah mencapai 5,98 triliun dolar AS pada 2024 dan terus tumbuh pesat.

"Kami optimistis, dalam satu hingga dua tahun ke depan, hasil dari berbagai inisiatif dan kolaborasi ini akan mulai terwujud dalam bentuk produk, layanan, serta instrumen keuangan syariah yang semakin inovatif, kompetitif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pada akhirnya, manfaat tersebut diharapkan dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim, dalam mendukung aktivitas ekonomi dan meningkatkan ketahanan finansial di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global," kata Ibrahim.

Editorial Team

Related Article