SMF Bukukan Laba Bersih Rp391 M di Semester I 2026, Naik 34 Persen

- SMF mencatat laba bersih Rp391 miliar pada semester I 2026, naik 34 persen dari tahun sebelumnya berkat pertumbuhan pendapatan yang mencapai Rp1,70 triliun.
- Total aset SMF per Juni 2026 mencapai Rp68,29 triliun dengan ekuitas tumbuh 34,65 persen dan rasio NPL net tetap terjaga di level 0,00 persen.
- Sejak berdiri hingga Juni 2026, SMF telah menyalurkan pembiayaan Rp141,61 triliun untuk memperkuat likuiditas lembaga keuangan penyalur KPR serta mendukung program KPR FLPP.
Jakarta, IDN Times - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF membukukan laba bersih sebesar Rp391 miliar pada semester I 2026. Realisasi tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp292 miliar.
Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo mengatakan, kenaikan laba didorong oleh pertumbuhan pendapatan perseroan. Hingga Juni 2026, pendapatan SMF mencapai Rp1,70 triliun, naik 6,25 persen secara tahunan dari Rp1,60 triliun pada Juni 2025.
"Laba bersih kami pada semester pertama mencapai Rp391 miliar, naik dari Rp292 miliar pada semester pertama tahun lalu atau bertambah sekitar Rp100 miliar. Target laba bersih hingga akhir tahun sebesar Rp598 miliar. Apakah akan tercapai? Insyaallah," ujar Ananta dalam konferensi pers kinerja semester I 2026 di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
1. Total aset SMF per Juni capai Rp68,29 triliun

Lebih rinci, sisi neraca, total aset SMF per Juni 2026 mencapai Rp68,29 triliun, meningkat 21,79 persen dibandingkan posisi Juni 2025 yang sebesar Rp56,07 triliun.
Sementara itu, liabilitas naik 14,23 persen secara tahunan menjadi Rp40,35 triliun, sedangkan ekuitas tumbuh 34,65 persen menjadi Rp27,95 triliun.
2. Kualitas aset dipastikan masih terjaga

SMF juga mencatatkan return on equity (ROE) sebesar 3,18 persen, debt to equity ratio (DER) sebesar 1,75 kali, serta profit margin sebesar 22,89 persen. Adapun kualitas aset tetap terjaga dengan rasio nonperforming loan (NPL) net sebesar 0,00 persen.
Menurutnya, yang terpenting adalah menjaga kualitas aset secara prudent dan mempertahankan peringkat (rating).
"Sebagai BUMN yang menjadi instrumen fiskal pemerintah, kredibilitas adalah aset utama," kata Ananta.
3. Sejak beridiri hingga Juni 2026, SMF sudah salurkan pembiayaan Rp141,61 triliun

Lebih lanjut, Ananta mengungkapkan, sejak berdiri hingga Juni 2026, SMF telah menyalurkan pembiayaan dengan nilai akumulasi mencapai Rp141,61 triliun. Khusus pada semester I 2026, penyaluran pembiayaan perseroan mencapai Rp14,09 triliun. Dana tersebut disalurkan kepada lembaga keuangan penyalur pembiayaan perumahan guna memperkuat kapasitas penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) kepada masyarakat.
"SMF terus berupaya memastikan tersedianya likuiditas jangka panjang bagi lembaga keuangan penyalur pembiayaan perumahan. Peran ini semakin penting karena pembiayaan perumahan memiliki tenor jangka panjang, sementara sumber pendanaan lembaga keuangan umumnya berjangka lebih pendek," jelasnya.
Selain menyalurkan pembiayaan, SMF juga menjalankan fungsi sebagai liquidity provider melalui sekuritisasi aset kredit perumahan. Hingga Juni 2026, perseroan telah memfasilitasi 17 transaksi sekuritisasi dengan nilai akumulasi mencapai Rp14,21 triliun.
SMF juga berperan menyediakan dana pendamping sebesar 25 persen dalam Program Kredit Pemilikan Rumah Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP). Pendanaan tersebut berasal dari skema blended finance yang mengombinasikan Penyertaan Modal Negara (PMN) dengan dana hasil penerbitan surat utang SMF.
Hingga Juni 2026, akumulasi PMN yang diterima SMF untuk mendukung program KPR FLPP mencapai Rp17,91 triliun. Dana tersebut kemudian dioptimalkan melalui pendanaan SMF sehingga menghasilkan total penyaluran pembiayaan sebesar Rp36,77 triliun, yang telah mendukung pembiayaan 962.650 unit rumah.





















