Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rupiah Keok Hari Ini, Konflik AS-Iran Bikin Investor Waswas

Rupiah Keok Hari Ini, Konflik AS-Iran Bikin Investor Waswas
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Rupiah ditutup melemah 29 poin ke level Rp17.917 per dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
  • Konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman blokade Laut Merah oleh Houthi, memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dan lonjakan biaya pengiriman global.
  • Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun 2026 meningkat tajam, membuat rupiah diproyeksi masih tertekan pada perdagangan Kamis mendatang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2026) sore.

Berdasarkan Bloomberg, rupiah ditutup melemah 29 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.917 per dolar AS. Posisi tersebut merosot dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.888 per dolar AS.

1. Konflik AS-Iran dan ancaman blokade Laut Merah makin panas

​Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan para pelaku pasar tengah mencermati meningkatnya bentrokan militer antara AS dan Iran. Pasukan AS melaporkan menyerang target militer Iran selama 11 malam berturut-turut, sementara Teheran membalas dengan menyerang posisi militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

"Selain itu, investor juga memantau gerakan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran setelah mengancam blokade angkatan laut yang memengaruhi pengiriman yang terkait dengan Saudi di Laut Merah," ujarnya.

​Investor memantau ancaman blokade Laut Merah oleh kelompok Houthi Yaman terhadap kapal terkait Arab Saudi, yang memaksa sejumlah tanker minyak mengubah rute. Konflik yang meluas hingga Selat Hormuz itu dikhawatirkan mengganggu pasokan minyak global serta melonjakkan biaya pengiriman dan asuransi.

2. Spekulasi kenaikan suku bunga The Fed melonjak tajam

​Menurut Ibrahim, ekspektasi bank sentral AS (The Fed) akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada tahun 2026 melonjak tajam. Hal itu didorong oleh tingginya harga minyak akibat gangguan pasokan di Teluk yang memicu kekhawatiran inflasi atau kenaikan harga barang, sekaligus memicu spekulasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer).

​Berdasarkan data Prime Terminal, terdapat probabilitas atau peluang sebesar 78 persen The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuannya minggu depan. Sementara itu, kemungkinan terjadinya kenaikan suku bunga pada bulan September mendatang berada di kisaran 68 persen.

"Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada tahun 2026 meningkat tajam," kata Ibrahim.

3. Kurs rupiah diproyeksi lanjut tertekan pada Kamis

​Ibrahim memaparkan, untuk perdagangan Kamis (23/7/2026), mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi kembali ditutup melemah pada kisaran rentang Rp17.920 hingga Rp18.970 per dolar AS.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More