Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Harga Saham Bisa Naik Turun? Ini Faktor yang Memengaruhinya
Ilustrasi penurunan nilai saham (freepik.com)
  • Harga saham bergerak mengikuti permintaan dan penawaran; minat beli yang melebihi tekanan jual mendorong harga naik, sedangkan penjualan lebih besar menekannya turun.
  • Laba perusahaan, EPS, rasio P/E, buyback, dividen, serta transaksi orang dalam dan institusi dapat memengaruhi valuasi, pasokan saham, dan keputusan investor.
  • Sentimen, rumor, laporan analis, inflasi, suku bunga, pertumbuhan ekonomi, tren industri, serta peristiwa global dapat memicu volatilitas; diversifikasi membantu mengelola risiko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pergerakan harga saham sering kali terlihat sulit diprediksi. Dalam satu hari, sebuah saham dapat melonjak karena kabar positif, lalu kembali turun hanya beberapa jam kemudian akibat perubahan sentimen investor. Meski terlihat rumit, mekanisme dasarnya sebenarnya cukup sederhana: harga saham bergerak mengikuti keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

Ketika jumlah investor yang ingin membeli lebih banyak daripada mereka yang ingin menjual, harga cenderung naik. Sebaliknya, jika tekanan jual lebih besar daripada minat beli, harga saham biasanya akan mengalami penurunan. Namun, keputusan investor untuk membeli atau menjual dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kinerja perusahaan hingga kondisi ekonomi global.

1. Bagaimana permintaan dan penawaran memengaruhi harga saham?

Ilustrasi pasar saham (freepik.com)

Dikutip dari GoBankingRates, saham merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Dalam perdagangan saham, pembeli menentukan harga tertinggi yang bersedia mereka bayarkan (bid), sementara penjual menentukan harga terendah yang mereka inginkan (ask). Selisih antara keduanya dikenal sebagai bid-ask spread.

Ketika permintaan pembeli lebih besar daripada jumlah saham yang tersedia untuk dijual, pembeli harus menawarkan harga lebih tinggi agar transaksi dapat terjadi.

Sebagai contoh:

  • Investor A ingin membeli di harga US$10,00.

  • Investor B menawarkan US$10,10.

  • Investor C menawarkan US$10,20.

  • Investor D ingin menjual di US$10,10 dan transaksinya terjadi dengan Investor B.

  • Investor E menjual di US$10,20 dan transaksinya terjadi dengan Investor C.

Karena pembeli terus bersedia membayar lebih tinggi, harga transaksi saham ikut terdorong naik.

2. Bagaimana laba perusahaan memengaruhi harga saham?

Ilustrasi pasar saham (freepik.com)

Dalam jangka panjang, kemampuan perusahaan menghasilkan laba merupakan salah satu faktor utama yang menentukan harga saham. Dua indikator yang penting diperhatikan adalah:

  • Earnings Per Share (EPS)

EPS menunjukkan besarnya laba perusahaan yang dihasilkan untuk setiap lembar saham. Perusahaan yang mampu meningkatkan laba secara konsisten biasanya lebih menarik bagi investor dan berpotensi memiliki valuasi yang lebih tinggi.

Misalnya, perusahaan yang mampu meningkatkan laba sekitar 17%-20% per tahun umumnya memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan perusahaan yang labanya stagnan atau terus menurun.

  • Price-to-Earnings Ratio (P/E)

Rasio P/E membandingkan harga saham dengan laba per saham perusahaan. P/E yang lebih rendah dibandingkan perusahaan sejenis dapat menjadi indikasi bahwa saham tersebut relatif murah.

Namun, P/E rendah tidak selalu berarti saham sedang murah. Rasio tersebut juga dapat mencerminkan bahwa investor memiliki kekhawatiran terhadap prospek perusahaan. Karena itu, P/E sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan.

3. Bagaimana sentimen pasar memengaruhi harga saham?

Ilustrasi mengamati pasar saham (freepik.com)

Kinerja perusahaan yang baik tidak selalu membuat harga saham naik dalam jangka pendek. Emosi dan persepsi investor juga dapat memberikan pengaruh besar.

Beberapa faktor yang sering memengaruhi sentimen antara lain:

  • Rumor: Informasi yang belum terkonfirmasi dapat memicu investor membeli atau menjual saham karena takut tertinggal dari pergerakan pasar.

  • Berita perusahaan: Penundaan produk, pergantian manajemen, atau kegagalan mencapai target laba dapat menurunkan kepercayaan investor.

  • Laporan analis: Rekomendasi upgrade atau downgrade dari analis sering kali memengaruhi keputusan investor dan pergerakan harga saham.

Sebelum bereaksi terhadap berita negatif, investor sebaiknya melihat apakah prospek laba perusahaan benar-benar berubah atau penurunan harga hanya disebabkan oleh kepanikan pasar.

Perhatikan pula apakah analis mengubah target harga setelah informasi tersebut muncul. Saham yang turun karena rumor tetapi kembali pulih setelah fakta terungkap dapat menunjukkan bahwa sentimen pasar lebih berpengaruh dibandingkan fundamental perusahaan.

4. Bagaimana kondisi ekonomi memengaruhi harga saham?

Ilustrasi inflasi (magnific.com)

Perubahan ekonomi secara keseluruhan juga dapat menggerakkan harga saham, bahkan pada perusahaan yang memiliki fundamental kuat.

  • Inflasi: Inflasi tinggi dapat meningkatkan biaya operasional dan menekan keuntungan perusahaan.

  • Suku bunga: Suku bunga tinggi membuat biaya pinjaman meningkat sekaligus membuat instrumen pendapatan tetap lebih menarik dibanding saham.

  • Pertumbuhan GDP: Pertumbuhan ekonomi yang kuat biasanya meningkatkan kepercayaan investor dan dapat mendorong permintaan terhadap saham.

  • Tren industri: Kinerja positif sejumlah perusahaan dalam satu sektor dapat membuat investor ikut memburu saham perusahaan lain yang bergerak di industri serupa.

5. Apa itu momentum investing?

Ilustrasi investasi (freepik.com)

Ada kalanya saham terus naik hanya karena sebelumnya sudah mengalami kenaikan. Kondisi ini dapat menciptakan siklus ketika semakin banyak investor membeli karena melihat tren positif.

Strategi tersebut dikenal sebagai momentum investing, yaitu membeli saham yang sedang mengalami kenaikan dengan harapan tren tersebut akan berlanjut.

Namun, strategi ini memiliki risiko tinggi karena investor pada dasarnya mencoba memanfaatkan pergerakan pasar. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengendalikan risiko adalah stop-loss order, yaitu instruksi otomatis untuk menjual saham ketika harganya mencapai batas tertentu.

Tentukan Batas Kerugian Sebelum Membeli

Investor sebaiknya menentukan batas keluar sebelum membeli saham, bukan ketika harga sudah mulai jatuh. Sebagian investor menggunakan batas sekitar 10-15 persen di bawah harga pembelian, meskipun angka yang tepat bergantung pada tingkat volatilitas masing-masing saham.

Tujuannya bukan untuk menghindari seluruh kerugian, melainkan mengurangi keputusan emosional ketika pasar sedang bergejolak.

6. Bagaimana aktivitas orang dalam dan institusi memengaruhi saham?

Ilustrasi seorang wanita memerhatikan pergerakan pasar saham (freepik.com)

Aktivitas investor besar dan orang dalam perusahaan juga dapat memberikan sinyal bagi pasar.

  • Pembelian oleh orang dalam: Ketika CEO, CFO, atau eksekutif lainnya membeli saham perusahaan menggunakan dana pribadi, sebagian investor menganggapnya sebagai sinyal positif karena mereka dinilai memahami prospek perusahaan dengan baik.

  • Aktivitas institusi: Perusahaan investasi, dana pensiun, dan institusi keuangan lainnya dapat melakukan transaksi dalam jumlah sangat besar. Aktivitas mereka dapat memberikan pengaruh langsung terhadap harga saham. Karena kepemilikan institusi juga dilaporkan secara publik, sebagian investor bahkan mencoba mengikuti pergerakan mereka.

7. Bagaimana buyback dan dividen memengaruhi harga saham?

Ilustrasi investasi (freepik.com)

Dua kebijakan perusahaan yang juga dapat memengaruhi harga saham adalah pembelian kembali saham (stock buyback) dan pembayaran dividen.

  • Stock Buyback

Ketika perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri dan menarik saham tersebut dari peredaran, jumlah saham yang tersedia di pasar berkurang. Jika permintaan tetap sama, berkurangnya pasokan dapat memberikan tekanan positif terhadap harga saham.

Buyback juga dapat meningkatkan EPS karena laba perusahaan kemudian dibagi ke jumlah saham yang lebih sedikit.

  • Dividen

Pembayaran dividen secara rutin dapat menarik investor yang berorientasi jangka panjang. Karena investor tersebut cenderung mempertahankan sahamnya lebih lama, tekanan jual dapat berkurang dan membantu menjaga stabilitas harga saham.

8. Bagaimana peristiwa global memengaruhi harga saham?

Ilustrasi resesi (freepik.com)

Peristiwa besar di luar perusahaan terkadang mampu mengalahkan pengaruh fundamental dalam jangka pendek. Krisis seperti pandemik COVID-19, perang, bencana alam besar, maupun perubahan regulasi secara tiba-tiba dapat memicu aksi jual secara luas. Dalam kondisi panik, harga saham bahkan dapat jatuh tanpa adanya perubahan signifikan pada kinerja perusahaan.

Sebaliknya, ketika investor memiliki tingkat optimisme yang tinggi, saham dapat diperdagangkan pada valuasi yang jauh lebih tinggi karena pasar mengantisipasi pertumbuhan di masa depan. Namun, sejumlah guncangan eksternal hanya bersifat sementara. Jika harga saham turun akibat kepanikan pasar tanpa adanya perubahan pada fundamental perusahaan, kondisi tersebut justru dapat menjadi peluang bagi investor dengan orientasi jangka panjang.

8. Bagaimana cara menghadapi volatilitas pasar saham?

Ilustrasi portofolio investasi (freepik.com)

Tidak ada satu faktor yang dapat secara akurat menentukan ke mana harga saham akan bergerak. Laba perusahaan, sentimen investor, data ekonomi, suku bunga, hingga peristiwa global dapat memengaruhi harga secara bersamaan.

Karena itu, salah satu cara yang dapat membantu mengelola risiko adalah diversifikasi. Memiliki saham dari berbagai sektor dan mengombinasikannya dengan kelas aset lain dapat mengurangi ketergantungan portofolio terhadap satu perusahaan atau satu kondisi pasar.

Harga saham pada dasarnya bergerak berdasarkan permintaan dan penawaran, tetapi faktor yang membentuk permintaan tersebut sangat beragam. Kinerja perusahaan, prospek laba, sentimen pasar, kondisi ekonomi, aktivitas investor institusi, hingga peristiwa global semuanya dapat memengaruhi keputusan investor.

Bagi investor, memahami berbagai faktor tersebut penting agar tidak mudah mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan harga atau berita yang sedang ramai. Pada akhirnya, pendekatan yang disiplin, riset yang menyeluruh, dan portofolio yang terdiversifikasi dapat membantu menghadapi volatilitas sekaligus menjaga fokus pada tujuan investasi jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article