4 Risiko Investasi yang Tidak Terlihat dari Grafik Harga

- Grafik harga hanya menunjukkan sebagian risiko investasi; inflasi dapat menggerus daya beli meski nilai nominal investasi naik.
- Risiko likuiditas membuat aset sulit dicairkan tanpa potongan harga saat dana dibutuhkan, meski nilainya terlihat tinggi di portofolio.
- Perubahan suku bunga dapat menekan harga obligasi, sementara konsentrasi pada aset atau sektor sama memperbesar dampak kerugian portofolio.
Take a Deeper Reads

Saat melihat aplikasi investasi, perhatian investor biasanya langsung tertuju pada grafik harga. Kalau grafiknya naik, investasi terlihat menguntungkan. Sebaliknya, grafik turun kerap dianggap rugi atau investasi tersebut sedang berisiko.
Padahal, grafik harga hanya menunjukkan sebagian kecil dari risiko investasi. Ada risiko lain yang tidak selalu terlihat dari pergerakan harga, tetapi bisa memengaruhi nilai uang dan keputusan investor. Dilansir Investor.gov, semua investasi memiliki tingkat risiko tertentu. Risiko tersebut tidak hanya berupa naik-turunnya harga, tetapi juga mencakup risiko inflasi, likuiditas, suku bunga, hingga kondisi perusahaan penerbit investasi.
1. Risiko inflasi bisa menggerus daya beli

ilustrasi uang kertas (Pexels.com/Ahsanjaya) Inflation risk terjadi ketika kenaikan harga barang dan jasa mengurangi daya beli hasil investasi. Risiko ini terutama perlu diperhatikan pada investasi yang memberikan tingkat imbal hasil tetap. Artinya, grafik investasi yang naik belum tentu menunjukkan bahwa kekayaan benar-benar bertambah secara riil.
Misalnya, investasi naik 4 persen, tetapi biaya hidup naik 5 persen. Kamu memang memiliki lebih banyak uang secara nominal. Namun, uang tersebut membeli lebih sedikit barang dibandingkan sebelumnya.
2. Investasi bisa sulit dicairkan saat uang sedang dibutuhkan

ilustrasi investasi (Pexels.com/kaboompics) Risiko berikutnya adalah likuiditas. Likuiditas menggambarkan seberapa mudah sebuah investasi dapat dijual atau dicairkan menjadi uang tunai tanpa mengalami penurunan harga yang signifikan. Investasi yang likuid dapat dijual dengan relatif mudah ketika uang dibutuhkan. Sebaliknya, investasi dengan likuiditas rendah bisa sulit dijual atau membuat investor harus menerima harga yang lebih rendah jika ingin segera mendapatkan uang.
Masalahnya, risiko ini tidak selalu terlihat dari grafik harga. Sebuah aset bisa saja terlihat memiliki nilai Rp100 juta. Namun, ketika kamu benar-benar membutuhkan uang dan ingin menjualnya segera, belum tentu ada pembeli yang bersedia membayar Rp100 juta. Dalam kondisi tertentu, kamu mungkin harus menunggu pembeli atau menurunkan harga agar transaksi terjadi. Karena itu, sebelum berinvestasi, jangan hanya melihat potensi keuntungan. Pertimbangkan juga faktor likuiditas.
3. Perubahan suku bunga bisa memengaruhi nilai investasi

ilustrasi rupiah (Pexels.com/Defrino Maasy) Risiko berikutnya adalah interest rate risk atau risiko perubahan suku bunga. Risiko ini sangat relevan pada investasi yang berkaitan dengan obligasi. Ketika suku bunga pasar berubah, harga obligasi yang sudah beredar dapat ikut berubah. Ketika suku bunga naik, obligasi lama dengan tingkat bunga yang lebih rendah menjadi kurang menarik dibandingkan obligasi baru. Akibatnya, harga obligasi lama dapat turun jika dijual sebelum jatuh tempo.
Jadi, perubahan suku bunga dapat memengaruhi nilai investasi meskipun kondisi perusahaan penerbitnya tidak berubah secara drastis. Risiko seperti ini juga menunjukkan bahwa harga investasi tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi aset itu sendiri. Faktor ekonomi yang lebih luas dapat ikut menentukan nilainya.
4. Investasi bisa bergantung terlalu besar pada satu aset atau perusahaan

ilustrasi investasi (Pexels.com/RDNE Stock project) Ada pula risiko yang tidak selalu terlihat jika kita hanya melihat satu grafik, yaitu concentration risk atau risiko konsentrasi. Misalnya, seseorang memiliki lima jenis investasi, tetapi semuanya sebenarnya bergantung pada sektor yang sama. Sekilas portofolionya terlihat beragam karena memiliki beberapa produk. Namun, jika semuanya bergerak mengikuti faktor ekonomi yang sama, kerugian pada satu sektor dapat berdampak pada sebagian besar portofolio.
Pada dasarnya diversifikasi adalah menyebarkan investasi ke berbagai aset dan investasi yang memiliki karakteristik risiko serta imbal hasil berbeda. Tujuannya tentu untuk mengurangi dampak jika salah satu investasi mengalami kerugian. Semakin banyak uang yang ditempatkan pada satu investasi atau satu kelompok aset, semakin besar concentration risk yang ditanggung investor.
Melihat grafik memang penting, tetapi grafik hanya menunjukkan apa yang terjadi pada harga. Investor juga perlu melihat apa yang berada di balik pergerakan tersebut. Di antaranya apakah nilai investasi tergerus inflasi, apakah aset mudah dicairkan, bagaimana perubahan suku bunga memengaruhinya, dan seberapa terkonsentrasi portofolio yang dimiliki.























