4 Strategi Warren Buffett untuk Mengurangi Risiko Investasi

- Warren Buffett menekankan investasi jangka panjang dengan memahami cara bisnis menghasilkan uang, pelanggan, keuntungan, dan daya tahannya, bukan mengikuti saham yang sedang ramai.
- Investor perlu memilih perusahaan berkualitas pada harga wajar dengan menilai pendapatan, laba, utang, arus kas, serta prospek bisnis; hindari membeli hanya karena popularitas.
- Buffett menyarankan tidak memakai utang untuk investasi, menggunakan dana setelah kebutuhan utama dan dana darurat, serta tetap tenang menghadapi volatilitas pasar selama bisnis tetap sehat.
Warren Buffett dikenal sebagai salah satu investor paling sukses di dunia dan telah membangun kekayaannya melalui investasi jangka panjang di berbagai perusahaan. Alih-alih mengejar saham yang sedang populer, Warren Buffett lebih fokus memahami bisnis, mencari perusahaan berkualitas, dan menjaga modal agar tidak mengalami kerugian besar. Prinsip tersebut telah ia bagikan selama puluhan tahun melalui surat dan berbagai pembahasan tentang investasi.
Prinsip Buffett sebenarnya cukup sederhana dan bisa dipahami investor pemula. Ia tidak berusaha menebak saham mana yang akan naik paling cepat, tetapi lebih dulu memastikan bahwa bisnis yang dibeli memang dipahami dan memiliki alasan yang kuat untuk dipertahankan. Dari pendekatan tersebut, ada beberapa strategi yang bisa kita pelajari untuk mengurangi risiko saat berinvestasi.
Table of Content
1. Investasikan uang pada bisnis yang kita pahami

ilustrasi seorang investor (freepik.com/pressfoto) Salah satu prinsip Warren Buffett adalah hanya berinvestasi pada bisnis yang benar-benar kita pahami. Artinya, sebelum membeli saham, kita perlu mengetahui perusahaan tersebut menghasilkan uang dari mana, siapa pelanggannya, bagaimana perusahaan memperoleh keuntungan, dan apa yang membuat bisnisnya tetap dibutuhkan. Cara ini membantu kita menghindari keputusan hanya karena saham sedang ramai dibicarakan atau harganya sedang naik.
Bagi investor pemula, prinsip ini bisa diterapkan dengan memulai dari perusahaan yang produknya atau jasanya sudah kita kenal. Setelah itu, kita tetap perlu melihat laporan keuangan dan perkembangan bisnisnya, bukan sekadar menggunakan pengalaman sebagai konsumen. Semakin kita memahami sebuah perusahaan, semakin mudah untuk menilai apakah penurunan harga saham merupakan masalah serius atau hanya perubahan sementara di pasar.
2. Pilih perusahaan berkualitas dengan harga yang masuk akal

ilustrasi investasi saham (pexels.com/RDNE Stock project) Warren Buffett tidak hanya mencari perusahaan yang bagus, tetapi juga memperhatikan harga yang harus dibayar untuk memilikinya. Perusahaan dengan bisnis kuat belum tentu menjadi investasi yang menarik jika harga sahamnya sudah terlalu mahal dibandingkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Karena itu, kita perlu membandingkan harga saham dengan kondisi bisnis dan prospek pertumbuhannya.
Pendekatan ini membantu kita menghindari keputusan membeli hanya karena sebuah perusahaan terkenal atau sedang populer. Kita dapat melihat pendapatan, keuntungan, utang, arus kas, serta kemampuan perusahaan mempertahankan keunggulannya. Jika kita membeli saham perusahaan yang bagus dengan harga yang wajar, risiko kerugian bisa lebih terkendali ketika kinerja perusahaan ternyata tidak sesuai harapan.
3. Jangan menggunakan utang untuk mengejar keuntungan

ilustrasi meminjam uang (magnific.com/rawpixel) Menggunakan utang untuk berinvestasi dapat membuat kerugian jauh lebih besar ketika harga bergerak turun. Warren Buffett dikenal sangat berhati-hati terhadap penggunaan utang karena kewajiban tersebut tetap harus dibayar meskipun investasi sedang mengalami penurunan. Risiko menjadi semakin berat ketika kita terpaksa menjual aset dalam kondisi pasar yang buruk hanya untuk memenuhi kewajiban.
Karena itu, investor pemula sebaiknya tidak menggunakan pinjaman untuk bisa memiliki investasi lebih banyak. Gunakan dana yang memang tersedia setelah kebutuhan utama dan pastikan memiliki dana darurat. Dengan cara tersebut, kita memiliki waktu untuk mengevaluasi kembali portofolio tanpa harus tertekan untuk membayar utang ketika harga saham turun.
4. Tetap tenang ketika pasar mulai bergejolak

ilustrasi pergerakan harga (unsplash.com/Maxim Hopman) Harga saham bisa naik atau turun dalam waktu singkat meskipun kondisi bisnis perusahaan tidak banyak berubah. Karena itu, Warren Buffett tidak menganggap perubahan harga sebagai alasan untuk langsung membeli atau menjual saat pasar sedang ramai. Ia lebih memilih menilai kondisi dan prospek bisnis perusahaan daripada mengambil keputusan berdasarkan pergerakan harga harian.
Bukan berarti kita harus mempertahankan saham selamanya. Kita dapat menjual saham jika bisnis perusahaan memburuk atau alasan investasi kita berubah. Sebaliknya, jika bisnisnya masih sehat, kita tidak perlu terburu-buru menjual hanya karena harga saham turun dalam beberapa hari. Sikap tenang seperti ini dapat membantu kita menghindari keputusan emosional yang justru menimbulkan kerugian.
Strategi dari Warren Buffett menunjukkan bahwa mengurangi risiko bukan berarti menghindari semua kemungkinan kerugian. Kita justru perlu memahami bisnis yang dibeli, membayar harga yang masuk akal, menghindari utang yang berlebihan, dan menjaga emosi ketika pasar bergerak tajam. Dengan pendekatan tersebut, kita dapat berinvestasi secara lebih disiplin tanpa harus selalu mengejar saham yang sedang populer.










![[QUIZ] Dari Kebiasaan saat Bekerja, Cek Karakter di Kartun Spongebob yang Mirip Denganmu](https://image.idntimes.com/post/20240625/img-2981-cae273e9ac29bf8e6dd9c631e437a1aa.png)










