di sinilah dirinya kini
pada lorong gelap nan sunyi
kuyup akan dosa yang bersembunyi
tak menyadari betapa doa telah jauh
dan bibirnya tak lagi mengeluh
meminta agar segala luka dan duka sembuh
rupanya kesombongan telah menggerayangi
tubuh rapuh yang dulu selalu meminta
hati sepi yang dulu selalu mendamba
kini seakan tak butuh uluran tangan
seolah hidup tak butuh Tuhan
ia pun tak lagi menengadahkan tangan
malam-malam sunyi penuh tangis
juga penuh kehangatan dari Tuhan
kini ia lewatkan seperti melewati rumah kosong
yang tak perlu dikunjungi lagi
ia lupa detak-detak yang menggelora
tiap kening disentuh Tuhan dengan kasih sayang
lalu tetes air mata menggenangi kerapuhannya
tangan Tuhan, pelukan mesra yang menenangkan
pertolongan yang terus berdatangan
semua sirna dan tak lagi diingat di kepala
ia telah kuyup oleh dosa yang terus bersembunyi
di antara ketaatan yang perlahan menanggalkan diri
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Antara Doa yang Jauh dan Dosa yang Menyembunyikan Diri
![[PUISI] Antara Doa yang Jauh dan Dosa yang Menyembunyikan Diri](https://image.idntimes.com/post/20260527/1000223095_45923baf-5f23-428d-96c3-4dce03c78f44.jpg)
ilustrasi orang hilang arah (pexels.com/Mohammad Ubaid)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha