Di sudut sunyi berdebu waktu,
Suara retak, persis kaca tak benar-benar pecah
Bergetar,
Menyimpan luka enggan jatuh

Mendengarnya,
Dari balik jeruji tak kasatmata,
Terbuat dari takut,
Ragu menetas diam-diam

Layaknya embun lupa cara jatuh ke Bumi
Suara itu adalah burung, sayapnya dilipat ironi
Paruhnya dibungkam kata tak adil
Matanya dipaksa percaya bahwa langit hanyalah lukisan di dinding sangkar