Dinding-dinding kapur ini saksi bisu jam-jam yang melambat,
saat malam turun, membawa sunyi yang kian terasa berat.
Di kamar sempit ini, aku tak lagi mendengar suara ayah yang berdeham,
atau langkah kaki ibu yang menyiapkan sarapan sebelum hari kelam.
Aroma masakan rumah yang biasanya memanggil di jam makan siang,
kini berganti wangi mie instan yang kian membosankan di kerongkongan.
Aku duduk sendiri, menatap layar ponsel yang memancarkan cahaya biru,
melihat foto-foto lama, tempat di mana hatiku sebenarnya menunggu.
Kadang, rindu ini datang seperti demam yang menjalar diam-diam,
membuatku ingin menangis, tapi tak punya bahu untuk disandarkan.
Aku menahan sesak saat menelepon rumah dan berkata "aku baik-baik saja",
padahal di balik pintu kost ini, aku sedang belajar menjadi dewasa di antara air mata.
Biarlah rindu ini menjadi pengingat mengapa aku jauh melangkah,
bahwa di balik lelah dan kesepian, ada mimpi yang tak boleh menyerah.
Aku sedang menabung rindu dan keberanian di tanah orang,
hingga nanti, saat tiket pulang adalah satu-satunya tujuan yang paling terang.
![[PUISI] Di Balik Pintu Kost](https://image.idntimes.com/post/20260614/pexels-narcissan-27408561_ad01bc60-8b6f-4444-8e11-525b457fe5b9.jpg)