Mereka menatapku dengan senyum penuh hormat
Kata-kata pujian datang berbaris dengan khidmat
Aku tersenyum meski dada terasa kian penat
Sebab keraguan diam-diam tumbuh di tempat yang rapat

Setiap pujian seperti lampu yang menyilaukan
Menyala terang, tetapi perlahan menjadi kurungan
Aku berdiri tegak di mata banyak orang
Sementara hatiku sibuk mencari ruang untuk pulang

Zona nyaman memelukku dengan tangan yang manis
Menawarkan tenang tanpa suara tangis
Aku tertawa pelan, saat hormat mulai sekarat
Di balik pujian yang perlahan menjerat

Akhirnya aku bertanya pada diri sendiri
Apakah ini hormat atau sekadar harapan yang mengikat tinggi
Aku ingin melangkah dengan arah yang kupilih sendiri
Tanpa tersangkut pujian yang diam-diam mencuri jati diri