Lelah mengayuh malam,
jemari ini kelu mengejar pekat,
mencari arti di antara riak yang tak kunjung reda.
Menatap langit yang enggan bicara,
sembari menerka-nerka hikmah di balik takdir.
Ada perih yang tak sempat terucap,
saat harapan patah di tengah jalan,
bahkan bunga layu sebelum mekar.
Meninggalkan wangi yang terkubur dalam-dalam,
tertutup rapi jadi rahasia semesta.
Namun perahu ini harus menepi.
Di batas lelah yang paling sunyi,
kulangitkan sebaris doa dalam senyap.
Hati yang berlabuh di tepian subuh,
menyambut terang dengan sisa-sisa pasrah.
![[PUISI] Lelah Paling Sunyi](https://image.idntimes.com/post/20260715/pexels-cara-denison-886614634-37016552_c85a78a8-0085-4b27-a822-e56b0377a38f.jpg)