Angka-angka di jam tangan mengelilingi kepalaku
Aku berdiri menatap dunia di balik kaca jendela itu
Memegangi besi seraya mengayunkan sepatu
Mata sipitku seolah berlari mencari yang tak tentu
Suara jarum jam, seketika terdengar sekeras batu
Suasana ramai di jalan raya sana melaju tak jemu
Di luar orang berlalu lalang, di dalam kutermangu
Mengkhayal namaku disapa dengan suara merdu
Nyatanya tanpa ragu, di sini aku hanya gigit kuku
Sang ramai masih menyapa di kedua telingaku
Kita bak mata saling bertemu, diskusi mulai beradu
Di sini aku tinggal separuh, kantuk menyelinap malu
Masih berdiri di depan jendela lusuh, tubuhku kian lesu
Masih dalam penantian menuju kereta tujuan pulangku
Menjemput aku yang sudah tabah menunggu dari dulu
![[PUISI] Menanti Dijemput Kereta](https://image.idntimes.com/post/20251115/1000001048_8ac0f7ac-c526-4fca-af6f-a3c568d63065.jpg)