Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Pamit yang Menghimpit
ilustrasi seseorang sedang bersiap untuk pergi ke suatu tempat (pexels.com/Andrew Neel)

Di ambang pintu aku berdiri terjepit
Kata pergi di bibir terasa sempit
Rumah memelukku dengan sunyi yang rumit
Sedang dadaku penuh pamit yang menghimpit

Di meja makan tersisa percakapan yang tertahan
Tatap mata dan doa menjelma pelan-pelan beban
Aku ingin menjelajah tanpa merasa kehilangan
Meski setiap langkah terasa seperti meninggalkan

Di sudut kamar, waktu menumpuk menjadi berat
Foto-foto lama menggantung bersama penat
Mimpiku berkemas diam-diam hendak berangkat
Namun hatiku masih terikat pada yang lekat

Malam mengajarkan bahwa tumbuh kadang berarti menjauh
Bahwa tidak semua cinta harus selalu berteduh
Ada jalan yang harus ditempuh meski membuat hati rapuh
Ada mimpi yang menunggu meski langkah terasa jatuh

Bila esok aku benar-benar melangkah pergi
Bukan karena cinta ini berhenti atau basi
Aku hanya ingin menyelamatkan diri sendiri
Agar suatu hari pulang sebagai versi terbaik diri

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team