Di ambang pintu aku berdiri terjepit
Kata pergi di bibir terasa sempit
Rumah memelukku dengan sunyi yang rumit
Sedang dadaku penuh pamit yang menghimpit
Di meja makan tersisa percakapan yang tertahan
Tatap mata dan doa menjelma pelan-pelan beban
Aku ingin menjelajah tanpa merasa kehilangan
Meski setiap langkah terasa seperti meninggalkan
Di sudut kamar, waktu menumpuk menjadi berat
Foto-foto lama menggantung bersama penat
Mimpiku berkemas diam-diam hendak berangkat
Namun hatiku masih terikat pada yang lekat
Malam mengajarkan bahwa tumbuh kadang berarti menjauh
Bahwa tidak semua cinta harus selalu berteduh
Ada jalan yang harus ditempuh meski membuat hati rapuh
Ada mimpi yang menunggu meski langkah terasa jatuh
Bila esok aku benar-benar melangkah pergi
Bukan karena cinta ini berhenti atau basi
Aku hanya ingin menyelamatkan diri sendiri
Agar suatu hari pulang sebagai versi terbaik diri
![[PUISI] Pamit yang Menghimpit](https://image.idntimes.com/post/20260611/pexels-andrew-7041534_270f0fa3-8aa5-4fcd-9327-5f6a486a2fc3.jpg)